Monday, 16 January 2012
mengapa harus AKU yang diKECILKAN
Seorang lulusan kimia FMIPA saat ini masih dipandang sebelah mata. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih mengganggap bahwa lulusan kimia FMIPA lebih cenderung berhubungan dengan pendidikan/menjadi pengajar atau bekerja di laboratorium sebuah perusahaan. Pandangan tersebut akan hilang apabila sudah dihadapkan suatu realita yang mengatakan bahwa ada banyak lulusan kimia FMIPA yang menjadi pengusaha di bidangnya. Misalnya saja Prof. Bambang Setyaji, beliau adalah salah seorang lulusan kimia FMIPA yang menjadi wirausaha minyaj kelapa dan pengembangannya dan masih banyak tokoh yang lain. Oleh sebab itulah saya percaya dengan kemampuan saya sebagai seorang calon lulusan sarjana kimia akan dapat merubah Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik.
Setiap negara di dunia pasti menginginkan suatu perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan itu biasanya dilihat dari beberapa sektor diantaranya perekonomian, politik, sosial dan budaya. Namun dari keempat sektor itu yang paling sering dikaji dan dianggap sebagai sector pembangunan yang paling esensial di suatu negara yaitu sektor ekonomi. Pembangunan merupakan suatu proses dan usaha untuk meningkatkan kehidupan ekonomi politik, budaya, infrastruktur masyarakat dan sebagainya agar menjadi lebih baik dari sebelumnya (Mansour Fakih). Negara Indonesia termasuk salah satu Negara yang sangat berkembang dari semua sektor pembangunan. Perkembangan tersebut terkadang tidak diimbangi dengan peningkatan kemampuan dari masyarakat Indonesia, sehingga akan berdampak pada penurunan tingkat perekonomian pada sektor real akibatnya usaha kecil mandiri akan kalah saing dengan perusahaan luar negeri, karena kita tahu bahwa Indonesia sudah menerapkan sistem pasar bebas. Dengan adanya sistem perekonomian global yang dianut oleh Indonesia berimbas pada mudahnya pihak asing untuk mendirikan suatu badan usaha. Dengan adanya hal tersebut masyarakat Indonesia dituntut untuk meningkatkan kemampuannya agar bisa bersaing dengan pihak asing yang masuk ke Indonesia.
Daya konsumsi masyarakat Indonesia sangatlah tinggi jika melihat sesuatu yang baru. Hal ini berdampak pada besarnya jumlah impor kendaraan bermotor produk Jepang, sehingga menyebabkan memenurunnya kualitas lingkungan pada daerah perkotaan. Salah satunya yaitu tingkat pencemaran karbon monoksida pada udara meningkat.
Usaha kecil mandiri seperti pengrajin knalpot di Indonesia masih kurang berkembang sehingga eksistensinya di dalam dunia otomotif masih dikuasai oleh pihak asing seperti Jepang, China maupun negara-negara Eropa. Namun jika dilakukan pengembangan produk knalpot maka hasilnya akan lebih baik dari pada produk luar negeri. Pengembangan produk yang dilakukan misalnya penambahan bahan converter gas emisi CO menjadi gas CO2. Hal tersebut secara tidak langsung akan menguntungkan pihak pengrajin knalpot lokal dan juga akan menurunkan tingkat pencemaran gas CO di udara.
Pencemaran udara ini merupakan penyumbang dari kerusakan bumi kita dan juga sebagai salah satu penyebab kematian bagi umat manusia. (Lutgens dan Tarbuck,1982) dan (Fardiaz, 1992) menyatakan bahwa udara tidak akan pernah bersih, beberapa gas seperti sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), dan karbon monoksida (CO) selalu dibebaskan ke udara karena senantiasa ada sumber polusi alami seperti asap dari letusan gunung berapi, spora 5 dari tanaman, asap dari kebakaran hutan dan sampah, gas-gas yang dihasilkan oleh pembusukan sampah. Selain itu, partikel-partikel padatan atau cairan berukuran kecil dapat tersebar di udara oleh angin, letusan gunung berapi, atau gangguan alam lainnya, seperti erosi tanah. Sumber polusi selain alami, yaitu karena adanya aktivitas manusia (Farida, 2004). Dari hasil observasi menyatakan bahwa di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal, 13-44% suspended particulate matter (SPM), 71-89% hidrokarbon, 34-73% NOx, dan hampir seluruh karbon monoksida (CO) ke udara Jakarta.
Dari banyak gas penyebab pencemaran udara yang berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup salah satunya yaitu karbon monoksida (CO). Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolisme, ikut bereaksi secara metabolisme dengan darah. Seperti halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan darah (hemoglobin) :
Hemoglobin + O2 –> O2Hb (oksihemoglobin)
Hemoglobin + CO –> COHb (karboksihemoglobin)
Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman kalau waktu kontak hanya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap manusia selama 8 jam akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Pengaruh karbon monoksida (CO) terhadap tubuh manusia ternyata tidak sama dengan manusia yang satu dengan yang lainnya. [2]
Kadar dari gas karbon monoksida sebenarnya dapat dikurangi apabila diciptakan suatu alat yang nantinya akan mengubah gas karbon monoksida (CO) menjadi gas karbon monoksida (CO2). Gas karbondioksida kebebradaannya merupakan sumber dari penyebab adanya efek rumah kaca. Kadar CO2 di alam sebenarnya dapat dikontrol kadarnya dengan adanya pohon-pohon yang dapat melakukan proses fotosintesis sendiri. Karbon aktif merupakan salah satu bahan kimia yang jika dilakukan suatu impregnasi atau pengembanan suatu logam maka akan membentuk suatu katalis yang bersifat oksidarsi terhadap suatu senyawa kimia. [3]
Dapat diketahui bahwa untuk mendapatkan suatu karbon alam tidaklah susah. Karbon alam dapat terbentuk dari tempurung kelapa, sekam padi, pelepah pisang dan masih banyak yang lain. Pelepah pisang sangatlah jarang digunakan di dalam membuat karbon alam, padahal kita tahu bahwa banyak pohon pisang tumbuh di segala tempat, seperti di sawah, tanah kosong, hutan, dan sebagainya. Padahal, akan lebih bermanfaat bila batang pohon pisang dapat kita gunakan, selain buah dan daunnya, daripada pohon tersebut ditebang dan batangnya disia-siakan. Berangkat dari hal itu saya ingin mencoba mengajak para pengrajin knalpot lokal untuk memanfaatkan batang pisang sebagai karbon aktif yang dapat digunakan sebagai katalis ataupun adsorben.
Pembuatan karbon aktif dari batang pisang ini belum banyak dilakukan. Sedangkan penggunaan bahan baku lainnya seperti tempurung kelapa telah banyak dilakukan dalam skala laboratorium. Aktivasi karbon dengan bahan kimia paling umum digunakan dalam skala laboraorium. Namun, penggunaan bahan–bahan kimia seperti asam nitrat, zink klorida, dan kalium hidroksida dapat menimbulkan masalah baru (Husni, dkk., 2005).
Katalis merupakan salah satu bahan kimia yang dapat mempercepat proses reaksi kimia. Salah satu reaksi kimia yang menggunakan katalis yaitu perubahan gas CO menjadi CO2. Pada umumnya reaksi ini berjalan pada suhu yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan suhu lingkungan yang tinggi pula. Untuk menjaga keefisiensian penggunaan katalis banyak dilakukan impregnasi atau penempelan katalis pada karbon aktif atau sejenisnya. Jika proses impregnasi dimungkinkan pada karbon aktif maka proses pembuatan converter gas emisi CO pada knalpot dapat dilakukan. Hal tersebut akan berimbas pada produk knalpot yang dihasilkan akan berbeda dengan knalpot yang ada dipasaran sekarang.
Proses impregnasi cukup mudah dilakukan dan dipelajari oleh semua kalangan dengan jenjang pendidikan yang relative rendah, misalnya lulusan SMP atau pun SMA. Impregnasi nikel klorida pada karbon aktif dilakukan dengan cara pembasahan ( dalam hal ini digunakan dua macam pelarut yaitu aquades dan etanol ) kemudian dikeringkan pada suhu 110°C dan dikalsinasi pada 400°C selama 4 jam. selanjutnya sampel direduksi dengan gas hidrogen pada suhu 4000°C selama 4 jam.
Setelah dilakukan penempelan katalis pada karbon aktif kemudian dilakukan pembentukan converter dengan menggunakan prinsip Fixed-bed Reactor. Pertikel-pertikel katalis diletakkan dalam suatu tube silindris yang dilewati oleh gas CO dari emisi kendaraan. Tube berukuran diameter 6 cm dengan panjang 10 cm diisi dengan katalis dan ditempatkan pada knalpot.
Jika proses pembuatan kenalpot di atas disosialisasikan kepada semua pengusaha knalpot lokal di Indonesia maka saya berasumsi bahwa knalpot yang dihasilkan akan dapat bersaing dengan produk luar negeri. Dengan adanya peningkatan kualitas produk maka akan meningkat pula tingkat penghasilan para pengrajin knalpot lokal. Adapun efek jangka panjangnya yaitu tingkat pencemaran gas CO di Indonesia dapat dikurangi dengan penggunaan knalpot pengconverter gas CO.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

chayooo S.Si ^^
ReplyDeletemari qt buktikan pd dunia klo qt bz.. hoho :D
ayo...ayo...ajakin yang lainnya, loh...hahahaha
ReplyDelete