Powered By Blogger

Sunday, 31 July 2011

Berbudaya dengan frasa ‘mohon maaf lahir dan batin’

Frasa “mohon maaf lahir dan batin” santer terdengar apabila datang bulan suci Ramadhan. Setiap orang berlomba-lomba untuk mengucapkannya. Media penyampaian frasa tersebut sangatlah banyak dari mulai diucapkan secara langsung (bahasa gaul: cot to cot) hingga HP supercanggih, dari mulai telepon hingga telepati semuanya berusaha menjadi yang lebih awal untuk mengucapkan “mohon maaf lahir dan batin”.
Budaya Indonesia telah mengajarkan kesederhanaan makna maaf dari frasa tersebut. Jikalau kita cermati perilaku kita, frasa tersebut kuranglah cocok disematkan pada setiap Individu karena padahakikatnya semua perbuatan kita selalu dikontrol oleh “hati” kita terlebih dahulu sebelum kita lakukan menjadi sebuh perbuatan yang dilakukan oleh raga kita. Sehingga apabila kita melakukan sebuah kesalahan pasti dimulai dari hati kita, walaupun memang terkadang identifikasi untuk setiap perbuatan kita yang salah masih seringkali tidak kita rasakan (bahasa jawanya: Ujug-ujug kedaden). Jika kita menganut pengertian itu maka frasa “mohon maaf lahir dan batin” seharusnya “mohon maaf batin dan lahir”.
Namun, karena Bangsa Indonesia merupakan Bangsa yang rendah hati, maka pemaknaan permintaan maaf selalu diawali dengan lahirian dahulu baru kemudian batiniah. Kemampuan seseorang untuk melihat kesalahan secara lahiriah lebih mudah daripada batiniah. Dengan mudahnya intepretasi setiap kesalahan lahir diharapkan sebagai awal pembuka pintu maaf secara batiniah sehingga akan menciptakan suatu keharmonisan dalam bersilaturakhmi diantara sesame. Budaya “mohon maaf lahir dan batin” di ekspresikan oleh masyarakat Indonesia dengan acara “padusan”. Tradisi padusan ini akan selalu dilakukan secara turun temurun oleh sebagian masyarakat Indonesia. Tradisi padusan merupakan salahsatu simbol masyarakat Indonesia jaman dahulu untuk mengartikan “pembersihan secara lahir” (identik dengan ‘mohon maaf secara lahiriah’) sebelum memasuki pembersihan secara ‘batiniah’ yaitu puasa Ramadhan.
Maka tepatlah jika budaya Indonesia melahirkan “mohon maaf lahir dan batin” yang baik dan membaikan.

No comments:

Post a Comment