Powered By Blogger

Tuesday, 26 July 2011

“Belajar Kehidupan dari Pak Dodo, Paijo dan Samijo”

Sembari menunggu berbuka puasa, sebagai seorang mahasiswa yang baik saya selalu membaca buku, baik buku pelajaran maupun buku yang lain disetiap waktu luangku, walaupun memang kebanyakan dari buku yang ku baca adalah buku cerita. Terdengar bunyi gaduh dari sebuah cakruk ( istilah pos ronda, dalam bahasa Jawa) disebelah kost. Dengan penuh curiga akhirnya aku langsung menutup buku dan langsung menuju pintu untuk mendekat ke cakruk sebelah rumah. Selidik punya selidik ternyata ada pak Dodo, pak Paijo dan Pak Samijo. Ketiganya sedang asyik meributkan satu bendel uang yang berada ditangan pak Dodo.
Sebelum melanjutkan cerita, sebelumnya saya terangkan dulu siapa pak Dodo, pak Paijo dan pak Samijo. Jadi Ketiga bapak-bapak itu sebenarnya adalah bapak-bapak terpenting didalam kehidupan komplek perumahan yang saya huni. Semua warga komplek seringkali menggunakan jasa mereka-mereka. Pak Dodo adalah seorang Penarik Becak, setiap hari beliau yang mengantar anak-anak komplek untuk berangkat ke TK. Pak Paijo adalah seorang Penarik Ojek, setiap hari beliau tak kan pernah malas jika dimintai tolong Ibu Kost saya, untuk mengantarkan Painem (Pembantu di kost Saya) untuk pergi ke pasar. Sedangkan Pak Samijo adalah salah satu bapak yang digemari tante-tante komplek, dari tante-tante yang punya muka pas-pas an hingga yang paling cantik. Tak bosan bagi pak Samijo untuk selalu mengangkat telfonnya untuk melayani tante-tante itu setiap hari, karena Setiap kali mereka ingin ke mall pasti nelpon pak Samijo. Itu lah salah satu bagian terunik dari komplek perumahan tempat aku tinggal di Jogjakarta. Sudah hampir empat tahun saya tinggal bersama mereka.
Kembali ke permasalahan semula, pada awal saya keluar dari pintu kost, saya masih bingung akan keributan yang terjadi di cakruk. Tanpa ragu saya pun langsung memotong omongan bapak-bapak itu,
“Ada apa to Pak?, rame bener, sampe-sampe dari dalem kost aja kedengaran?” tanya saya.
“Ini loh mas Alphan, Pak Dodo itu nemuin satu bendel uang, gak tau berapa nilainya”, jawab Pak paijo.
“Loh, memang bagaimana sih Pak, ceritanya?”, tanya saya kepada semuanya.
Tanpa diberi komando, dengan penuh semangat Pak Dodo sebagai penemu bendelan uang lalu menjelaskan kepada saya.
“Jadi begini mas Alphan ceritanya, tadikan kami bertiga dari masjid, terus dengan tujuan yang sama yaitu cakruk, kita pulang dengan kendaraan masing-masing. Terus tiba-tiba disaat saya mengayunkan kaki, eh tau-tau saya melihat bungkusan dipinggir jalan. Saya pun berhenti mas alphan, dan akhirnya tak ambil. Sesampainya di cakruk kita buka rame-rame, eh…taunya uang satu bendel. Niatnya sih mau tak umumin di masjid, tapi mereka berdua mengusulkan untuk dibagi-bagi saja.”
“Toh, uang ini juga bukan hasil kita mencuri.” Saut Pak Samijo.
“Lagian, kita juga sama-sama butuh”, sambung Pak Paijo.
“Ow, beitu to masalahnya…ya sudah terserah Bapak-Bapak aja deh, toh itu juga yang nemuin pak Dodo. Permisi dulu Pak sudah masuk solat Magrib.
Dari peristiwa di atas pasti Anda merasa bosan untuk membacanya, karena ada beberapa sebagian orang menganggap cerita itu adalah cerita yang hampa tanpa makna. Namun jika kita cermati dengan lebih dalam lagi dari profesi Pak Dodo, Pak Paijo dan Pak Samijo maka kita akan menemukan makna hidup dari sepenggal kisah ketiga bapak tersebut.
Dari kisah di atas, pantas Pak Dodo mendapatkan sesuatu hal yang lebih dari pada yang lainnya, karena jika kita mengandaikan kecepatan kendaraan dari setiap profesi yang mereka jalani, pak dodolah yang menikmati perjalan didalam melaju kendaraannya menuju cakruk. Kemungkinan pak dodo untuk melihat kejadian-kejadian sekitar lebih tinggi dibandingkan kedua bapak yang lain. Pak dodo dapat bercerita lebih banyak daripada yang lain di saat setelah sampai di cakruk.
Bayangkan saja, jikalau titik awal “masjid” disetarakan sebagai “KELAHIRAN” kita didunia, sedangkan cakruk adalah tujuan akhir hidup kita yaitu “AKHIRAT”, maka proses perjalanan adalah dari dua titik tersebut yang paling menentukan “apakah kita menjadi orang yang bermanfaat ataukah tidak?”, semakin lambat kita menyelami peristiwa-peristiwa Tuhan, semakin detail pula kita memahami ilmu Tuhan, semakin cepat kita menyelami peristiwa-peristiwa Tuhan semakin cepat pula kita merasakan kehampaan di dalam hidup.

No comments:

Post a Comment