Kata-kata pertama yang ingin aku ucapkan untukmu Tuhan adalah
‘terimakasih’, karena Engkau telah mentakdirkan aku untuk keluar dari kota
teristimewa di Indonesia yaitu Yogyakarta dan memindah hidupku ke pinggiran
kota Jakarta yang sangat pengap akan asap industri dan sangat panas karena
semua pohon-Mu sudah disulap oleh beberapa manusia yang mengaku dirinya sebagai
pesulap alias pengusaha besar yang mengatas namakan sebagai peyambung cita-cita
Negara Kesatuan Republik Indonesia ini yaitu mensejahterakan seluruh masyarakat
Indonesia dan ikut membangun perekonomian Bangsa.
Sekarang, Engkau jadikan aku seperti helaian daun yang jatuh dari ranting
pohon yang hanyut di selokan industri. Aku hanya mampu pasrah dan terdiam
mengikuti arus dan pekatnya bau kotoran selokan rumah tangga. Tak ada daya
sedikitpun untukku mampu keluar dari arus yang tidak begitu deras ini. Kotor
dan bau busuk telah berbaur dengan diriku. Bau busuk mulai menyengat saluran
pernapasanku. Pusing mual dan lemas, itulah yang kurasakan saat ini. Aku hanya
mampu terbujur kaku, membisu, menatap hampa ke semua makhluk-Mu yang terus
menenerus memandangi aku dikejauhan sana. Aku yakin mereka tahu dan sadar akan
keberadaanku, namun mereka hanya melihatku sepintas saja dan melanjutkan lagi
kegiatan rutin mereka yaitu bekerja, bekerja dan bekerja.
Dari kejauhan, aku tetap mengamati semua kegiatan yang dilakukannya. Dari
mulai Kau terbitkan cahaya matahari di Negeri ini hingga kau selimuti dengan
gelapnya malam-Mu yang dihiasi dengan bintang-bintang, walaupun perhiasan
tersebut kini sudah semakin langka karena cahayanya telah kami tutupi dengan
terangnya lampu-lampu kota yang super megah.
Pagi hingga sore hari mereka gunakan untuk bekerja, malamnya untuk
istirahat. Mmmm…bener juga sih. Tapi itulah perjalanan hidup. Kita tidak akan
sadar ketika lingkungan yang mengajari dan mengubah pola fikir kita untuk
menjadi salah satu mata rantai dari pola hidup ‘keduniawian’. Tak sadar akupun
hanyut dalam aktivitas mereka hingga satu tahun lebih.
Dalam benakku sekarang adalah kebahagiaan akan tampak ketika kedudukan,
jabatan, popularitas dan harta yang melimpah bercampur menjadi satu sehingga pujian
dan kebanggaan akan muncul dengan sendirinya dari semua orang yang berada
disekitarku. Harkat martabat akan lebih jauh tinggi dari orang lain.
Untuk mencapai semuanya itu aku belajar, belajar, dan belajar setiap hari
dari semua orang yang ada di sekitarku. Dimulai dari mencari topeng kebaikan
yang nantinya akan ku gunakan ketika menghadapi atasan hingga masker penutup
mulut untuk membungkam semua kejujuran yang sebenarnya muncul dari setiap
kagiatanku sehari hari. Semua jurus ku pelajari demi kedudukan serta gaji yang
layak di kantorku sekarang.
Tuhan, mungkin usaha-usaha itulah yang menjadikan aku semakin tenggelam ke
dasar selokan industri. Tak kan ada yang tahu betapa kotornya diriku sekarang.
Semua makhluk-Mu hanya mampu sebagai penonton saja, tidak akan ada yang mampu
untuk mengambilku naik ke atas daratan yang lebih beradab, yang lebih segar karena
udara-Mu, yang lebih indah karena kebebasan-Mu dan yang pasti akan lebih tenang
karena akan lebih dekat dengan-Mu. Hanya Engkau lah Tuhan yang mampu melihatku terbujur
kaku di selokan industri ini.
Sekarang awal bulan November, tepatnya tanggal 1 November 2013, itu
artinya adalah deretan angka mata uangku di ATM pun akan bertambah. Ku ucapkan
syukur yang sangat berlimpah kehadirat-Mu Tuhan Semesta Alam, Engkau telah
mempercayaiku untuk menjaga sebagian kecil dari harta-Mu. Di tanggal ini pula
aku ingin merayakan ulang tahun buku pertamaku yang ke-1 bulan, karena dari
terciptanya buku itu aku menulis tulisan ini.
Aku tidak akan pernah tahu kapan buku itu mulai lenyap satu persatu. Yang
jelas buku itu masih menumpuk dan terbungkus rapi di pojokan kamar kost yang
sudah hampir satu tahun setengah, aku tempati.
Ku berharap banyak dari buku itu Tuhan, aku ingin menjadi orang
terkenal, aku ingin menjadi seorang penulis, aku ingin menjadi orang yang lebih
kaya dari sekarang.
Namun, apa yang terjadi Tuhan?, aku sekarang hanyalah seorang yang
terombang ambing di antara sampah sampah yang Engkau tempatkan pada selokan
industri itu. Aku hanya mampu untuk bermimpi, beranga-angan tinggi dan membual
janji kesetiap orang-orang disekitarku. Aku malu Tuhan. Namu itulah
kenyataannya. Pusingnya kerjaan kantor dan stress nya cita-cita membuatku lebih
dalam lagi terhanyut dalam selokan industri itu. Badanku semakin bau busuk,
hatiku semakin hitam pekat. Tak ada lagi cahaya bumi yang mampu menembusku
hingga dasar selokan. Karena hatiku sudah tertutup oleh hitamnya lumpur yang
terakumulasi di dasar selokan. Tak banyak yang bisa aku lakukan. Aku hanya
mampu terdiam, merenungi nasibku sekarang. Tak tau kapan Kau akan angkat aku
dari selokan ini dan Kau berikan semua angan-anganku.
Tuhan, terimakasih Engkau masih memberi ku waktu untuk bisa melewati
tanggal satu November, dan Kau genapkan nikmat-Mu hidup ditanggal dua November.
Ditanggal dua November tahun ini yang bertepatan dengan hari libur alias
aksi mogok kerja bagi semua buruh se-Indonesia. Akupun menikmatinya dengan
secangkir kopi hitam, dua pisang goreng dan satu tahu sumedang. Wanginya kopi
yang kuseduh pagi ini setia menemaniku untuk mengamati semua aksi buruh-buruh
industri yang sedang berjuang untuk menuntut naiknya gaji dilayar televisi punya
ibu kost.
Tak bertahan lama ku nikmati siaran siaran itu. Akhirnya ku ganti channel TV nya ibu kost dengan saluran
anak-anak yaitu kartun sabtu pagi. Itu jauh lebih menyenangkan ketimbang
melihat kelakuan kelakuan orang lain yang akan membuatku lebih tenggelam lagi
di selokan ini.
Akupun mulai tertawa ketika melihat tayangan anak-anak tersebut dari
mulai kartun hingga bukan kartun, dalam hati kecilku berkata ‘Terimakasih Tuhan,
Engkau masih memberikan sedikit kebahagiaan di saat aku sedih melihat diriku
sendiri yang sangat kotor’.
‘Terimakasih Tuhan’, itulah kalimat yang mampu aku ucapkan saat ini untuk
membujuk-Mu agar Engkau angkat aku dari selokan ini.
Bersambung...

No comments:
Post a Comment