Powered By Blogger

Tuesday, 28 August 2012

Aku ini Pecundang dan Pendusta Ulung


Aku adalah seorang pecundang yang selalu mengaku seorang pahlawan. Seorang pecundang akan mundur dan melarikan diri ketika masalah datang. Aku adalah seorang pendusta ulung, karena ikrar setia ketika masih di dalam kandungan ibu sering ku abaikan, padahal Dia telah memberikan lima kesempatan waktu dimana kita dapat bercumbu untuk melepas semua rasa kangen yang telah lama dimakan usia dan salah satu action dari ikrar setia yang kita ucapkan dahulu kala. Malasnya si pendusta sebenarnya telah diketahui oleh Sang Pencipta, oleh sebab itulah Dia memberikan beberapa keringanan bagi sang pendusta dalam hal bersuci ataupun pelaksanaannya. Keringan-keringanan itu sebenarnya salah satu kemudahan untuk meng-ECTION kan ikrar setia yang kita ucapkan.
Semakin lama sang pendusta itu hidup, semakin luntur bahkan semakin gak percaya diri ‘Apakah bener, kita telah berikrar?’ Mungkin pertanyaan tersebut tak pernah disadari oleh sang pendusta terucap dari mulutnya, namun tingkah lakunya serta pola fikirnya lah yang menggambarkan pertanyaan tersebut terucap secara jelas. Salah satu efek dari pertanyaan tersebut adalah sang pendusta akan selalu merasa tidak mampu dalam menghadapi ujian-Nya, padahal sudah jelas bahwa disetiap ujiannya pasti ada jawaban yang nantinya akan meningkatkan derajat bagi sang pendusta.
Karena sang pendusta pernah mengaku pahlawan, maka untuk menjawab pertanyaan tersebut sang pendusta berandai-andai untuk berkompetisi dengan waktu. Apajadinya jika sang pendusta mempu menghentikan waktu satu menit saja ketika sedang bercumbu dengan-Nya. Betapa nikmat sang pendusta, jikalau dia mampu untuk melakukan itu setiap lima waktu.

Thursday, 2 August 2012

Pemikiran Mahasiswa ‘GILA’?


Panas terik di Yogyakarta tanggal 27 Maret 2009 tak dapat dirasakan oleh salah seorang mahasiswa tingkat 2 Universitas Negeri di Yogyakarta. Tepat jam 10 mahasiswa tersebut membentangkan spanduk di depan rektorat. Sepanduk tersebut bertuliskan:
‘Universitas Macam Apaan ini !?,
Mahasiswa sendiri di JAJAH pemerintah Sendiri?
Kalian (akademisi) Pernahkah Sadar akan Itu?
Begitu membingungkan bukan?, setiap orang yang melihat spanduk itu terperangah keheranan melihat tingkah laku mahasiswa tersebut. Apakah mahasiswa tersebut ‘STREZ’ akibat tekanan hidup sebagai mahasiswa ataukah memang benar pertanyaan-pertanyaan tersebut patut dilontarkan kita.
Hampir 12 jam mahaiswa tersebut membentangkan spanduk tersebut di depan rektorat, alhasil adalah mahasiswa tersebut diusir oleh Satuan Keamanan Kampus. Dengan dalih ingin berdiskusi dengan Pak Rektor, Mahasiswa ini tetap bersikukuh duduk dan membentangkan spanduk tadi. Namun hal tersebut sia-sia, karena mahasiswa tersebut tak punya daya untuk melawan 5 SKK yang mengusirnya dari depan rektorat.
Dengan penuh keingin tahuan, saya yang awalnya hanya berdiam diri duduk di trotoar akhirnya menghampiri mahasiswa tadi dan menanyakan semua maksud dari tulisan yang dia tulis. Usut punya usut ternyata pemikiran mahasiswa yang satu ini cukuplah logic, karena mahasiswa ini berfikir bahwa Program Kreativitas Mahasiswa yang dibuat oleh Pemerintah (DIKTI) merupakan salah satu belenggu yang dibuat untuk memperlemah kualitas Bangsa Indonesia itu sendiri. Kenapa?
                Karena, Lewat program tersebut setiap mahasiswa di Indonesia diiming-imingi uang yang lebih dari cukup (bagi mahasiswa) untuk tetap berkreatif. ‘Loh, itu kan bagus kan?’, kata aku keheranan.
‘Ada bagus, ada enggaknya mas’, jawab mahasiswa tersebut.
‘Coba jelaskan mas?’ lanjut saya.
‘Segi bagusnya adalah Mahasiswa Indonesia akan tetap di asah daya otaknya agar tetap dan selalu berfikir kreatif akan fenomena-fenomena yang dianggapnya sesuatu hal yang baru dan patut untuk di teliti. Hal jeleknya adalah MAHASISWA Indonesia hanya akan berfokus di masalah-masalah yang baru tidak memperhatikan masalah-masalah yang lama. Misalnya kita lihat dari segi pertanian, kita pasti telah sadar dan pasti mengakui bahwa tanah kita subur TAPI KENAPA banyak hasil pertanian yang impor dari luar negeri?, kenapa dana-dana itu tidak difokuskan untuk meniliti masalah-masalah yang muncul itu?. Dari bidang teknologi juga seperti itu mas, kita hanya mampu berkreasi tapi sangat susah untuk merealitasikan menjadi produk jadi (seperti kasus mobil SMK) dan masih banyak lagi mas.’
Dengan penuh heran, aku pun hanya berkata ‘Oooo seperti itu ya?’.
‘Mari mas’, kata mahasiswa tadi yang kemudian melanjutkan perjalannya.
Memangkah benar hal tersebut tang difikirkan mahasiswa tadi?, Kita sebenarnya di kurung di sebuah kurungan yang begitu besar sehingga ita tidak mampu merasakan kehadiran kurungan tersebut. Kita hanya mampu dan mengikuti pola yang dibuat oleh si pembuat kurungan tersebut (dalam hal ini pemerintah) tanpa menyadari efek jangka pajang yang dibuat oleh si pembuat kurungan itu.
‘Semoga kita dianugrahi berfikir seperti Mahasiswa ‘GILA’ tadi yaitu berfikir diluar pengekang-pengekang yang merampas kekuasaan akan diri kita sendiri’.