Lindungi Tanah kita demi Budaya Anjing & Kucing
(sesuatu hal yang tak penting difikirkan)
|
PERINGATAN!
Dibaca setelah makan. Jika tulisan kurang jelas,
proses pembacaan dilakukan 3 kali sehari setelah makan. Jika masih tetap kurang
jelas juga, mohon hubungi dokter mata, siapa tahu minus Anda semakin
bertambah.
|
Tecatat pada
pukul 17.40 WIB di Serpong, 16 Juli 2014.
Badan terasa sangat lelah untuk kegiatan hari ini. Tak tau apa
penyebabnya. Kalau cuman gara-gara puasa kayaknya enggak juga, toh tadi tetap
bekerja seperti biasanya.
Aku tertekun
duduk sendirian di sofa bekas dengan dinikmati alunan ritme suara derasnya
hujan dan indahnya suara petir pada sore hari ini menjelang buka puasa (Ramadha
1435 H). Tak sengaja pikiranku tertuju pada kotoran anjing dan kucing yang hari
ini saya melihatnya dua kali di tempat yang berbeda beda. Kotoran tersebut
tergeletak begitu saja di atas jalanan aspal yang sudah mulai rusak. Pada
awalnya memang saya anggap suatu hal yang wajar karena itu juga sesuatu hal
yang tidak penting untuk di bahas di tulisan kali ini. Namun, aku langsung
tersentak bahwa hal tersebut TIDAK WAJAR, karena kucing atau anjing liar secara
naluriah akan menggali lubang untuk selanjutnya mereka melakukan hajatnya dan
yang terakhir adalah mereka akan menutupnya kembali hingga terkubur oleh tanah.
Sungguh luar
biasa kesadaran mereka terhadap kotoran yang mereka keluarkan. Mereka
sadar dan peduli akan kenyamanan makhluk
lain. Walaupun memang, terkadang penempatan dari kuburan sangat lah asal dibuat
oleh mereka, namun hakikatnya mereka bertanggung jawab terhadap kotoran yang
mereka keluarkan.
Pertanyaannya adalah????
Apakah kita
pernah berfikir untuk perduli terhadap mereka? Semakin banyak tanah-tanah
dilingkungan kita yang tertutupi paving atau aspal, maka saya yakin akan
semakin pusing pula ke dua hewan itu untuk menjalankan nalurinya dalam menggali
tanah sebelum mereka membuang kotoran.
Dengan melihat
pergeseran budaya penggalian tanah oleh anjing dan kucing itulah saya mulai
tergerak untuk mengajak pembaca untuk tetap melestarikan budaya mereka dan
menjaga tanah-tanah komplek agar tetap mempunyai lahan kosong yang tidak dipaving atau diaspal demi
mempertahankan siklus biologis dari anjing dan kucing.
‘Peduli itu antar sesama, bumi dan seisinya’

No comments:
Post a Comment