Aku adalah seorang pecundang yang selalu mengaku seorang pahlawan. Seorang
pecundang akan mundur dan melarikan diri ketika masalah datang. Aku adalah
seorang pendusta ulung, karena ikrar
setia ketika masih di dalam kandungan ibu sering ku abaikan, padahal Dia
telah memberikan lima kesempatan waktu dimana kita dapat bercumbu untuk melepas
semua rasa kangen yang telah lama dimakan usia dan salah satu action dari ikrar setia yang kita
ucapkan dahulu kala. Malasnya si pendusta sebenarnya telah diketahui oleh Sang
Pencipta, oleh sebab itulah Dia memberikan beberapa keringanan bagi sang
pendusta dalam hal bersuci ataupun pelaksanaannya. Keringan-keringanan itu
sebenarnya salah satu kemudahan untuk meng-ECTION kan ikrar setia yang kita
ucapkan.
Semakin lama sang pendusta itu hidup, semakin luntur bahkan semakin gak
percaya diri ‘Apakah bener, kita telah
berikrar?’ Mungkin pertanyaan tersebut tak pernah disadari oleh sang
pendusta terucap dari mulutnya, namun tingkah lakunya serta pola fikirnya lah
yang menggambarkan pertanyaan tersebut terucap secara jelas. Salah satu efek
dari pertanyaan tersebut adalah sang pendusta akan selalu merasa tidak mampu
dalam menghadapi ujian-Nya, padahal sudah jelas bahwa disetiap ujiannya pasti
ada jawaban yang nantinya akan meningkatkan derajat bagi sang pendusta.
Karena sang pendusta pernah mengaku pahlawan, maka untuk menjawab
pertanyaan tersebut sang pendusta berandai-andai untuk berkompetisi dengan
waktu. Apajadinya jika sang pendusta mempu menghentikan waktu satu menit saja
ketika sedang bercumbu dengan-Nya. Betapa nikmat sang pendusta, jikalau dia
mampu untuk melakukan itu setiap lima waktu.
