Powered By Blogger
Showing posts with label filsafat. Show all posts
Showing posts with label filsafat. Show all posts

Saturday, 17 August 2019

Kenapa ketika sakit harus minum obat?


Bismillah...
Pada suatu ketika, sepulang saya dari solat berjamaah di masjid, saya mendengarkan percakapan yang sangat indah antara bapak dan anaknya. Keduanya berjalan terlebih dahulu daripada saya. Mmm…ya kira-kira 1 meter lah.
“Abi, tadi si fulan lagi sakit batuk”, kata si anak.
“Tapi katanya batuknya lama dan harus minum obatnya banyak bi”. Lanjut si anak.
“Inalillahi wa inailayhi rojiun, semoga si fulan cepet sembuh ya nak”, saut sang abi.
“Bi, kenapa si fulan harus minum obat banyak sih?, kan cuman batuk?” tanya si anak.
“Ooo, berarti si fulan ingin menunjukan keseriusan kepada Allah bahwa si fulan ingin disembuhkan dari batuknya”, jawab sang abi.
“Ooo, gitu ya Bi."
Mendengar percakapan tersebut, saya pun tersentak dan berfikir betapa tepat jawaban sang Abi kepada anaknya. Obat bukanlah sandaran suatu penyakit dapat disembuhkan, melaikan Allah lah yang Maha Penyembuh.
Obat adalah suatu perantara yang hanya diduga atau diperasangkakan secara scientific oleh manusia yang dapat membantu dalam hal penyembuhan suatu penyakit.
Manusia hanya mampu untuk mengamati dan mengkait-kaitkan beberapa fenomena disetiap tahapan suatu mekanisme obat. Para ilmuan akan meneliti dan menguji suatu senyawa, kemudian mencatat fenomena-fenomena yang terjadi disetiap pengujiannya. Setiap tahapan proses pengujian, akan menghasilkan suatu kesimpulan-kesimpulan sementara yang nantinya akan digabungkan menjadi satu kesimpulan tunggal yang menyatakan bahwa obat itulah yang berperan dalam suatu penyakit tertentu. Proses tersebut apa artinya?, coba kita renungkan lebih dalam.
Hal tersebut berartinya, manusia hanya mampu menerka potongan-potongan fenomena yang ada, tanpa melihat langsung proses suatu penyakit itu disembuhkan. Potongan-potongan scientific itulah yang kiranya InsyaAllah dinilai Allah sebagai ikhtiarnya manusia (scientist) didalam memohon untuk mencari pertolongan Allah didalam menyembuhkan suatu penyakit. Maka sangat masuk akal, ketika ada dua pasien, A & B, keduanya mengkonsumsi suatu obat, maka keduanya akan meraskan sembuh di waktu yang berbeda. Jika pola fikir kita bersandar pada “obat yang menyembuhkan pasien”, harusnya pasien A dan B sembuh di waktu dan jam yang sama. Adapun jawaban scientific yang membantah hal tersebut yaitu, kan kondisi tubuh A dan B berbeda, maka sangat masuk akal pula jika keduanya akan sembuh diwaktu yang berbeda.
"Namun Ingatkah kita, ketika kita merasakan sakit dan hanya perlu beristirahat?” dan "ingatlah pula ketika malam kita diperintahkan untuk beristirahat?”, 
dibalik ketidak tahuan kita terkadang Allah melihat keikhlasan kita didalam menjalankan perintah-Nya. Maka sembuhlah penyakit kita.
Oleh sebab itulah, mari ubah pola fikir kita untuk menyandarkan bahwa Allah lah yang Maha Memiliki Hak untuk Menyembuhkan Suatu Penyakit, manusia mempunyai tugas berikhtiar dan mengharapkan ridho Allah agar mengabulkan perasangka baik kita kepada Allah.

Sunday, 7 July 2019

Catatan Rindu Untuk Ayah & Ibu



Coba Kita Renungkan Apa yang Mereka Lakukan untuk Kita Pada Saat Kita Berumur,

1 s/d 3 bulan
(kita hanya mampu oek-oek)

6 bulan
(kita mulai belajar merangkak dan belajar makan)

1 tahun
(kita mulai belajar berjalan)

1 s/d 3 tahun
(ego kita mulai tumbuh)

7 tahun
(mulai masuk Sekolah Dasar)

13 tahun
(mulai masuk Sekolah Menengah Pertama)

16 tahun
(mulai masuk Sekolah Menengah Atas)

19 tahun
(mulai lah masuk Universitas)

20 th dst
(mulai belajar hidup mandiri dan banyak pemahaman-pemahaman baru yang terkadang memandang orang tua kitalah yang harus mengikuti zaman)

Apa yang keduanya lakukan untuk kita?
yang pasti mereka selalu dan tak akan pernah lupa untuk mengetuk pintu langit demi kita. Setiap kali pasti akan meminta kepada Allah yang terbaik bagi kita.

Namun kita sebagai anak, seringkali lupa bahkan lalai untuk membuat mereka tersenyum setiap hari.

Mari kita doakan ayah, ibu kita dan buat mereka tersenyum hingga Allah cukupkan nikmatnya di dunia ini dan kelak akan berkumpul kembali di surga. Amin

Monday, 1 July 2019

Jangan "TAKUT" kepada Allah


Pernahkah kita mendengar perkataan beberapa orang tua "Nak, takut itu ke Allah, bukan ke setan". Apakah bahkan kita sendiri yang pernah mengatakannya hal tersebut pada anak-anak kita? Sebenarnya tepat tidak ya kalau kita mengajarkan atau menanamkan pengertian seperti itu kepada anak-anak kita?. Coba kita telaah lagi dari sisi ayat-ayat Al-Qur'an pada surat Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah). Di surat tersebut Allah mengulang kata-kata "Fabiayyi aala'i rabbikuma tukazziban" sebanyak 31 kali. Dibalik kata-kata tersebut pasti kita sebagai manusia yang berakal diminta oleh Allah untuk berfikir tentang semua nikmat yang telah di berikan oleh kepada kita.


Dan pasti kita tidak akan mampu menghitung jumlah nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah. Maka dari itu kita sangatlah kikir, jika disetiap harinya kita lupa untuk bersyukur kepada Allah. Lalu apa hubungannya dengan kata-kata yang disebutkan di atas? (Nak, takut itu ke Allah, bukan ke setan). Tentu sangat erat sekali dengan perkataan tersebut, karena jika kita dalami lagi dengan melihat sifat-sifat terbaik Allah, maka kita akan tahu bahwa Allah itu sangat mencintai makhluk ciptaannya. Bahkan jika kita melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah maka Allah akan tetap memberikan nikmat-nikmat yang tidak akan pernah bisa kita hitung. Jadi, tidak akan sepadan jika kita menanamkan bahwa Allah itu menakutkan. Padahal Allah itu sangat mencintai kita. Maka, mari kita tingkatkan pengetahuan dan kelapangan hati untuk selalu bersyukur kepada Allah, sehingga kita MALU ketika kita lupa dan lalai kepada Allah. 

"Jangan Takut Kepada Allah, karena Allah Maha Menyayangi Kita"
"Malulah kepada Allah, karena Allah Selalu Menyayangi Kita"

Sunday, 23 June 2019

"Rahasia" Ilmuan Muslim


Sebagai salah satu negara dengan mayoritas penduduknya yang muslim tentu kita patut bersyukur bahwa negara Indonesia ini juga mempunyai banyak sekali ilmuan yang mempelajari fenomena - fenomena alam semesta. Namun pertanyaan yang mendasar yaitu kenapa karya para ilmuan muslim di negara ini belum seperti ilmuan-ilmuan muslim pada masa itu (masa dimana ilmu pengetahuan yang lahir di zaman kejayaan umat muslim). Pada zaman kejayaan islam, ilmu pengetahuan yang lahir dari ilmuan muslim menjadi rujukan semua ilmuan dunia bahkan menjadi aset penting suatu negara yang menjadikan kebaikan dan kemakmuran bagi semua penduduk negara tersebut. 
Jika kita amati lebih mendalam, para ilmuan muslim sebagian besar adalah penghafal Al-Qur'an. Terus apa hubungannya?, saya pun mencoba untuk menebak dan mencari tahu. Bagaimana sih kira - kira keterkainnya antara Al-Qur'an dan ilmu pengetahuan. Setelah diamati dan ditelusuri ternyata hal yang paling kecil saja, seperti 'membaca ayat - ayat dalam Al-Qur'an' dapat dijadikan contoh dan diterapkan oleh para ilmuan muslim pada masa itu untuk mempelajari sistematika research. Pertanyaan selanjutnya adalah "Loh, apa hubungannya antara membaca ayat-ayat Al-Qur'an dengan sistematika research?. Jika kita telaah lagi lebih dalam, ternyata memang benar, kita didalam membaca ayat-ayat Allah dan setiap surat tidak boleh loncat-loncat, harus menyeluruh dan komprehensif, sehingga mampu diaplikasikan menjadi amalan-amalan yang baik dan berguna bagi masyarakat sekitar. Begitu juga research, jika kita sabar dan melewati tahapan-tahapan yang ada InsyaAllah kualitas research kita akan sangat bermanfaat bagi kita dan bagi umat manusia, karena telah sejalan dengan ajaran Al-Qur'an. InsyaAllah.

So, bagaimana jadinya jika para scientist di Indonesia semuanya penghafal dan pengamal Al-Qur'an?

DUA DIMENSI ATAU SATU DIMENSI?


                Pernakah Anda berfikir sejenak dengan bentuk-bentuk bangun dua dimensi (2D) di atas?. Pelajaran Apa yang Anda ambil setelah mendapatkan materi ini dari guru-guru TK Anda waktu taman kanak-kanak[1]. Sebagian besar pasti tidak pernah berfikir bahwa disetiap bangun tersebut terdapat satu persamaan yang paling mendasar. Sebagian besar orang mengganggap bahwa pelajaran bangun ruang 2D hanyalah salah satu mata pelajaran yang harus ditempuh agar bisa naik ke kelas selanjutnya. Pernahkah Anda berfikir bahwa diantara perbedaan bangun tersebut HANYA mempunyai SATU TITIK KESETIMBANGAN?. Satu titik tersebut secara alamiah (sunatullah) dikelilingi oleh titik titik yang membentuk bangun 2D tersebut.
ILMU KESETIMBANGAN (KETENANGAN) ITULAH selalu BERSUMBER DARI SATU YAITU TUHAN SEMESTA ALAM



[1] Jika Anda mengalami Fasa Taman Kanak-Kanak. Jika tidak, pasti Anda kenal bentuk-bentuk bangun 2D sewaktu belajar di Sekolah Dasar.

Saturday, 27 September 2014

Tak Ada Pilihan yang Salah

Pernahkah kita merasa salah memilih?, pernahkah kita menyesali akan suatu pilihan yang telah kita pilih?. Kedua perasaan tersebut saya yakin pernah dialami oleh setiap manusia. Hal tersebut sangatlah wajar dirasakan oleh setiap manusia karena Tuhan dengan kebesarannya menciptakan perasaan itu untuk menguji semua makhluknya. Ujian tersebut diciptakan Tuhan untuk meningkatkan beberapa derajat kualitas iman diantara sesamanya. Semakin kompleks dan susah suatu pilihan yang diberikan oleh Tuhan, semakin dalam pula Tuhan menggali otak kita untuk bekerja keras berfikir agar supaya koneksi hati dan keimanan kita tetap terjalin.

    Kenapa Tuhan melakukan itu?, karena Tuhan ingin memperkuat koneksi hati dan keimanan kita. Semakin kuat koneksi itu terbangun, maka akan semakin kuat pula efeknya dalam kehidupan kita sehari hari.

    Dalam bentuk apa?, efek yang paling sederhana adalah kita selalu mengingat Tuhan Semesta Alam disetiap awal melakukan kegiatan.

    Apakah Tuhan memberikan bantuan fasilitas untuk mempercepat koneksi itu?, Jawaban saya adalah iya. Fasilitas tersebut disampaikan melalui makhluk-makhluk pilihan-Nya. Fasilitas yang diberikan oleh Tuhan Semesta Alam salah satunya dalam bentuk 'ajaran solat sunat istikhoroh'. Fasilitas itulah yang seharusnya dimanfaatkan oleh manusia untuk menghadapi pilihan-pilihan dalam hidup. Fasilitas tersebut hanya salah satu sarana Tuhan untuk mendekatkan manusia dengan-Nya.
    Jika diibaratkan fasilitas tersebut suatu software, maka hardwarenya adalah otak kita yang nantinya akan bekerja keras untuk menghasilkan out put yang dinamakan 'iman'. Jika dua hal tersebut di-upgrade kualitasnya maka 'keimanan' kita juga secara otomatis akan ter-upgrade.
   

Oleh sebab itulah mari kita bersyukur atas semua  pilihan kita dan selalu optimis di dalam menempuh semua pilihan-pilihan yang telah kita ambil, karena Tuhan Semesta Alam akan selalu memberikan pilihan-pilihan terbaik-Nya untuk manusia yang mau berusaha dan berfikir.

Serpong, 27 September 2014, 03.31 WIB

Tuesday, 10 December 2013

Malaikat pun memilih ‘Penjual Nasi Uduk’ untuk menyampaikan ilmu-Nya



Cikarang, 10 Desember 2013. Segarnya udara pagi yang masih bercampur dengan sisa-sisa uap air bekas hujan semalam memaksa aku untuk bangun lebih pagi dan sarapan pagi. Ditemani secangkir kopi hangat dan sisa-sisa biscuit yang sudah mulai berubah tampilan aslinya karena seharian kalengnya tak tertutup rapat akupun mulai menulis tentang ‘akar matematika’.
Sudah sekian lama aku menunggu malaikat-Mu untuk mengirim makrifat dari ilmu ‘akar matematika’. Hampir dua sampai tiga bulan aku mencari dan memikirkannya. Keanehan tersebut terjadi ketika aku sedang berdiam diri dengan sebuah kalkulator butut jaman SMA. Tak senga aku pencet-pencet semua angka dan berakhirlah dengan operasi akar matematika tersebut.
Awalnya aku hanya asal untuk memencet tombol angka yang ada di kalkulator, kemudian aku lanjutkan untuk memencet berkali-kali salah satu operasi hitung matematika yang ada yaitu ‘akar’. Kata ‘SubkhanaAllah’ akhirnya langsung terlontar seketika. Apa yang terjadi????
Yang terjadi ternyata angka akhir yang diperoleh adalah angka ‘1’ (satu). Kenapa hal tersebut terjadi?. Pertanyaan dan keingin tahuan itu semakin bertambah ketika aku coba lagi dengan kalkulator yang mempunyai deret angka lebih banyak ternyata hasilnya juga akan tetap angka satu.
Sudah hampir 2 sampai 3 bulan aku berusaha untuk mencari kenapa hal tersebut bisa terjadi dan ilmu apa yang dapat aku ambil dari peristiwa itu. Semua usaha untuk menemukan itu gagal, hingga akhirnya di pagi yang cerah ini aku mendapat bisikan dari malaikat Allah yang dilewatkan kepada ‘Ibu penjual nasi uduk’ tentang konsep rumit tadi.
Percakapan yang terjadi kira-kira seperti ini,
‘Mas, beli nasi uduknya nasinya satu apa setengah?’ Tanya si Ibu.
‘Setengah saja Bu’, Jawabku.
Setelah menjawab dengan sigapnya, otaku terasa ada yang menyambar untuk memantik kata-kata yang muncul itu, angka satu dan setengah.
Kebanyak orang pasti ingat konsep dasar dari operasi bilangan akar matematika. 


                Dari persamaan matematika tersebut dapat kita ungkap bahwa semua bilangan asli matematika jika kita kenai operasi hitung akar akan menghasilkan angka ‘satu’. Hal tersebut parallel dengan konsep ilmu kehidupan yaitu ‘ketika kau mencari Tuhan-Mu maka kenali dan pelajari lah dirimu hingga bagian yang paling terkecil dari tubuhmu, maka kamu akan menemukan siapa Tuhan-MU’.
Proses terus menerus dari proses ‘pengakaran’ suatu bilangan X mengakibatkan naiknya angka penyebut pada angka pangkat bilangan X.
Akar X artinya X pangkat ½. Jika angka hasilnya di akar lagi maka persamaannya menjadi X pangkat ¼, seterusnya akan menjadi menjadi angka tak terhingga. Jika angka satu di bagi dengan angka tak terhingg maka akan menghasilkan angka limit mendekai ‘0’. Semua angka jika dipangkatkan angka ‘0’ akan sama dengan ‘satu’.
Dari proses pemikiran tersebut, hal yang dapat kita petik adalah ‘semua hal yang ada di bumi ini pasti bertasbih dengan caranya masing masing, mungkin dengan cara itulah angka-angka yang kita kenal setiap hari selama ini bertasbih kepada-Nya. Tak ada batasan ruang dan waktu bagi mereka untuk selalu bertasbih mengagungkan arti dari angka SATU tersebut.  
Datangnya ilmu tidak selalu dari guru dari penjual nasi uduk pun ada ilmu yang bisa kita ambil.

Wednesday, 13 March 2013

Hati Nurani Manusia


Pernahkah Anda menyadari bahwa setiap manusia yang diciptakan Tuhan Semesta Alam adalah manusia yang baik. Semua kebaikan Tuhan Semesta Alam di klaim pada saat ruh ditiupkan pertama kali disaat kita masih berada di dalam kandungan sang bunda. Kebaikan-kebaikan itu di taruh di dalam hati nurani. Keberadaannya akan terasa jikalau kita melakukan suatu pekerjaan namun pekerjaan itu tidak sesuai dengan tuntunan Tuhan Semesta Alam (yaitu Al-Quran) maka hati nurani kita pasti akan membatah dan menolak suatu perkara atau pekerjaan yang kita lakukan didunia. Efek dari hal itu adalah rasa khawatir yang berkepanjangan.
Oleh karena itulah, Tuhan Semesta Alam memberi contoh kita lewat Manusia Pilihannya untuk selalu mengingat-Nya setiap hari (minimal 5 ketetapan waktu yaitu solat). Dari pekerjaan itulah kita sebenarnya diharapkan untuk selalu kembali kepada hati nurani kita yang sesungguhnya yang telah Tuhan Semesta Alam ciptakan pada setiap manusia.
MENGAPA TUHAN SEMESTA ALAM selalu menguji Setiap Manusia?
                Jawabannya akan saling melengkapi jika mengingat bahwa Tuhan Semesta Alam telah menciptakan ‘SURGA & NERAKA’ serta ‘MALAIKAT & SYEITAN’. Tak akan mungkin Tuhan Semesta Alam menciptakan semuanya tanpa ada tujuan dan manfaatnya. Oleh sebab itulah Tuhan menciptakan manusia dengan akal pikirannya untuk mengenali hati nurani yang sesungguhnya Tuhan titipkan kepada kita.

Sunday, 30 September 2012

PUTIH?


Jika Tuhan Semesta Alam mentakdirkan warna putih merupakan kesatuan dari warna-warna  monokrom maka dapat diartikan bahwa warna putih merupakan suatu kumpulan spectrum yang mempunyai panjang kelombang khas. Warna putih sering juga disebut sebagai symbol kesucian dan permulaan dari suatu kehidupan . Jika pemahaman tersebut benar, maka muncul perumpamaan seperti gambar di bawah ini, (ingat ilmu sinar dan difragsi sinar-sinar).

Jika warna-warna monokrom dianggap sebagai setiap makhluk Tuhan Semesta Alam yang mempunyai segala perbedaan, maka warna putih adalah tujuan satu satunya untuk mendapatkan kesucian yaitu Tuhan Semesta Alam. Karena jika kita padukan semua warna itu maka yang diperoleh hanyalah satu warna yaitu putih.

“Jika Setiap Makhluk Bertasbih Dengan Caranya Masing-Masing maka Angka 1/Keterpusatan serta Kesucian yaitu warna putih lah yang Diperoleh”

Tuesday, 28 August 2012

Aku ini Pecundang dan Pendusta Ulung


Aku adalah seorang pecundang yang selalu mengaku seorang pahlawan. Seorang pecundang akan mundur dan melarikan diri ketika masalah datang. Aku adalah seorang pendusta ulung, karena ikrar setia ketika masih di dalam kandungan ibu sering ku abaikan, padahal Dia telah memberikan lima kesempatan waktu dimana kita dapat bercumbu untuk melepas semua rasa kangen yang telah lama dimakan usia dan salah satu action dari ikrar setia yang kita ucapkan dahulu kala. Malasnya si pendusta sebenarnya telah diketahui oleh Sang Pencipta, oleh sebab itulah Dia memberikan beberapa keringanan bagi sang pendusta dalam hal bersuci ataupun pelaksanaannya. Keringan-keringanan itu sebenarnya salah satu kemudahan untuk meng-ECTION kan ikrar setia yang kita ucapkan.
Semakin lama sang pendusta itu hidup, semakin luntur bahkan semakin gak percaya diri ‘Apakah bener, kita telah berikrar?’ Mungkin pertanyaan tersebut tak pernah disadari oleh sang pendusta terucap dari mulutnya, namun tingkah lakunya serta pola fikirnya lah yang menggambarkan pertanyaan tersebut terucap secara jelas. Salah satu efek dari pertanyaan tersebut adalah sang pendusta akan selalu merasa tidak mampu dalam menghadapi ujian-Nya, padahal sudah jelas bahwa disetiap ujiannya pasti ada jawaban yang nantinya akan meningkatkan derajat bagi sang pendusta.
Karena sang pendusta pernah mengaku pahlawan, maka untuk menjawab pertanyaan tersebut sang pendusta berandai-andai untuk berkompetisi dengan waktu. Apajadinya jika sang pendusta mempu menghentikan waktu satu menit saja ketika sedang bercumbu dengan-Nya. Betapa nikmat sang pendusta, jikalau dia mampu untuk melakukan itu setiap lima waktu.

Tuesday, 24 July 2012

Tuhan, Kenapa sih aku berumur Pendek?


Apakah Anda tahu berapakali kita akan merasakan ulang tahun? Pasti Anda akan menjawab ‘wallahua’alam’ (hanya Allah yang tahu). Setiap makhluk yang hidup di dunia ini memang tak kan pernah tahu kapan kita mati, tapi yang jelas sebagai manusia biasa kita disediakan waktu + 63 tahun. Walaupun terkadang dapat lebih beberapa tahun ataupun kurang dari ini.
Namun, pernahkah Anda menyadari bahwa perbedaan jumlah umur manusia jaman dahulu jauh lebih lama dibandingkan manusia jaman sekarang. Pada zaman nabi-nabi kita percaya mereka berumur ratusan hingga ribuan tahun. Pertanyaannya adalah kenapa terlampau banyak jaraknya? Apakah Tuhan Semesta Alam sentiment terhadap manusia jaman sekarang, karena kebejatannya? Ataukah ini memang skenario-Nya saja?
Sebagai manusia biasa, kita hanya mampu meraba-raba dari setiap fenomena yang ada. Salah satu rabaan dari pertanyaan-pertanya itu adalah  pernahkah kita berfikir bahwa ‘manusia jaman sekarang ini (umat nabi Muhammad SAW) sebenarnya sudah diberi fasilitas yang sangat lengkap untuk dapat lebih cepat dekat dengan Tuhan Semesta Alam’. Kita tidak perlu mencari-cari mana yang namanya Tuhan Semesta Alam, karena hakikat dari MATI adalah menyatu kembali dengan Tuhan Semesta Alam (jangan diartikan dengan pengertian yang pendek).
Fasilitas-fasilitas yang dimaksudkan misalnya kitab Al-Qur’an ataupun satu bulan istimewa di setiap tahunnya dan masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang kita miliki. Oleh sebab itulah kita secara kodrati tidak perlu menghabiskan waktu begitu lama dalam menemukan Tuhan. Manusia zaman dahulu berumur jauh lebih panjang dari kita karena mereka mencari Tuhannya sendiri tanpa adanya fasilitas-fasilitas tersebut, sehingga tidak mempunyai rambu-rambu disetiap persimpangan jalan Tuhan.
Dari pemahan tersebut maka kita akan mengarah kepada sebuah ibarat yang mengatakan bahwa Manusia zaman dahulu lebih cenderung sebagai pembuka lahan hutan, sedangkan manusia zaman sekarang sebagai penikmat jalan tapak yang telah dibuat oleh manusia zaman dahulu. Maka dari itulah, mari kita bersyukur setiap hari karena Kita telah ditakdirkan sebagai manusia yang bergelimang failitas dalam mendekatkan diri kepada Tuhan Semesta Alam.
-Edisi khusus -  

Thursday, 19 July 2012

Apakah Bener ‘Putih itu Suci?’



                Sering terdengar di telinga kita bahwa bayi yang baru lahir bak lembaran kertas putih yang masih bersih. Belum ada coretan-coretan perjalanan hidup yang membawanya ke arah kesemrawutan dalam hidup. Hal itu disebabkan oleh pena serta kertas sang bayi masih ada di kedua orang tuanya yang setiap harinya keduanya membuat garis tepi agar tulisan sang anak akan rapi, mudah terbaca oleh sang pembaca nantinya yaitu malaikat pembaca amal perbuatan. Setiap tahun bayi itu akan tumbuh, tumbuh dan tumbuh sampai akhirnya tibalah di suatu titik (ketika baligh*) dimana diberi hak untuk memegang pena serta kertasnya sendiri untuk menuliskan semua alur cerita kehidupannya.
                Ada kalanya mereka menuliskan alur hidupnya sesuai dengan garis-garis tepi yang dibuat oleh keduanya, ada kalanya mereka menulis dengan asal-asalan (ming waton nulis). Hal yang lumrah oleh bayi itu adalah tidak menyadari kalau dirinya sudah membuat rusak tulisan dengan coretan-coretan yang tidak jelas. Ketika umurnya bertambah dewasa yaitu kurang lebih 20an tahun, bayi itupun menyadari bahwa tulisan-tulisan itu telah dinodahi oleh simbol-simbol warna yang dia torehkan ke dalam lembaran kertas tadi. Pertanyaan sang bayi adalah ‘Kenapa aku harus menorehkan warna-warna itu? Padahal sebenarnya akan mengotori kertas ku!’, kata sang bayi dengan nada marah. ‘Dari manakah aku mendapatkan warna sebanyak itu, padahal Engkau amanahi aku hanya satu pena?’, lanjut sang bayi. ‘krik,krik,Zzzzzzz,’ suara jangkrik serta suara dengkuran orang tidur menemani pertanyaan-pertanyaan bayi itu.
                ‘Itu adalah simbol-simbol dari semua dosamu’, kata Sang Pembuat Pena dan Kertas. ‘Kenapa Engkau ridhoi aku untuk menghancurkan garis-garis Mu, padahal nantinya utusanmulah yang akan membaca alur ceritaku?’ lanjut bayi itu. ‘Itu memang sengaja Aku torehkan lewat ujian-ujian yang Ku berikan, agar semua warna itu kamu kombinasaikan agar tercipta spectrum putih bersih’, Jawab-Nya. Setelah mendengar penjelasn tadi sang bayi-pun langsung tersungkur sujud dan mengatakan ‘Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengenalkan Sang Pemuat Pena dengan aku lewat semua masalah yang Engkau ciptakan’.
                Sang Raja siang pun mulai mengintip dari balik awan, sang bayipun hanya tersenyum dan bersyukur bahwa hari ini dia masih diberi nikmat untuk menyusun warna-warna kehidupan.  
Note: ketika seorang manusia sudah dapat mengenal hak dan kewajiban serta dapat membedakan hal yang baik maupun buruk.

Silahkan berbagi dengan yang lain.

Wednesday, 27 June 2012

Manusia kelebihan Gula!, Siapa Takut?


Siapa sih anak Indonesia yang tak kenal dengan kata ‘Gula’. Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dari suatu keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa (yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam), menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel.
Dari penjelasan singkat tentang gula di atas, berarti kita tahu bahwa setiap sel tubuh kita memperoleh energi dari glukosa.Tubuh kita secara alami telah dianugrahi sifat-sifat manis oleh Tuhan Semesta Alam. Sifat manis inilah yang sebenarnya dapat membuat kehidupan ini menjadi bermakna dan mendamaikan semua umat manusia. Kenapa dapat seperti itu?, pasti Anda bertanya-tanya.
Hal tesebut dapat terbukti dari fakta ‘semua manusia diciptakan untuk saling berpasang-pasangan’. Dari kata-kata tersebut terselip makna yang cukup luas yaitu setiap manusia dimuka bumi ini telah diciptakan untuk menemukan pasangannya. Tak dipungkiri lagi didalam menemukan pasangannya setiap manusia pasti mendahulukan penglihatan fisik daripada sifat aslinya. Banyak diantara kita yang tidak terima akan takdir akan orang lain seperti, ‘kok orang itu mau ya, sama ceweknya/cowoknya yang jelek itu?’. Dari fakta itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Tuhan Semesta Alam telah menyelipkan rasa manis untuk setiap manusia. Rasa manis inilah yang nantinya akan dirasakan serta dapat difahami oleh setiap pasangan.
   Rasa manis yang tersimpan didalam tubuh kita juga sebenarnya dapat membuat bumi kita ini menjadi damai. Rasa alami yang dibawa oleh gula yaitu manis dapat dipadukan dengan kopi yang rasanya sangat pahit, coklat, jahe yang rasanya pedas maupun asam jawa yang rasanya asam. Sehingga apabila ada seseorang yang berkomentar atau berbicara se-pahit kopi, se-pedas jahe, maupun se-asam, asam jawa sebenarnya secara alamiah tubuh kita dapat mengolahnya menjadi olahan-olahan yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Hasil olahan yang dimaksud adalah doa yang bermanfaat bagi orang-orang yang membeci kita, solusi-solusi bagus yang diberikan kepada musuh kita maupun senyuman manis yang diberikan kepada musuh kita. Hal tersebut dapat tercapai jika kita tetap berfikir positif, bersikap tenang serta pasrah kepada Tuhan Semesta Alam akan semua hal yang terjadi dengan kita.
Dari pemahaman di atas, maka kita tidak akan pernah takut kalau kita mempunyai sifat gula yang berlebih yaitu manis.

Sunday, 17 June 2012

‘Apakah Kita Harus Berguru pada Semua Hewan-Nya?’


Tuhan Semesta Alam telah mentakdirkan,
Ikan mempunyai sirip untuk berenang,
Burung mempunyai sayap untuk terbang,
Lebah mempunyai madu,
Cicak mempunyai kaki yang dapat menempel dinding,
Nyamuk mempunyai jarum di mulutnya,
Laba-laba mempuyai benang terkuat,
dan masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh setiap makhluk-Nya. Mereka tetap ikhlas akan semua kemampuan-kemampuan yang dimilikinya walaupun hukum rimba (yang kuat yang menang) tetap akan berlaku hingga akhir zaman nanti.
Pertanyaannya adalah, Kenapa Kita jarang Bersyukur kepada-Nya dan selalu merasa kurang, padahal kita telah diberi sesuatu yang paling special oleh Tuhan Semesta Alam yaitu akal pikiran. Apakah ‘Keikhlasan’ Manusia harus belajar dari hewan-hewan tersebut?

Tuesday, 12 June 2012

Ternyata Tidak Selamanya Harus Uang Kok!


Kata shadaqoh atau sedekah berasal dari kata ‘shadaqa’ yang artinya benar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata infak berarti pemberian sumbangan (harta) dsb (selain zakat wajib) untuk kebaikan, sedekah, nafkah. Jika kita selalu mengacu pada pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia maka implementasi urutan shadaqoh akan menjadi sempit, karena pengertian tersebut akan mempersempit cangkupan penerima infak. Jika kita mau menelusuri lebih jauhlagi dari pengertian infak maka akan difahami tentang cangkupan penerima infak. Cangkupan penerima infak sebenarnya sangatlah detail. Apabila cangkupan infak tersebut terlaksana maka akan terbentuk suatu keseimbangan dalam keluarga dan masyarakat, akibatnya adalah tumbuhnya rasa saling memiliki diantara sesama manusia. Efek jangka panjangnya adalah setiap manusia akan selalu bersyukur dan merasa tercukupi. Walaupun sebenarnya perlu dilakukan cara-cara yang baik pula dalam pemberian infak tersebut.
Sesuai dengan asal katanya maka, pengertian infak akan lebih luas disaat kita berfikir bahwa infak itu merupakan suatu tindakan yang berhubungan dengan orang lain dengan berlandaskan kebenaran iman, misalnya tersenyum, membantu orang lain dan sebagainya. Jika kita sudah mulai berlatih untuk itu, maka InsyaAllah kehidupan kita akan jauh lebih tenang dan lebih banyak orang lain yang bahagia karena keberadaan kita. 

Sunday, 10 June 2012

Ketika Api Lilin Memberi Makna Kehidupan


Iman adalah (n) 1. kepercayaan (yang berkenaan  dengan agama) kepada Allah, Nabi, kitab suci;  2. ketetapan hati; keteguhan batin; ke-seimbangan batin (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Jika kata iman di bubuhi awalan ke-, maka akan menjadi keimanan. Keimanan (n) adalah keyakinan; ketetapan hati; keteguhan hati (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Pengertian di atas bersifat abstrak, sehingga sebagian dari kita tidak dapat mengukur banyak, sedikit, tebal, tipisnya iman kita. Kita hanya mampu merasakan ketenangan ketika iman kita sedang berada pada puncak tertinggi. Efek ke tubuh kita adalah kita merasa bahagia dan selalu mensyukuri apa saja yang kita miliki. Iman bersifat fluktuatif, kadang berada di atas, kadang juga berada dibawah, tergantung ketahanan kita untuk menahan hembusan cobaan dari yang punya iman yaitu Tuhan Semesta Alam.
Api lilin merupakan salah satu perumpamaaan yang tepat untuk menggambarkan betapa lemahnya keimanan kita. Kita tidak punya hak sama sekali untuk mengatur kapan api kita menyala dengan terang. Kita hanya bisa mampu untuk berdoa agar nyala api tetap bertahan walaupun itu sangat kecil kuantitasnya ketika hembusan angin dari pemilik api menerpa. Kita juga tidak mempunyai hak untuk menyalakan atau memadamkan api kecil tersebut. (Agamaku-Agamaku, Agamamu-Agamamu).
Mari tetap berdoa, agar Tuhan Semesta Alam tetap mempertahankan nyala api, walaupun sangat kecil dan kita mampu berjalan di kegelapan dan kerasnya dunia ini.

Wednesday, 2 May 2012

‘Adakah Jalur Alternatif menuju surga ya?’


Sadarkah kamu kalau bumi itu pernah menjadi tempat rehabilitasi termegah umat manusia? Dan tahukah mengapa demikian?, Jika belum tahu juga jawabnnya, maka mari berimajinasi sejenak tentang manusia pertama yang ada di dunia ini yaitu Adam as dan siti hawa. Pada mulanya keduanya bahagia tinggal di dalam surga namun suatu ketika keduanya melanggar larangan-Nya, akibat dari peristiwa itulah keduanya diturunkan ke Bumi. Keduanya diberi amanah untuk tetap beriman, saling berbagi, berbuat kebajikan serta percaya akan adanya hari akhir.
Dari penggalan cerita yang sangat pendek di atas maka ‘Apakah kita cukup kuat untuk mempunyai kesombongan kepada-Nya, padahal kita terlahir di dunia ini berawal dari kehinaan dan mempunyai silsilah kesalahan pada masa lalu?’ padahal kita masih diberi amanah dari-Nya hingga hari akhir nanti. Amanah tersebut merupakan rambu-rambu yang akan menghubungkan antara bumi dan pintu surga. Jika kita tetap menaati peraturan-peratura tersebut, harapannya adalah kita dapat kembali lagi seperti nenek moyang kita dahulu yang berawal dari surga. Namun perlu diingat juga, amanah yang pertama yaitu keiimanan. Untuk amanah yang satu ini, kita hanya mampu menjaganya, karena keimanan kita dapat diibaratkan sebagai api kecil. Kadang si api tenang, kadang juga si api hampir pada, karena tertiup angin. Pemilik api itulah yang akan selalu menjaga dengan baik si api kecil itu.
Oleh sebab itulah mari kita tetap berdoa agar si api kecil yang ada di hati kita tetap terjaga oleh-Nya, sehingga kita tetap dijalur serta patuh terhadap rambu-rambu-Nya.

Sunday, 22 April 2012

Adaptasi adalah Anti-Vir paling Mutakhir Pengusir Virus ‘Galau’


Adaptasi adalah salah satu perilaku makhluk hidup untuk mempertahan diri dari perubahan lingkungan. Proses adaptasi akan dilakukan jika ada proses penekanan atau gangguan yang mengakibatkan munculnya rasa kekhawatiran misalnya kekhawatiran untuk hidup, mencari makan dan lain sebagainya. Semua makhluk hidup di alam semesta ini ditakdirkan untuk merasakan nikmatnya proses adaptasi. Jika kita diperbolehkan untuk meraba makna dari kata ‘adaptasi’ maka ekspektasi dari kata tersebut adalah kemampuan manusia yang diberikan oleh Tuhan Semesta Alam untuk bisa berubah kebentuk yang diinginkan oleh manusia tersebut maupun lingkungan. Didalam ilmu kimia biasa disebut like dissolve like , misalnya ada campuran air dan minyak, maka jika ada larutan x (mempunyai sifat seperti minyak) maka  larutan tersebut akan mudah bercampur atau larut dengan minyak. Begitupula manusia, jika seorang manusia ingin menjadi ahli motor maka beradaptasilah kepada orang-orang yang ahli motor, jika ingin menjadi dokter maka beradaptasi lah dengan dokter, jika kita ingin menjadi kekasih-Nya, maka beradaptasilah dengan kekasih-kekasih Nya juga dan lain sebagainya. Perilaku tersebut merupakan salah satu bentuk usaha diri kita untuk meraih semua mimpi-mimpi kita, keputusan tertinggi tetap ada pada-Nya dan yang pasti juga adalah keputusan-keputusa-Nya adalah keputusan terbaik bagi semua umuat-Nya, jika kita seorang guru, maka guru adalah keputusan terbaik-Nya untuk kita. Sujud Syukur dan Ikhlas akan membuat kita mudah untuk beradaptasi, dimanapun dan kapanpun.
Bagaimana Menurut Anda?

Sunday, 8 April 2012

Apa Jadinya Kalau Kita Menghitung Mundur Umur Kita


Pernahkah Kita Menghitung Mundur Umur Kita?. Umur atau usia setiap tahunnya akan semakin bertambah, dari mulai dihitung dengan satuan hari, bulan (biasanya untuk bayi), dan tahun (satuan usia setelah melewati 1 tahun kelahiran). Bergantinya tahun sebanding dengan bertambahnya umur kita. Banyak diantara kita selalu merayakan bertambahnya umur kita setiap tahun, dari pesta yang sederhana hingga paling meriah. Namun, Apakah ada yang Berubah Setelah Perayaan Itu? . Kebahagiaan, keceriaan,harapan-harapan, doa-doa baik serta hadiah pasti didapat dalam perayaan itu. Namun, apa jadinya kalau kita menghitung terbalik/mundur umur kita, atau dengan kata lain ‘kita mengingat sisa standar umur yang manusia miliki?’. Misalnya Jika Usia Anda sekarang 23 tahun, maka yang diingat adalah ada sisa umur 40 tahun (dari standar manusia 63 tahun). Jika proses tersebut terfikirkan maka proses instropeksi diri lah yang akan menjadikan kita lebih baik lagi, serta memanfaatkan sebaik mungkin di sisa umur kita. Tidak hanya Kebahagiaan, keceriaan,harapan-harapan, doa-doa baik serta hadiah yang kita peroleh, namun pemahaman hidup kita akan semakin mantap.
Apakah Anda Punya Pandangan yang Berbeda dengan Betambahnya Umur?

Friday, 6 April 2012

Kedewasaan Tingkat Tinggi


Setiap orang pasti mempunyai makna tersendiri akan istilah ‘kedewasaan’. Ada sebagian yang menganggap kedewasaan marupakan suatu tatanan perkembangan otak dan perilaku manusia yang telah mencapai taraf pemahaman batin, sehingga berimbas pada kemampuan penalaran dan munculnya sifat kehati-hatian dalam melakukan sesuatu. Akibatnya adalah orang tersebut akan mengetahui dan menyadari akan kepentingan individu dan kepentingan orang lain. Kedua sifat tersebut akan diperlakukan sewajarnya ketika kita telah beranjak dewasa. Kita akan tahu, kapan harus memakai kedua sifat tersebut. Kedua sifat tersebut sebenarnya sudah melekat erat dengan tubuh manusia, hanya saja dominansi atau kecenderungannya tergantung dari lingkungan yang mengajarinya. Selama lingkungannya mengajari keseimbangan antara kedua sifat tersebut, maka tingkat pemahaman serta sifat kedewasaan orang tersebut akan semakin baik. Penjelasan diatas merupakan salah satu pemahaman tingkat kedewasaan yang paling sederhana.
Taukah kamu kalau ada pemahaman ‘kedewasaan tingkat tinggi?’
Pemahaman kedewasaan tingakat tinggi berawal dari pertanyaan-pertanyaan sederhana yaitu ‘Saya itu Siapa?’, ‘Untuk apa kita Hidup?’ dan ‘Untuk Apa kita Hidup?’. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dibutuhkan suatu rambu-rambu dimana rambu-rambu tersebut yang akan menuntun langkah kita untuk menuju jawaban-jawaban yang kita maksud.
Tuhan Semesta Alam telah mempermudah diri kita untuk menemukan jawaban tersebut, karena Dia telah mengutus orang-orang pilihannya (misalnya Nabi) untuk membabat hutan (istilah gelapnya zaman jahiliah/kebodohan) untuk membuatkan jalan serta pemasangkan rambu-rambunya disetiap tikungan iblis (syeitan). Godaan akan bermunculan ketika manusia berada di tikungan iblis, apakah kita akan terlena mengikutinya ataukah kita akan bertahan dijalan-Nya.
Pemahaman rambu-rambu ini biasa orang awam sebut ‘Mematuhi perintah-Nya serta Menjauhi Larangan-Nya’. Jika pelaksanaan setiap rambu-rambu tersebut dapat berjalan dengan sebaik mungkin maka kita telah mencoba untuk menjadi manusia dengan tingkat kedewasaan paling tinggi.
Sekarang apa Makna Kedewasaan Menurut Anda?