Powered By Blogger

Tuesday, 10 December 2013

Malaikat pun memilih ‘Penjual Nasi Uduk’ untuk menyampaikan ilmu-Nya



Cikarang, 10 Desember 2013. Segarnya udara pagi yang masih bercampur dengan sisa-sisa uap air bekas hujan semalam memaksa aku untuk bangun lebih pagi dan sarapan pagi. Ditemani secangkir kopi hangat dan sisa-sisa biscuit yang sudah mulai berubah tampilan aslinya karena seharian kalengnya tak tertutup rapat akupun mulai menulis tentang ‘akar matematika’.
Sudah sekian lama aku menunggu malaikat-Mu untuk mengirim makrifat dari ilmu ‘akar matematika’. Hampir dua sampai tiga bulan aku mencari dan memikirkannya. Keanehan tersebut terjadi ketika aku sedang berdiam diri dengan sebuah kalkulator butut jaman SMA. Tak senga aku pencet-pencet semua angka dan berakhirlah dengan operasi akar matematika tersebut.
Awalnya aku hanya asal untuk memencet tombol angka yang ada di kalkulator, kemudian aku lanjutkan untuk memencet berkali-kali salah satu operasi hitung matematika yang ada yaitu ‘akar’. Kata ‘SubkhanaAllah’ akhirnya langsung terlontar seketika. Apa yang terjadi????
Yang terjadi ternyata angka akhir yang diperoleh adalah angka ‘1’ (satu). Kenapa hal tersebut terjadi?. Pertanyaan dan keingin tahuan itu semakin bertambah ketika aku coba lagi dengan kalkulator yang mempunyai deret angka lebih banyak ternyata hasilnya juga akan tetap angka satu.
Sudah hampir 2 sampai 3 bulan aku berusaha untuk mencari kenapa hal tersebut bisa terjadi dan ilmu apa yang dapat aku ambil dari peristiwa itu. Semua usaha untuk menemukan itu gagal, hingga akhirnya di pagi yang cerah ini aku mendapat bisikan dari malaikat Allah yang dilewatkan kepada ‘Ibu penjual nasi uduk’ tentang konsep rumit tadi.
Percakapan yang terjadi kira-kira seperti ini,
‘Mas, beli nasi uduknya nasinya satu apa setengah?’ Tanya si Ibu.
‘Setengah saja Bu’, Jawabku.
Setelah menjawab dengan sigapnya, otaku terasa ada yang menyambar untuk memantik kata-kata yang muncul itu, angka satu dan setengah.
Kebanyak orang pasti ingat konsep dasar dari operasi bilangan akar matematika. 


                Dari persamaan matematika tersebut dapat kita ungkap bahwa semua bilangan asli matematika jika kita kenai operasi hitung akar akan menghasilkan angka ‘satu’. Hal tersebut parallel dengan konsep ilmu kehidupan yaitu ‘ketika kau mencari Tuhan-Mu maka kenali dan pelajari lah dirimu hingga bagian yang paling terkecil dari tubuhmu, maka kamu akan menemukan siapa Tuhan-MU’.
Proses terus menerus dari proses ‘pengakaran’ suatu bilangan X mengakibatkan naiknya angka penyebut pada angka pangkat bilangan X.
Akar X artinya X pangkat ½. Jika angka hasilnya di akar lagi maka persamaannya menjadi X pangkat ¼, seterusnya akan menjadi menjadi angka tak terhingga. Jika angka satu di bagi dengan angka tak terhingg maka akan menghasilkan angka limit mendekai ‘0’. Semua angka jika dipangkatkan angka ‘0’ akan sama dengan ‘satu’.
Dari proses pemikiran tersebut, hal yang dapat kita petik adalah ‘semua hal yang ada di bumi ini pasti bertasbih dengan caranya masing masing, mungkin dengan cara itulah angka-angka yang kita kenal setiap hari selama ini bertasbih kepada-Nya. Tak ada batasan ruang dan waktu bagi mereka untuk selalu bertasbih mengagungkan arti dari angka SATU tersebut.  
Datangnya ilmu tidak selalu dari guru dari penjual nasi uduk pun ada ilmu yang bisa kita ambil.

Friday, 1 November 2013

Hanya Untuk Tuhanku

Kata-kata pertama yang ingin aku ucapkan untukmu Tuhan adalah ‘terimakasih’, karena Engkau telah mentakdirkan aku untuk keluar dari kota teristimewa di Indonesia yaitu Yogyakarta dan memindah hidupku ke pinggiran kota Jakarta yang sangat pengap akan asap industri dan sangat panas karena semua pohon-Mu sudah disulap oleh beberapa manusia yang mengaku dirinya sebagai pesulap alias pengusaha besar yang mengatas namakan sebagai peyambung cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia ini yaitu mensejahterakan seluruh masyarakat Indonesia dan ikut membangun perekonomian Bangsa.
Sekarang, Engkau jadikan aku seperti helaian daun yang jatuh dari ranting pohon yang hanyut di selokan industri. Aku hanya mampu pasrah dan terdiam mengikuti arus dan pekatnya bau kotoran selokan rumah tangga. Tak ada daya sedikitpun untukku mampu keluar dari arus yang tidak begitu deras ini. Kotor dan bau busuk telah berbaur dengan diriku. Bau busuk mulai menyengat saluran pernapasanku. Pusing mual dan lemas, itulah yang kurasakan saat ini. Aku hanya mampu terbujur kaku, membisu, menatap hampa ke semua makhluk-Mu yang terus menenerus memandangi aku dikejauhan sana. Aku yakin mereka tahu dan sadar akan keberadaanku, namun mereka hanya melihatku sepintas saja dan melanjutkan lagi kegiatan rutin mereka yaitu bekerja, bekerja dan bekerja.
Dari kejauhan, aku tetap mengamati semua kegiatan yang dilakukannya. Dari mulai Kau terbitkan cahaya matahari di Negeri ini hingga kau selimuti dengan gelapnya malam-Mu yang dihiasi dengan bintang-bintang, walaupun perhiasan tersebut kini sudah semakin langka karena cahayanya telah kami tutupi dengan terangnya lampu-lampu kota yang super megah.
Pagi hingga sore hari mereka gunakan untuk bekerja, malamnya untuk istirahat. Mmmm…bener juga sih. Tapi itulah perjalanan hidup. Kita tidak akan sadar ketika lingkungan yang mengajari dan mengubah pola fikir kita untuk menjadi salah satu mata rantai dari pola hidup ‘keduniawian’. Tak sadar akupun hanyut dalam aktivitas mereka hingga satu tahun lebih.
Dalam benakku sekarang adalah kebahagiaan akan tampak ketika kedudukan, jabatan, popularitas dan harta yang melimpah bercampur menjadi satu sehingga pujian dan kebanggaan akan muncul dengan sendirinya dari semua orang yang berada disekitarku. Harkat martabat akan lebih jauh tinggi dari orang lain.
Untuk mencapai semuanya itu aku belajar, belajar, dan belajar setiap hari dari semua orang yang ada di sekitarku. Dimulai dari mencari topeng kebaikan yang nantinya akan ku gunakan ketika menghadapi atasan hingga masker penutup mulut untuk membungkam semua kejujuran yang sebenarnya muncul dari setiap kagiatanku sehari hari. Semua jurus ku pelajari demi kedudukan serta gaji yang layak di kantorku sekarang.  
Tuhan, mungkin usaha-usaha itulah yang menjadikan aku semakin tenggelam ke dasar selokan industri. Tak kan ada yang tahu betapa kotornya diriku sekarang. Semua makhluk-Mu hanya mampu sebagai penonton saja, tidak akan ada yang mampu untuk mengambilku naik ke atas daratan yang lebih beradab, yang lebih segar karena udara-Mu, yang lebih indah karena kebebasan-Mu dan yang pasti akan lebih tenang karena akan lebih dekat dengan-Mu. Hanya Engkau lah Tuhan yang mampu melihatku terbujur kaku di selokan industri ini.
Sekarang awal bulan November, tepatnya tanggal 1 November 2013, itu artinya adalah deretan angka mata uangku di ATM pun akan bertambah. Ku ucapkan syukur yang sangat berlimpah kehadirat-Mu Tuhan Semesta Alam, Engkau telah mempercayaiku untuk menjaga sebagian kecil dari harta-Mu. Di tanggal ini pula aku ingin merayakan ulang tahun buku pertamaku yang ke-1 bulan, karena dari terciptanya buku itu aku menulis tulisan ini.
Aku tidak akan pernah tahu kapan buku itu mulai lenyap satu persatu. Yang jelas buku itu masih menumpuk dan terbungkus rapi di pojokan kamar kost yang sudah hampir satu tahun setengah, aku tempati.  Ku berharap banyak dari buku itu Tuhan, aku ingin menjadi orang terkenal, aku ingin menjadi seorang penulis, aku ingin menjadi orang yang lebih kaya dari sekarang.
Namun, apa yang terjadi Tuhan?, aku sekarang hanyalah seorang yang terombang ambing di antara sampah sampah yang Engkau tempatkan pada selokan industri itu. Aku hanya mampu untuk bermimpi, beranga-angan tinggi dan membual janji kesetiap orang-orang disekitarku. Aku malu Tuhan. Namu itulah kenyataannya. Pusingnya kerjaan kantor dan stress nya cita-cita membuatku lebih dalam lagi terhanyut dalam selokan industri itu. Badanku semakin bau busuk, hatiku semakin hitam pekat. Tak ada lagi cahaya bumi yang mampu menembusku hingga dasar selokan. Karena hatiku sudah tertutup oleh hitamnya lumpur yang terakumulasi di dasar selokan. Tak banyak yang bisa aku lakukan. Aku hanya mampu terdiam, merenungi nasibku sekarang. Tak tau kapan Kau akan angkat aku dari selokan ini dan Kau berikan semua angan-anganku.
Tuhan, terimakasih Engkau masih memberi ku waktu untuk bisa melewati tanggal satu November, dan Kau genapkan nikmat-Mu hidup ditanggal dua November.
Ditanggal dua November tahun ini yang bertepatan dengan hari libur alias aksi mogok kerja bagi semua buruh se-Indonesia. Akupun menikmatinya dengan secangkir kopi hitam, dua pisang goreng dan satu tahu sumedang. Wanginya kopi yang kuseduh pagi ini setia menemaniku untuk mengamati semua aksi buruh-buruh industri yang sedang berjuang untuk menuntut naiknya gaji dilayar televisi punya ibu kost.
Tak bertahan lama ku nikmati siaran siaran itu. Akhirnya ku ganti channel TV nya ibu kost dengan saluran anak-anak yaitu kartun sabtu pagi. Itu jauh lebih menyenangkan ketimbang melihat kelakuan kelakuan orang lain yang akan membuatku lebih tenggelam lagi di selokan ini.
Akupun mulai tertawa ketika melihat tayangan anak-anak tersebut dari mulai kartun hingga bukan kartun, dalam hati kecilku berkata ‘Terimakasih Tuhan, Engkau masih memberikan sedikit kebahagiaan di saat aku sedih melihat diriku sendiri yang sangat kotor’.
‘Terimakasih Tuhan’, itulah kalimat yang mampu aku ucapkan saat ini untuk membujuk-Mu agar Engkau angkat aku dari selokan ini.

Bersambung...

Tuesday, 11 June 2013

LingKaran dan Angka satu

Lingkaran adalah salah satu bidang ruang 2D. Dari semua bidang ruang yang ada yaitu persegi panjang, kubus, segi tiga dan lain-lain hanya lingkaranlah yang mengajarkan kita tentang kebersamaan. Satu titik kesetimbangan yang berada di tengah merupakan satu titik pusat dimana semua garis tepi dari lingkaran akan terpusat dan bersifat setimbang ketika semuanya menuju ke satu titik tengah tersebut. Tidak ada salah salah satu titik pun yang saling berebut untuk menjadi yang terdepan. Semuanya satu jalur dan saling beriringan untuk membentuk satu bidang yaitu LINGKARAN. Semua titik tepi lingkaran patuh terhadap satu titik pusat agar semuanya saling menenangkan. Satu titik tersebut adalah Tuhan Semesta Alam dan titip tepi itulah biasa kita sebut makhluk Tuhan (dalam hal ini adalah manusia). Keutuhan bidang tersebut biasa biasa dikenal dengan kesetaraan makhluk hidup.


Kesetaraan Manusia adalah Sama di mata Tuhan Semesta Alam

Wednesday, 13 March 2013

Hati Nurani Manusia


Pernahkah Anda menyadari bahwa setiap manusia yang diciptakan Tuhan Semesta Alam adalah manusia yang baik. Semua kebaikan Tuhan Semesta Alam di klaim pada saat ruh ditiupkan pertama kali disaat kita masih berada di dalam kandungan sang bunda. Kebaikan-kebaikan itu di taruh di dalam hati nurani. Keberadaannya akan terasa jikalau kita melakukan suatu pekerjaan namun pekerjaan itu tidak sesuai dengan tuntunan Tuhan Semesta Alam (yaitu Al-Quran) maka hati nurani kita pasti akan membatah dan menolak suatu perkara atau pekerjaan yang kita lakukan didunia. Efek dari hal itu adalah rasa khawatir yang berkepanjangan.
Oleh karena itulah, Tuhan Semesta Alam memberi contoh kita lewat Manusia Pilihannya untuk selalu mengingat-Nya setiap hari (minimal 5 ketetapan waktu yaitu solat). Dari pekerjaan itulah kita sebenarnya diharapkan untuk selalu kembali kepada hati nurani kita yang sesungguhnya yang telah Tuhan Semesta Alam ciptakan pada setiap manusia.
MENGAPA TUHAN SEMESTA ALAM selalu menguji Setiap Manusia?
                Jawabannya akan saling melengkapi jika mengingat bahwa Tuhan Semesta Alam telah menciptakan ‘SURGA & NERAKA’ serta ‘MALAIKAT & SYEITAN’. Tak akan mungkin Tuhan Semesta Alam menciptakan semuanya tanpa ada tujuan dan manfaatnya. Oleh sebab itulah Tuhan menciptakan manusia dengan akal pikirannya untuk mengenali hati nurani yang sesungguhnya Tuhan titipkan kepada kita.