Pernahkah kita merasa salah memilih?, pernahkah kita menyesali akan suatu pilihan yang telah kita pilih?. Kedua perasaan tersebut saya yakin pernah dialami oleh setiap manusia. Hal tersebut sangatlah wajar dirasakan oleh setiap manusia karena Tuhan dengan kebesarannya menciptakan perasaan itu untuk menguji semua makhluknya. Ujian tersebut diciptakan Tuhan untuk meningkatkan beberapa derajat kualitas iman diantara sesamanya. Semakin kompleks dan susah suatu pilihan yang diberikan oleh Tuhan, semakin dalam pula Tuhan menggali otak kita untuk bekerja keras berfikir agar supaya koneksi hati dan keimanan kita tetap terjalin.
Kenapa Tuhan melakukan itu?, karena Tuhan ingin memperkuat koneksi hati dan keimanan kita. Semakin kuat koneksi itu terbangun, maka akan semakin kuat pula efeknya dalam kehidupan kita sehari hari.
Dalam bentuk apa?, efek yang paling sederhana adalah kita selalu mengingat Tuhan Semesta Alam disetiap awal melakukan kegiatan.
Apakah Tuhan memberikan bantuan fasilitas untuk mempercepat koneksi itu?, Jawaban saya adalah iya. Fasilitas tersebut disampaikan melalui makhluk-makhluk pilihan-Nya. Fasilitas yang diberikan oleh Tuhan Semesta Alam salah satunya dalam bentuk 'ajaran solat sunat istikhoroh'. Fasilitas itulah yang seharusnya dimanfaatkan oleh manusia untuk menghadapi pilihan-pilihan dalam hidup. Fasilitas tersebut hanya salah satu sarana Tuhan untuk mendekatkan manusia dengan-Nya.
Jika diibaratkan fasilitas tersebut suatu software, maka hardwarenya adalah otak kita yang nantinya akan bekerja keras untuk menghasilkan out put yang dinamakan 'iman'. Jika dua hal tersebut di-upgrade kualitasnya maka 'keimanan' kita juga secara otomatis akan ter-upgrade.
Oleh sebab itulah mari kita bersyukur atas semua pilihan kita dan selalu optimis di dalam menempuh semua pilihan-pilihan yang telah kita ambil, karena Tuhan Semesta Alam akan selalu memberikan pilihan-pilihan terbaik-Nya untuk manusia yang mau berusaha dan berfikir.
Serpong, 27 September 2014, 03.31 WIB
Saturday, 27 September 2014
Thursday, 17 July 2014
Lindungi Tanah kita demi Budaya Anjing & Kucing
(sesuatu hal yang tak penting difikirkan)
|
PERINGATAN!
Dibaca setelah makan. Jika tulisan kurang jelas,
proses pembacaan dilakukan 3 kali sehari setelah makan. Jika masih tetap kurang
jelas juga, mohon hubungi dokter mata, siapa tahu minus Anda semakin
bertambah.
|
Tecatat pada
pukul 17.40 WIB di Serpong, 16 Juli 2014.
Badan terasa sangat lelah untuk kegiatan hari ini. Tak tau apa
penyebabnya. Kalau cuman gara-gara puasa kayaknya enggak juga, toh tadi tetap
bekerja seperti biasanya.
Aku tertekun
duduk sendirian di sofa bekas dengan dinikmati alunan ritme suara derasnya
hujan dan indahnya suara petir pada sore hari ini menjelang buka puasa (Ramadha
1435 H). Tak sengaja pikiranku tertuju pada kotoran anjing dan kucing yang hari
ini saya melihatnya dua kali di tempat yang berbeda beda. Kotoran tersebut
tergeletak begitu saja di atas jalanan aspal yang sudah mulai rusak. Pada
awalnya memang saya anggap suatu hal yang wajar karena itu juga sesuatu hal
yang tidak penting untuk di bahas di tulisan kali ini. Namun, aku langsung
tersentak bahwa hal tersebut TIDAK WAJAR, karena kucing atau anjing liar secara
naluriah akan menggali lubang untuk selanjutnya mereka melakukan hajatnya dan
yang terakhir adalah mereka akan menutupnya kembali hingga terkubur oleh tanah.
Sungguh luar
biasa kesadaran mereka terhadap kotoran yang mereka keluarkan. Mereka
sadar dan peduli akan kenyamanan makhluk
lain. Walaupun memang, terkadang penempatan dari kuburan sangat lah asal dibuat
oleh mereka, namun hakikatnya mereka bertanggung jawab terhadap kotoran yang
mereka keluarkan.
Pertanyaannya adalah????
Apakah kita
pernah berfikir untuk perduli terhadap mereka? Semakin banyak tanah-tanah
dilingkungan kita yang tertutupi paving atau aspal, maka saya yakin akan
semakin pusing pula ke dua hewan itu untuk menjalankan nalurinya dalam menggali
tanah sebelum mereka membuang kotoran.
Dengan melihat
pergeseran budaya penggalian tanah oleh anjing dan kucing itulah saya mulai
tergerak untuk mengajak pembaca untuk tetap melestarikan budaya mereka dan
menjaga tanah-tanah komplek agar tetap mempunyai lahan kosong yang tidak dipaving atau diaspal demi
mempertahankan siklus biologis dari anjing dan kucing.
‘Peduli itu antar sesama, bumi dan seisinya’
Wednesday, 16 July 2014
Perjanjian Busuk
Serpong, 16
Juli 2014. Tersentak aku dari dalam tidurku karena dentuman kentongan beberapa
warga yang lewat disekitar kostku. Maklum lah, budaya puasa selalu akan hidup
dan hidup di Negeri tercinta ini. Tak akan mungkin akan di temukan di Negara
lain kecuali kau di Indonesia. Aku
tengok jam pada waktu itu menunjukan jam 03.36 WIB. Tak lupa pula aku bangunin
orang yang kusayangi yang sekarang masih berada di kota lain untuk menikmati
indahnya bunga-bunga mimpi yang Engkau ciptakan Tuhan,
Dengan mata
masih sepertiga dibuka, aku mulai menguatkan tekad untuk beranjak dari tempat
tidurku untuk menuju kamar mandi. Setelah selesai membasuh dengan air yang
begitu dingin menyapa mukaku, akhirnya kelopak mataku ini merekah hingga dalam
keadaan maksimal. ‘Alkhamdulillah ku lantunkan kepadaMu, Tuhan untuk hari ini
yang damai’.
Roti mungil,
beberapa buah kurma dan satu botol air mineral adalah menu sahur hari ini. Tak
kurang dari 10 menit, semua hidangan itu akhirnya ludes dan hanya tersisa biji-biji
kurma saja yang telah menumpuk di dalam kantong plastik. Sembari menunggu
berkumandangnya saat imsak datang dan adzan subuh, aku pun bergerak menuju tas
kerjaku untuk mengambil laptop dan menulis bait bait makna untuk Negeri Indonesia
raya yang sudah lama tidak berani membanggakan dirinya sendiri.
Perjanjian Busuk
Wahai Bangsa Bangsa
di luar sana yang sedang tertawa kepada Bangsa Kami
Kami sadar betul akan
keberadaan kalian
Kami sadar betul akan
keadaan kami
Tonggak proklamasi
belum cukup untuk mengusir semua penjajah ditanah Negeri ini
Masih banyak sumber
daya Alam yang kau rampas dari kita, dari mulai energy diujung ujung kepulauan
kami hingga kau merampas hak-hak kami untuk hidup bersemangat untuk membangun
Negeri tercinta ini.
Kau buai kami dengan
pundi-pundi uang yang melimpah demi merelakan perjanjian-perjanjian busuk
yang kau sepakati dengan pemimpin kami yang korup
Kau boleh tertawa
hari ini tuan.
Namun jangan harap
mampu tertawa lagi ketika pemimpin-pemimpin muda akan lahir untuk berdiri di
garda depan untuk melucuti semua perjanjian perjanjian busuk yang kau tanda
tangani bersama dengan pendahulu kami.
Kami bukan Bangsa
yang lemah Tuan,
Kami Bangsa yang
Besar, Kami Bangsa Pejuang, Kami Bangsa yang Merdeka
Jangan khawatirkan kami Pak
Kami akan akan selalu
melanjutkan perberjuang mu demi tumpah darah Bangsa Indonesia.
Saturday, 12 July 2014
Judulnya apa ya?
Semarang, 11
Juli 2014. Di hari ini tercatat tulisanku yang pertama ditahun 2014. Entah
mengapa begitu lama dan begitu susah untuk memulai kembali untuk menulis,
padahal dengan menulis aku akan merasa bebas-sebebasnya. Betapa banyak isi otak
ini untukku ungkapkan kedalam suatu tulisan. Jujur aku bingung harus mulai
darimana aku akan bercerita tentang semua pokok bahasan yang akan aku torehkan
pada kesempatan pertama ini, karena ditahun ini aku punya banyak cerita dari
mulai aku bekerja menjadi abdi Negara yang membuat mimpiku semakin jelas di
dapan mata untuk bisa belajar hingga keluar Negeri, berjuang untuk wanita yang
telah aku pilih, ikut menentukan pemimpin Bangsa pelaut handal pada zamannya
yang kini telah lupa akan perairannya, hingga urusan umat islam di belahan bumi
timur tengah yang sedang berjuang atas nama Tuhan Semesta Alam.
Teriknya panas
hari ini aku lalui dari kota serpong, Tangerang Selatan – Semarang demi bertemu
dengan semua anggota keluargaku yang sedang mendoaakan sang pemimpin masa depan
Bangsa Indonesia yaitu keponakan pertama aku agar selalu dalam lindungannya.
Tak kan pernah
ada seseorang sekuat kakakku di dunia. Dia sangat tenang hari ini, walaupun aku
yakin dalam hatinya pasti bergejolak tangis yang sangat mendalam tapibegitulah
kakaku. Alkhamdulillah dia tetap tenang walaupun mendapatkan ujian yang begitu
dahsyat dari Tuhan Semesta Alam. Aku yakin 100% semuanya akan bergerak menuju
ridhomu dan keikhlasanmu untuk mengangkat semua ujian yang Engkau berikan.
Amin, amin, amin.
Sesampainya di
ruang 305, aku meihat keponakanku yang super tangguh itu sudah tertidur pulas.
Doa terindah pasti aku lantunkan untukmu Nak, semoga Allah selalu melindungi
melalui malaikat-malaikat yang diberi mandat untuk menjagamu hingga besar nanti.
Tak terasa
sudah hampir jam 12 malam, dengan mengucapkan ‘Selamat tidur Komandan Cantik’, aku akhiri tulisan ini, terimakasih
untuk semua ilmu kasih sayang yang engkau ajarkan ke aku. Tak kan ku sia-sia
kan usiaku di bumi ini untuk membahagiakan semua orang yang aku sayangi.
Terimakasih.
Alfan.arbianto,
2014
Subscribe to:
Comments (Atom)
