Powered By Blogger

Tuesday, 17 January 2012

LONCENG PAK SAWAH

Sepenggal 'NOVEL Sepucuk Surat Untuk BapakKu' karya Alfan Danny Arbianto


‘Klonteng…klonteng…klonteng…”
Pagi itu mataku terbelalak ketika suara alarem dari pak sawah sampai ketelingaku. Diakhir akhir bulan Desember mulai sering terdengar suara gaduh itu dari luar kamarku. Suara gaduh itu berasal dari alat pengusir burung pak sawah. Sekarang ini pak sawah selalu datang lebih awal daripada biasanya. Biasanya pak sawah mulai beraktifitas setelah matahari keluar dari sarangnya, namun untuk akhir-kahir ini pak sawah selalu mendahului terbitnya matahari. Tak ada alasan lain bagi pak sawah untuk tidak berangkat lebih awal kecuali untuk menyelamatkan butiran-butiran padinya dari gangguan burung pipit yang selalu bertengger di setiap batang padinya.
Dengan otak masih dengan setengah sadar, ku mulai dekati jendela kamarku yang bertambah kusam karena jarang sekali dibersihkan. Keduanya bertambah buram ketika bercak-bercak debu mulai membekas bak tetesan air hujan yang kerap menguyur keduanya. Tanpa ada ragu sedikitpun untuk membuka keduanya dengan sepenuh tenaga.
‘Greg…’
‘wussssss’
Hempasan angin serta embun pagi terasa menusuk dihidungku. Denyut nadiku seolah-olah terhenti sesaat dengan datangnya dinginnya pagi. Aroma kesegaran serta indahnya kicauan burung mulai membawaku kepada kesadaran seutuhnya. Keadaan itu kerap kali terasa karena kamarku berada dilantai dua, dengan hamparan puing-puing material bangunan perumahan serta beberapa petak sisa sawah dari proyek pembangunan perumahan sehingga secuil suasana sawah yang membentang dibelakang kamarku masih terpampang indah setiap pagi. Tak tahu sampai kapan suara gaduh dari pak sawah bertahan dan akan tergantikan dengan kegaduhan mesin-mesih kendaraan bermotor serta perabotan rumah tangga lainnya yang memicu bunyi-bunyian yang akan mengganggu kenikmatan tidurku. Untuk saat ini aku hanya mampu berharap akan kesehatan pak sawah agar tetap membangunkanku ketika esok hari datang lagi.

Dari sela-sela debu yang menempel di kedua kaca jendela kamarku terlihat dengan jelas ribuan batang padi yang mulai menguning dengan dihiasi beberapa ekor burung yang beradu cepat dengan pak sawah. Bak seorang cow boy pak sawah dengan cekatnya menarik beberapa tali yang telah terpancang rapi di gubuknya ketika beberapa burung hinggap di setiap ranting tanaman padinya. Mulut pak sawah tetap membisu seribu kata, hanya kedua bola matanya serta kedua tanggnya yang selalu aktif ketika burung-burung datang. Sembari memperhatikan butiran padinya, terkadang pak sawah tak henti-hentinya memilah milah bibit tanaman yang akan ditanaman dimusim tanam mendatang misalnya jagung, kacang-kacangan atau sejenisnya.
Lonceng buatan pak sawah sangatlah sederhana, dengan bermodalkan kaleng bekas susu dan tali plastik, pak sawah mampu menciptakan alat yang paling sederhana untuk mengagetkan para burung ketika hinggap di batang-batang padi. Beberapa peneliti di bidang pertanian menyatakan bahwa cara tersebut sebenarnya kurang efektif karena untuk beberapa kali penarikan oleh pak sawah burung akan mampu merekam ritme yang sama ketika pak sawah mengulanginya lagi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut nampaknya sudah dipertimbangkan oleh pak sawah, karena sepanjang saya mendengarkan lonceng yang dimainkan oleh pak sawah, menghasilkan ritme yang berbeda-beda disetiap waktu yang berbeda pula. Oleh sebab itulah yang menguatkan diriku untuk tetap mendoakan pak sawah tetap sehat dan tetap setia untuk membangunkanku di setiap pagi. Hingga saat ini akupun tak pernah tahu dan tak mau tahu darimana si pak sawah mendapatkan ide cerdas itu. Aku hanya berperasangka bahwa Tuhan Semesta Alam lah yang mengajari beliau akan khidupan sawah sebenarnya dan yang pasti lagi adalah aku tetap bisa bangun pagi karena lonceng pak sawah.
Suara lonceng pak sawah dan segarnya udara pagi tak terasa membawaku ke tingkat tertinggi dari sebuah kenangan akan seorang pria hebat yang sekarang telah bertambah lemah karena lelah akan kehidupan dunia yang telah dijalaninya bertahun-tahun. Pria ini telah mengenyam manis pahitnya kehidupan mulai dari tahun 1945. Tepat 5 hari sebelum kemerdekaan Republik Indonesia anak keenam dari pasangan Bapak Karyadi dan Ibu Khotijah ini dilahirkan ke dunia dengan bantuan seorang dukun bayi. Anak keenam dari pasangan pejuang kemerdekaan itu diberi nama Muhammad Yahya Maulana Yusuf Ibrahim. Betapa panjang nama yang disematkan kepada anak keenam mereka sepanjang harapan-harapan keduanya di kehidupan mendatang. Yusuf merupakan satu-satunya anak laki-laki yang dilahirkan dari kedua pejuang 45 tersebut. Keduanya menaruh jutaan mimpi kepada yusuf. Oleh sebab itulah ayahnya rela membanting tulang bekerja sebagai petani demi anaknya menjadi seorang guru ngaji.
Usamnya daun padi yang menguning bagaikan perubahan warna rambut yusuf tua yang sekarang menjadi bapakku, dari hitam legam menjadi putih karena dimakan usia. Masih terngiang ditelingaku ketika bapakku menemaniku ke Jogjakarta untuk bersekolah di salah satu universitas tertua di Indonesia.
“dek, jangan lupa solat, belajar ya”
“InsyaAllah Pak”, jawab ku sambil tersenyum.
Percakapn itupula yang membawa aku untuk mengenang betapa gigihnya perjuangan bapakku dalam mengantarkan aku ke kota Jogjakarta. Suatu kebanggaan tersendiri bagi bapakku yang hanya guru ngaji kampungan,mengantarkan anaknya di universitas terkemuka di Indonesia. Bapakku hanyalah seorang guru ngaji di sebuah desa kecil di kabupaten Tegal. Beliau selalu mengajariku akan kesederhanaan, keramahan, kemandirian serta ketaatan dalam beragama. Pelajaran-pelajaran tersebut belaiu sampaikan kepadaku setiap hari. Beliau tak mengenal kapan dan dimana harus mengajarkan nilai-nilai tersebut kepadaku. Yang ku tahu hanyalah bapakku pengajar paling setia disepanjang hidupku.
Seperti anak desa lainnya, harta yang paling berharga dari seorang bapak zaman dahulu adalah beberapa petak sawah. Sembari mengajar pendidikan agama islam, bapaku tak enggan untuk mengurus sendiri sawah pemberian kakekku itu. Beliau selalu mengurusnya ketika waktu mengajar telah usai. Tak ayal diakhir bulan selalu saja bapak membawa hasil panen apa itu berupa jagung, ketela ataupun hanya seikat kacang tanah yang masih mentah.
Masih lekat diingatanku ketika beliau mengajakku untuk ikut menanam jagung di sawah kakek. Beliau mengajariku akan pemilihan bibit jagung yang baik untuk ditanam, kapan waktu tanam terbaik untuk tanaman jagung dan berbagai macam ilmu tanam pada waktu itu. Walaupun kala itu aku hanya sebatas mendengarkan, tapi aku percaya pengenalan-pengenalan itulah merupakan salah satu cara bapakku untuk mengajarkan aku akan kehidupan sebenarnya.
‘klonteng…klonteng…klonteng…’
Akupun tersentak dan mulai berusaha untuk keluar dari lamunanku.
‘Alkhamdulillah, gumamku yang dihiasi dengan senyuman.
Bersambung….

No comments:

Post a Comment