Powered By Blogger

Saturday, 28 July 2012

Kapan kah kita berkuasa pada diri kita?


Pernahkah kita berfikir bahwa kita sebenarnya hidup di dunia ini tidak mempunyai kuasa sedikitpun atas semua yang melekat pada diri kita. Nama diri kita pun sebenarnya hasil dari consensus dari sebuah kesepakatan antara keluarga kita dan orang lain yang mengatakan dan mengesahkan bahwa anak manusia yang baru lahir ini kemudian diberi nama ‘paijo’ (misalnya). Dalam istilah jawa biasa disebut ‘ditengeri’. Hasil kesepakatan tersebut tertuang pada akta kelahiran kita.
Untuk mempermudah pemahaman tersebut maka dapat dimisalkan, suatu kita di tanya oleh seseorang, ‘Namanya siapa?’, lalu Anda akan menjawab ‘Nama saya Paijo. Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah mana buktinya yang menunjukan bahwa nama Anda adalah Paijo?. Anda pasti akan mengarah kepada Akta kelahiran maupun KTP (kartu tanda penduduk) sebagai salah satu jawaban yang akan member bukti bahwa nama Anda adalah Paijo.
Pengakuan Andapun tidak akan berguna ketika Anda ditanya seseorang tentang kondisi badan Anda (disaat wawancara kerja misalnya), kemudian Anda mengatakan bahwa diri Anda sehat, padahal Anda belum mempunyai surat keterangan dokter yang menerangkan bahwa Anda sehat. Hal tersebut berarti bahwa Anda tidak mempunyai kuasa sedikit pun terhadap kondisi kesehatan Anda. Sedangkan Pak dokter mempunyai kuasa sepenuhnya atas kesehatan yang Anda rasakan.
Begitu juga dengan kasus, ketika Anda menyebut diri Anda adalah seorang sarjana, maka Anda  harus menunjukan bukti berupa Ijasah. Lalu pertanyaan nya adalah kapan kita berkuasa atas diri kita?
Jawabannya adalah ketika kita dapat bersahabat dengan Sang Pemegang Kuasa di Alam semesta ini.

Bagaimana menurut Anda?

No comments:

Post a Comment