Powered By Blogger

Thursday, 17 July 2014

Lindungi Tanah kita demi Budaya Anjing & Kucing 
(sesuatu hal yang tak penting difikirkan)


PERINGATAN!
Dibaca setelah makan. Jika tulisan kurang jelas, proses pembacaan dilakukan 3 kali sehari setelah makan. Jika masih tetap kurang jelas juga, mohon hubungi dokter mata, siapa tahu minus Anda semakin bertambah.


Tecatat pada pukul 17.40 WIB di Serpong, 16 Juli 2014.  Badan terasa sangat lelah untuk kegiatan hari ini. Tak tau apa penyebabnya. Kalau cuman gara-gara puasa kayaknya enggak juga, toh tadi tetap bekerja seperti biasanya.
Aku tertekun duduk sendirian di sofa bekas dengan dinikmati alunan ritme suara derasnya hujan dan indahnya suara petir pada sore hari ini menjelang buka puasa (Ramadha 1435 H). Tak sengaja pikiranku tertuju pada kotoran anjing dan kucing yang hari ini saya melihatnya dua kali di tempat yang berbeda beda. Kotoran tersebut tergeletak begitu saja di atas jalanan aspal yang sudah mulai rusak. Pada awalnya memang saya anggap suatu hal yang wajar karena itu juga sesuatu hal yang tidak penting untuk di bahas di tulisan kali ini. Namun, aku langsung tersentak bahwa hal tersebut TIDAK WAJAR, karena kucing atau anjing liar secara naluriah akan menggali lubang untuk selanjutnya mereka melakukan hajatnya dan yang terakhir adalah mereka akan menutupnya kembali hingga terkubur oleh tanah.
Sungguh luar biasa kesadaran mereka terhadap kotoran yang mereka keluarkan. Mereka sadar  dan peduli akan kenyamanan makhluk lain. Walaupun memang, terkadang penempatan dari kuburan sangat lah asal dibuat oleh mereka, namun hakikatnya mereka bertanggung jawab terhadap kotoran yang mereka keluarkan.
Pertanyaannya adalah????
Apakah kita pernah berfikir untuk perduli terhadap mereka? Semakin banyak tanah-tanah dilingkungan kita yang tertutupi paving atau aspal, maka saya yakin akan semakin pusing pula ke dua hewan itu untuk menjalankan nalurinya dalam menggali tanah sebelum mereka membuang kotoran.
Dengan melihat pergeseran budaya penggalian tanah oleh anjing dan kucing itulah saya mulai tergerak untuk mengajak pembaca untuk tetap melestarikan budaya mereka dan menjaga tanah-tanah komplek agar tetap mempunyai lahan kosong yang tidak dipaving atau diaspal demi mempertahankan siklus biologis dari anjing dan kucing.
Peduli itu antar sesama, bumi dan seisinya

Wednesday, 16 July 2014

Perjanjian Busuk




Serpong, 16 Juli 2014. Tersentak aku dari dalam tidurku karena dentuman kentongan beberapa warga yang lewat disekitar kostku. Maklum lah, budaya puasa selalu akan hidup dan hidup di Negeri tercinta ini. Tak akan mungkin akan di temukan di Negara lain kecuali kau di Indonesia.  Aku tengok jam pada waktu itu menunjukan jam 03.36 WIB. Tak lupa pula aku bangunin orang yang kusayangi yang sekarang masih berada di kota lain untuk menikmati indahnya bunga-bunga mimpi yang Engkau ciptakan Tuhan,
Dengan mata masih sepertiga dibuka, aku mulai menguatkan tekad untuk beranjak dari tempat tidurku untuk menuju kamar mandi. Setelah selesai membasuh dengan air yang begitu dingin menyapa mukaku, akhirnya kelopak mataku ini merekah hingga dalam keadaan maksimal. ‘Alkhamdulillah ku lantunkan kepadaMu, Tuhan untuk hari ini yang damai’.
Roti mungil, beberapa buah kurma dan satu botol air mineral adalah menu sahur hari ini. Tak kurang dari 10 menit, semua hidangan itu akhirnya ludes dan hanya tersisa biji-biji kurma saja yang telah menumpuk di dalam kantong plastik. Sembari menunggu berkumandangnya saat imsak datang dan adzan subuh, aku pun bergerak menuju tas kerjaku untuk mengambil laptop dan menulis bait bait makna untuk Negeri Indonesia raya yang sudah lama tidak berani membanggakan dirinya sendiri.
Perjanjian Busuk
Wahai Bangsa Bangsa di luar sana yang sedang tertawa kepada Bangsa Kami
Kami sadar betul akan keberadaan kalian
Kami sadar betul akan keadaan kami
Tonggak proklamasi belum cukup untuk mengusir semua penjajah ditanah Negeri ini
Masih banyak sumber daya Alam yang kau rampas dari kita, dari mulai energy diujung ujung kepulauan kami hingga kau merampas hak-hak kami untuk hidup bersemangat untuk membangun Negeri tercinta ini.
Kau buai kami dengan pundi-pundi uang yang melimpah demi merelakan perjanjian-perjanjian busuk yang kau sepakati dengan pemimpin kami yang korup
Kau boleh tertawa hari ini tuan.
Namun jangan harap mampu tertawa lagi ketika pemimpin-pemimpin muda akan lahir untuk berdiri di garda depan untuk melucuti semua perjanjian perjanjian busuk yang kau tanda tangani bersama dengan pendahulu kami.
Kami bukan Bangsa yang lemah Tuan,
Kami Bangsa yang Besar, Kami Bangsa Pejuang, Kami Bangsa yang Merdeka
Jangan khawatirkan kami Pak
Kami akan akan selalu melanjutkan perberjuang mu demi tumpah darah Bangsa Indonesia.

Saturday, 12 July 2014

Judulnya apa ya?



Semarang, 11 Juli 2014. Di hari ini tercatat tulisanku yang pertama ditahun 2014. Entah mengapa begitu lama dan begitu susah untuk memulai kembali untuk menulis, padahal dengan menulis aku akan merasa bebas-sebebasnya. Betapa banyak isi otak ini untukku ungkapkan kedalam suatu tulisan. Jujur aku bingung harus mulai darimana aku akan bercerita tentang semua pokok bahasan yang akan aku torehkan pada kesempatan pertama ini, karena ditahun ini aku punya banyak cerita dari mulai aku bekerja menjadi abdi Negara yang membuat mimpiku semakin jelas di dapan mata untuk bisa belajar hingga keluar Negeri, berjuang untuk wanita yang telah aku pilih, ikut menentukan pemimpin Bangsa pelaut handal pada zamannya yang kini telah lupa akan perairannya, hingga urusan umat islam di belahan bumi timur tengah yang sedang berjuang atas nama Tuhan Semesta Alam.
Teriknya panas hari ini aku lalui dari kota serpong, Tangerang Selatan – Semarang demi bertemu dengan semua anggota keluargaku yang sedang mendoaakan sang pemimpin masa depan Bangsa Indonesia yaitu keponakan pertama aku agar selalu dalam lindungannya.
Tak kan pernah ada seseorang sekuat kakakku di dunia. Dia sangat tenang hari ini, walaupun aku yakin dalam hatinya pasti bergejolak tangis yang sangat mendalam tapibegitulah kakaku. Alkhamdulillah dia tetap tenang walaupun mendapatkan ujian yang begitu dahsyat dari Tuhan Semesta Alam. Aku yakin 100% semuanya akan bergerak menuju ridhomu dan keikhlasanmu untuk mengangkat semua ujian yang Engkau berikan. Amin, amin, amin.
Sesampainya di ruang 305, aku meihat keponakanku yang super tangguh itu sudah tertidur pulas. Doa terindah pasti aku lantunkan untukmu Nak, semoga Allah selalu melindungi melalui malaikat-malaikat yang diberi mandat untuk menjagamu hingga  besar nanti.
Tak terasa sudah hampir jam 12 malam, dengan mengucapkan ‘Selamat tidur Komandan Cantik’, aku akhiri tulisan ini, terimakasih untuk semua ilmu kasih sayang yang engkau ajarkan ke aku. Tak kan ku sia-sia kan usiaku di bumi ini untuk membahagiakan semua orang yang aku sayangi. Terimakasih.
Alfan.arbianto, 2014