Panas terik di Yogyakarta tanggal 27 Maret 2009 tak dapat dirasakan oleh
salah seorang mahasiswa tingkat 2 Universitas Negeri di Yogyakarta. Tepat jam
10 mahasiswa tersebut membentangkan spanduk di depan rektorat. Sepanduk
tersebut bertuliskan:
‘Universitas
Macam Apaan ini !?,
Mahasiswa
sendiri di JAJAH pemerintah Sendiri?
Kalian
(akademisi) Pernahkah Sadar akan Itu?
Begitu membingungkan bukan?, setiap orang yang melihat spanduk itu
terperangah keheranan melihat tingkah laku mahasiswa tersebut. Apakah mahasiswa
tersebut ‘STREZ’ akibat tekanan hidup sebagai mahasiswa ataukah memang benar
pertanyaan-pertanyaan tersebut patut dilontarkan kita.
Hampir 12 jam mahaiswa tersebut membentangkan spanduk tersebut di depan
rektorat, alhasil adalah mahasiswa tersebut diusir oleh Satuan Keamanan Kampus. Dengan dalih ingin berdiskusi dengan Pak
Rektor, Mahasiswa ini tetap bersikukuh duduk dan membentangkan spanduk tadi.
Namun hal tersebut sia-sia, karena mahasiswa tersebut tak punya daya untuk
melawan 5 SKK yang mengusirnya dari
depan rektorat.
Dengan penuh keingin tahuan, saya yang awalnya hanya berdiam diri duduk
di trotoar akhirnya menghampiri mahasiswa tadi dan menanyakan semua maksud dari
tulisan yang dia tulis. Usut punya usut ternyata pemikiran mahasiswa yang satu
ini cukuplah logic, karena mahasiswa ini berfikir bahwa Program Kreativitas Mahasiswa yang dibuat oleh Pemerintah (DIKTI)
merupakan salah satu belenggu yang dibuat untuk memperlemah kualitas Bangsa Indonesia itu sendiri.
Kenapa?
Karena,
Lewat program tersebut setiap
mahasiswa di Indonesia diiming-imingi uang yang lebih dari cukup (bagi
mahasiswa) untuk tetap berkreatif. ‘Loh,
itu kan bagus kan?’, kata aku keheranan.
‘Ada bagus, ada
enggaknya mas’, jawab mahasiswa tersebut.
‘Coba jelaskan
mas?’ lanjut saya.
‘Segi bagusnya
adalah Mahasiswa Indonesia akan tetap di
asah daya otaknya agar tetap dan selalu berfikir kreatif akan fenomena-fenomena
yang dianggapnya sesuatu hal yang baru dan patut untuk di teliti. Hal jeleknya
adalah MAHASISWA Indonesia hanya akan berfokus di masalah-masalah yang baru
tidak memperhatikan masalah-masalah yang lama. Misalnya kita lihat dari segi
pertanian, kita pasti telah sadar dan pasti mengakui bahwa tanah kita subur
TAPI KENAPA banyak hasil pertanian yang impor dari luar negeri?, kenapa
dana-dana itu tidak difokuskan untuk meniliti masalah-masalah yang muncul itu?.
Dari bidang teknologi juga seperti itu mas, kita hanya mampu berkreasi tapi
sangat susah untuk merealitasikan menjadi produk jadi (seperti kasus mobil SMK)
dan masih banyak lagi mas.’
Dengan
penuh heran, aku pun hanya berkata ‘Oooo seperti itu ya?’.
‘Mari
mas’, kata mahasiswa tadi yang kemudian melanjutkan perjalannya.
Memangkah benar hal tersebut tang
difikirkan mahasiswa tadi?, Kita sebenarnya di kurung di sebuah kurungan
yang begitu besar sehingga ita tidak mampu merasakan kehadiran kurungan
tersebut. Kita hanya mampu dan mengikuti pola yang dibuat oleh si pembuat kurungan tersebut (dalam hal
ini pemerintah) tanpa menyadari efek jangka pajang yang dibuat oleh si pembuat
kurungan itu.
‘Semoga
kita dianugrahi berfikir seperti Mahasiswa ‘GILA’ tadi yaitu berfikir diluar
pengekang-pengekang yang merampas kekuasaan akan diri kita sendiri’.

No comments:
Post a Comment