Tuesday, 20 December 2011
‘Aku Rela dianggap Orang Lain Jelek’, kata isi hati Si Bapak Penarik Becak
‘Grek’, suara becak yang terparkir di depan suatu Warteg (Warung Tegal).
‘Silahkan masuk Pak’, kata gadis yang berada di dalam warteg.
‘Bagaimana narik hari ini Pak?, sudah dapat banyak penumpang nih kayaknya?’, lanjut sang gadis.
‘Syukurlah, setidaknya jam 11 sudah mampir di sini’, jawab si bapak dengan tenang.
‘hari ini mau makan apa pak?’
‘ini, itu, sama yang ini’. (dengan gaya touch screen yang sering terlihat di WARTEG).
Beberapa menit kemudian, hasilnya pun keluar yaitu satu tempe, satu tahu dan satu telor+kerupuk dan sedikit kuah ‘jangan asem’ (istilah Tegal).
‘minumnya apa pak?’, kata si gadis sambil menyodorkan makanan kepada si Bapak.
‘air putih aja Neng’.
‘Siap, Pak saya ambilkan gelas’
‘terimakasih neng’.
‘Sering makan di sini ya Pak?’, Tanya salah satu bapak yang sedang menikmati makanannya.
‘ya, begitulah Pak. Tiap hari bolak-balik ke sini’.
‘hahahaha’, sambil mulai melahap makanannya.
Mungkin karena lapar, si Bapak penarik becak tak sengaja menjatuhkan beberapa butir nasinya di atas meja. Dengan penuh ketelitian ternyata si bapak yang ada di sampingnya berkata,
‘Pak, itu nasinya jatuh loh…MUBAZIR.’
Tanpa menghiraukan omongan si Bapak yang ada di sampingnya, Bapak penarik becak itupun melanjutkan menikmati makanannya, hingga tak menyisakan makanan sedikitpun di atas piringnya.
‘Alkhamdulillah’, kata si Bapak penarik becak.
‘Enak ya Pak?’
‘ya begitulah’
‘Maaf sebelumnya Pak, hanya ingin saling mengingatkan saja. Tapi sebenarnya nasi yang jatuh dimakan saja, kan MUBAZIR Pak’
‘Kalau pun peristiwa tadi dianggap Bapak suatu peristiwa yang MUBAZIR tak apa lah, yang penting saya senang bisa berbagi dengan si Semut hari ini’ sambil menunjuk semut yang sedang membawa butiran nasi tadi.
Kedua orang tersebut pun akhirnya saling melempar senyum.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment