‘Klonteng…klonteng…klonteng…”
Pagi itu mataku terbelalak ketika suara alarem dari pak sawah sampai
ketelingaku. Diakhir akhir bulan Desember mulai sering terdengar suara gaduh
itu dari luar kamarku. Suara gaduh itu berasal dari alat pengusir burung pak
sawah. Sekarang ini pak sawah selalu datang lebih awal daripada biasanya.
Biasanya pak sawah mulai beraktifitas setelah matahari keluar dari sarangnya,
namun untuk akhir-kahir ini pak sawah selalu mendahului terbitnya matahari. Tak
ada alasan lain bagi pak sawah untuk tidak berangkat lebih awal kecuali untuk menyelamatkan
butiran-butiran padinya dari gangguan burung pipit yang selalu bertengger di
setiap batang padinya.
Dengan otak masih
dengan setengah sadar, ku mulai dekati jendela kamarku yang bertambah kusam
karena jarang sekali dibersihkan. Keduanya bertambah buram ketika bercak-bercak
debu mulai membekas bak tetesan air hujan yang kerap menguyur keduanya. Tanpa ada
ragu sedikitpun untuk membuka keduanya dengan sepenuh tenaga.
‘Greg…’
‘wussssss’
Hempasan angin serta embun pagi terasa menusuk dihidungku. Denyut nadiku
seolah-olah terhenti sesaat dengan datangnya dinginnya pagi. Aroma kesegaran
serta indahnya kicauan burung mulai membawaku kepada kesadaran seutuhnya. Keadaan
itu kerap kali terasa karena kamarku berada dilantai dua, dengan hamparan
puing-puing material bangunan perumahan serta beberapa petak sisa sawah dari
proyek pembangunan perumahan sehingga secuil suasana sawah yang membentang
dibelakang kamarku masih terpampang indah setiap pagi. Tak tahu sampai kapan
suara gaduh dari pak sawah bertahan dan akan tergantikan dengan kegaduhan
mesin-mesih kendaraan bermotor serta perabotan rumah tangga lainnya yang memicu
bunyi-bunyian yang akan mengganggu kenikmatan tidurku. Untuk saat ini aku hanya
mampu berharap akan kesehatan pak sawah agar tetap membangunkanku ketika esok
hari datang lagi.
Dari sela-sela debu yang menempel di kedua kaca jendela kamarku terlihat dengan
jelas ribuan batang padi yang mulai menguning dengan dihiasi beberapa ekor
burung yang beradu cepat dengan pak sawah. Bak seorang cow boy pak sawah dengan cekatnya menarik beberapa tali yang telah
terpancang rapi di gubuknya ketika beberapa burung hinggap di setiap ranting
tanaman padinya. Mulut pak sawah tetap membisu seribu kata, hanya kedua bola
matanya serta kedua tanggnya yang selalu aktif ketika burung-burung datang.
Sembari memperhatikan butiran padinya, terkadang pak sawah tak henti-hentinya
memilah milah bibit tanaman yang akan ditanaman dimusim tanam mendatang
misalnya jagung, kacang-kacangan atau sejenisnya.
Lonceng buatan pak sawah sangatlah sederhana, dengan bermodalkan kaleng
bekas susu dan tali plastik, pak sawah mampu menciptakan alat yang paling
sederhana untuk mengagetkan para burung ketika hinggap di batang-batang padi. Beberapa
peneliti di bidang pertanian menyatakan bahwa cara tersebut sebenarnya kurang
efektif karena untuk beberapa kali penarikan oleh pak sawah burung akan mampu
merekam ritme yang sama ketika pak
sawah mengulanginya lagi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut nampaknya sudah
dipertimbangkan oleh pak sawah, karena sepanjang saya mendengarkan lonceng yang
dimainkan oleh pak sawah, menghasilkan ritme
yang berbeda-beda disetiap waktu yang berbeda pula. Oleh sebab itulah yang
menguatkan diriku untuk tetap mendoakan pak sawah tetap sehat dan tetap setia
untuk membangunkanku di setiap pagi. Hingga saat ini akupun tak pernah tahu dan
tak mau tahu darimana si pak sawah mendapatkan ide cerdas itu. Aku hanya
berperasangka bahwa Tuhan Semesta Alam lah yang mengajari beliau akan khidupan
sawah sebenarnya dan yang pasti lagi adalah aku tetap bisa bangun pagi karena
lonceng pak sawah.
Suara lonceng pak sawah dan segarnya udara pagi tak terasa membawaku ke
tingkat tertinggi dari sebuah kenangan akan seorang pria hebat yang sekarang
telah bertambah lemah karena lelah akan kehidupan dunia yang telah dijalaninya
bertahun-tahun. Pria ini telah mengenyam manis pahitnya kehidupan mulai dari
tahun 1945. Tepat 5 hari sebelum kemerdekaan Republik Indonesia anak keenam
dari pasangan Bapak Karyadi dan Ibu Khotijah ini dilahirkan ke dunia dengan
bantuan seorang dukun bayi. Anak keenam dari pasangan pejuang kemerdekaan itu
diberi nama Muhammad Yahya Maulana Yusuf Ibrahim. Betapa panjang nama yang
disematkan kepada anak keenam mereka sepanjang harapan-harapan keduanya di
kehidupan mendatang. Yusuf merupakan satu-satunya anak laki-laki yang
dilahirkan dari kedua pejuang 45 tersebut. Keduanya menaruh jutaan mimpi kepada
yusuf. Oleh sebab itulah ayahnya rela membanting tulang bekerja sebagai petani demi
anaknya menjadi seorang guru ngaji.
Usamnya daun
padi yang menguning bagaikan perubahan warna rambut yusuf tua yang sekarang
menjadi bapakku, dari hitam legam menjadi putih karena dimakan usia. Masih
terngiang ditelingaku ketika bapakku menemaniku ke Jogjakarta untuk bersekolah
di salah satu universitas tertua di Indonesia.
“dek, jangan
lupa solat, belajar ya”
“InsyaAllah
Pak”, jawab ku sambil tersenyum.
Percakapn itupula yang membawa aku untuk mengenang betapa gigihnya
perjuangan bapakku dalam mengantarkan aku ke kota Jogjakarta. Suatu kebanggaan
tersendiri bagi bapakku yang hanya guru ngaji kampungan,mengantarkan anaknya di
universitas terkemuka di Indonesia. Bapakku hanyalah seorang guru ngaji di
sebuah desa kecil di kabupaten Tegal. Beliau selalu mengajariku akan
kesederhanaan, keramahan, kemandirian serta ketaatan dalam beragama. Pelajaran-pelajaran
tersebut belaiu sampaikan kepadaku setiap hari. Beliau tak mengenal kapan dan
dimana harus mengajarkan nilai-nilai tersebut kepadaku. Yang ku tahu hanyalah
bapakku pengajar paling setia disepanjang hidupku.
Seperti anak desa lainnya, harta yang paling berharga dari seorang bapak
zaman dahulu adalah beberapa petak sawah. Sembari mengajar pendidikan agama
islam, bapaku tak enggan untuk mengurus sendiri sawah pemberian kakekku itu.
Beliau selalu mengurusnya ketika waktu mengajar telah usai. Tak ayal diakhir
bulan selalu saja bapak membawa hasil panen apa itu berupa jagung, ketela
ataupun hanya seikat kacang tanah yang masih mentah.
Masih lekat diingatanku ketika beliau mengajakku untuk ikut menanam
jagung di sawah kakek. Beliau mengajariku akan pemilihan bibit jagung yang baik
untuk ditanam, kapan waktu tanam terbaik untuk tanaman jagung dan berbagai
macam ilmu tanam pada waktu itu. Walaupun kala itu aku hanya sebatas
mendengarkan, tapi aku percaya pengenalan-pengenalan itulah merupakan salah
satu cara bapakku untuk mengajarkan aku akan kehidupan sebenarnya.
‘klonteng…klonteng…klonteng…’
Akupun tersentak
dan mulai berusaha untuk keluar dari lamunanku.
‘Alkhamdulillah,
gumamku yang dihiasi dengan senyuman.
Bersambung….

