Powered By Blogger

Monday, 23 July 2012

Cinta-nya Bapak tukang ng-Rebus Kacang


Cikarang, 23 July 2012. Tampak seorang pria paruh baya  dengan wajah tertunduk lesu dengan sebatang rokok yang masih menempel di antara kedua jari kanannya berjalan menuju bapak-bapak penjual  kacang rebus. “Pak, beli 5000”, kata sang pria. Dengan penuh sungguh-sungguh, Bapak sang penjual kacang tadi mempersiapkan satu bungkus kacang dengan selembar kertas bekas. “ini mas, kacangnya”, kata si tukang kacang rebus. “terimakasih, Pak”, jawab dengan lirih oleh pria tersebut.
Dengan wajah masih di tekuk tanpa senyum, pria tersebut kemudia membuka buntelan kacang yang diperolehnya dari Bapak tadi. Tanpa banyak omong, pria tersebut kemudian duduk disamping grobak penjual kacang tersebut.
“Ssssttttttt, huhhhhh”, suara hempasan asap rokok dari sang pria.
“Kenapa mas?”, Tanya sang penjual kacang kepada sang pria.
“Ndak papa pak”.
Selang beberapa detik sang pria itu pun melanjutkan perkataannya.
                “Bapak punya anak istri?”
                “Alkhamdulillah punya mas”, jawab sang penjual kacang rebus. “Memangnya kenapa mas?”
                “Iya nih pak, ternyata kata cinta jaman dulu tuh akan basi juga ya pak”
                “Maksudnya mas?”
                “Iya basi, cinta kita akan basi karena telah lama usang dimakan waktu. Dulu saja pas pacaran, kata-kata indah selalu menghiasi kata cinta. Tapi sekarang setelah menikah, semuanya jadi hambar”.
“Walah mas-mas, jangan terlalu pusing mikirin cinta. Cinta itu bagaikan kacang rebus yang mas makan”.
“Loh kok bisa?”
“Iya lah mas, kita tidak akan pernah tahu apakah ada atau tidak untuk setiap ruang dimana kacang itu ditempatkan oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya mampu berharap dan bersyukur disetiap kulit kacang akan selalu ditempati sepasang kacang yang berkualitas baik”.
“Memang ada hubungannya dengan cinta ya pak?”
“ada lah mas, cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Kita tidak akan dapat menolak dimana dia akan tumbuh. Kita hanya mampu bersyukur dan mengarahkan untuk setiap cinta yang dititipkan oleh Tuhan Semesta Alam agar bermanfaat bagi sesama manusia. Jika kita memaksakan cinta itu hadir maka hal yang timbul adalah ketidak normalan bagi setiap pelakunya. Misalnya saja kacang, kalau kacang sudah ditakdirkan dalam satu kulit berisi 2-3 biji maka rasanya akan jauh lebih enak dibandingkan dengan kacang variasi genetic yang berisi lebih dari 2-3 biji. Walaupun secara kuantitas biasanya lebih banyak. Porsi cinta akan jauh lebih baik jika kita mensyukuri disetiap kedatangannya. Seperti masnya tadi beli kacang rebus saya, itu adalah cinta Tuhan Semesta Alam dalam memberikan rezeki kepada saya dan keluarga saya. Jadi intinya, mas itu jangan selalu memperpusing apa itu cinta. Jalani saja kehidupan ini dengan bersyukur maka nikmatnya cinta akan tetap terasa disepanjang jalan hidup kita, InsyaAllah.
                “Terimakasih pak”, kata pria tersebut dengan menjabat tangan sang penjual kacang rebus. Dengan wajah mulai tersenyum pria tadi meninggalkan penjua kacang rebus.

Thursday, 19 July 2012

Apakah Bener ‘Putih itu Suci?’



                Sering terdengar di telinga kita bahwa bayi yang baru lahir bak lembaran kertas putih yang masih bersih. Belum ada coretan-coretan perjalanan hidup yang membawanya ke arah kesemrawutan dalam hidup. Hal itu disebabkan oleh pena serta kertas sang bayi masih ada di kedua orang tuanya yang setiap harinya keduanya membuat garis tepi agar tulisan sang anak akan rapi, mudah terbaca oleh sang pembaca nantinya yaitu malaikat pembaca amal perbuatan. Setiap tahun bayi itu akan tumbuh, tumbuh dan tumbuh sampai akhirnya tibalah di suatu titik (ketika baligh*) dimana diberi hak untuk memegang pena serta kertasnya sendiri untuk menuliskan semua alur cerita kehidupannya.
                Ada kalanya mereka menuliskan alur hidupnya sesuai dengan garis-garis tepi yang dibuat oleh keduanya, ada kalanya mereka menulis dengan asal-asalan (ming waton nulis). Hal yang lumrah oleh bayi itu adalah tidak menyadari kalau dirinya sudah membuat rusak tulisan dengan coretan-coretan yang tidak jelas. Ketika umurnya bertambah dewasa yaitu kurang lebih 20an tahun, bayi itupun menyadari bahwa tulisan-tulisan itu telah dinodahi oleh simbol-simbol warna yang dia torehkan ke dalam lembaran kertas tadi. Pertanyaan sang bayi adalah ‘Kenapa aku harus menorehkan warna-warna itu? Padahal sebenarnya akan mengotori kertas ku!’, kata sang bayi dengan nada marah. ‘Dari manakah aku mendapatkan warna sebanyak itu, padahal Engkau amanahi aku hanya satu pena?’, lanjut sang bayi. ‘krik,krik,Zzzzzzz,’ suara jangkrik serta suara dengkuran orang tidur menemani pertanyaan-pertanyaan bayi itu.
                ‘Itu adalah simbol-simbol dari semua dosamu’, kata Sang Pembuat Pena dan Kertas. ‘Kenapa Engkau ridhoi aku untuk menghancurkan garis-garis Mu, padahal nantinya utusanmulah yang akan membaca alur ceritaku?’ lanjut bayi itu. ‘Itu memang sengaja Aku torehkan lewat ujian-ujian yang Ku berikan, agar semua warna itu kamu kombinasaikan agar tercipta spectrum putih bersih’, Jawab-Nya. Setelah mendengar penjelasn tadi sang bayi-pun langsung tersungkur sujud dan mengatakan ‘Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengenalkan Sang Pemuat Pena dengan aku lewat semua masalah yang Engkau ciptakan’.
                Sang Raja siang pun mulai mengintip dari balik awan, sang bayipun hanya tersenyum dan bersyukur bahwa hari ini dia masih diberi nikmat untuk menyusun warna-warna kehidupan.  
Note: ketika seorang manusia sudah dapat mengenal hak dan kewajiban serta dapat membedakan hal yang baik maupun buruk.

Silahkan berbagi dengan yang lain.

Sunday, 8 July 2012

Ajining diri ono ing lati,Ajining rogo ono ing sukmo


‘Anjing’, kata seorang supir angkutan kota yang mengumpat seorang pengendara motor didepannya. Dengan mata masih melotot supir itupun masih mengumpat, ‘Ancukkkkkk, minggir mas’. Akupun hanya mampu menyaksikan kejadian itu sambil menikmati enaknya tempe goreng dan tahu goreng yang ku beli 10 menit yang lalu, sewaktu aku berjalan dipinggiran kota Bekasi. Dengan baju dan celana lusuh serta tas kecil yang berisikan air minum aku hanya mampu berfikir betapa sangat ‘BUTA’nya mata kita terhadap kebaikan orang lain. Kita lebih terbiasa mampu melihat keburukan-keburukan orang lain.
                Kata yang terbesat sesaat aku mendengar kata-kata supir tadi hanyalah ‘betapa buruk ucapan sang supir. Aku tak akan mampu mengetahui apa alasan serta isi hati dari supir tadi, ‘apakah si pak supir lagi terburu-buru untuk mencari setoran, ataukah pak supir lagi terburu-buru pulang karena anaknya lagi sakit atau apakah kata-kata itu hanyalah kata seruan kepada sang pengendara motor agar secepatnya minggir. Aku tidak akan pernah tahu, apakah di lubuk hatinya ada sebersit sifat ‘amarah’ yang sedang bergejolak. Jika aku mampu untuk membaca sifat amarah  yang terlintas di hati pak supir, berarti aku juga seharusnya mampu untuk melihat betapa besar Anjing yang memperhatikan supir tadi. Tak teramati oleh pak supir tadi bahwa di seberang jalan tadi sebenarnya ada seekor anjing yang mengaku dirinya adalah seorang manusia. Paras yang rupawan serta penampilannya bak seorang terpelajar mampu menutupi kebejatan semua kelakuannya selama ini. Anjing itu sudah terbiasa untuk menyalak kapanpun dia mau, demi menunjukan jati diri seutuhnya bahwa dirinya adalah ‘bukan ANJING’. Namun hal itu tetaplah sia-sia, ketika ribuan kata-kata terucap hanya disetarakan dengan ‘gong-gongan’ setiap kali dia menyalak tanpa merubah bentuk dari segumpal daging yang berada di lubuk hati si anjing tersebut.
                ‘Apakah akan lebih baik jika ada anjing berhati manusia ataukah manusia berhati anjing?’

Ajining diri ono ing lati,Ajining rogo ono ing sukmo.

Wednesday, 27 June 2012

Manusia kelebihan Gula!, Siapa Takut?


Siapa sih anak Indonesia yang tak kenal dengan kata ‘Gula’. Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dari suatu keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa (yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam), menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel.
Dari penjelasan singkat tentang gula di atas, berarti kita tahu bahwa setiap sel tubuh kita memperoleh energi dari glukosa.Tubuh kita secara alami telah dianugrahi sifat-sifat manis oleh Tuhan Semesta Alam. Sifat manis inilah yang sebenarnya dapat membuat kehidupan ini menjadi bermakna dan mendamaikan semua umat manusia. Kenapa dapat seperti itu?, pasti Anda bertanya-tanya.
Hal tesebut dapat terbukti dari fakta ‘semua manusia diciptakan untuk saling berpasang-pasangan’. Dari kata-kata tersebut terselip makna yang cukup luas yaitu setiap manusia dimuka bumi ini telah diciptakan untuk menemukan pasangannya. Tak dipungkiri lagi didalam menemukan pasangannya setiap manusia pasti mendahulukan penglihatan fisik daripada sifat aslinya. Banyak diantara kita yang tidak terima akan takdir akan orang lain seperti, ‘kok orang itu mau ya, sama ceweknya/cowoknya yang jelek itu?’. Dari fakta itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Tuhan Semesta Alam telah menyelipkan rasa manis untuk setiap manusia. Rasa manis inilah yang nantinya akan dirasakan serta dapat difahami oleh setiap pasangan.
   Rasa manis yang tersimpan didalam tubuh kita juga sebenarnya dapat membuat bumi kita ini menjadi damai. Rasa alami yang dibawa oleh gula yaitu manis dapat dipadukan dengan kopi yang rasanya sangat pahit, coklat, jahe yang rasanya pedas maupun asam jawa yang rasanya asam. Sehingga apabila ada seseorang yang berkomentar atau berbicara se-pahit kopi, se-pedas jahe, maupun se-asam, asam jawa sebenarnya secara alamiah tubuh kita dapat mengolahnya menjadi olahan-olahan yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Hasil olahan yang dimaksud adalah doa yang bermanfaat bagi orang-orang yang membeci kita, solusi-solusi bagus yang diberikan kepada musuh kita maupun senyuman manis yang diberikan kepada musuh kita. Hal tersebut dapat tercapai jika kita tetap berfikir positif, bersikap tenang serta pasrah kepada Tuhan Semesta Alam akan semua hal yang terjadi dengan kita.
Dari pemahaman di atas, maka kita tidak akan pernah takut kalau kita mempunyai sifat gula yang berlebih yaitu manis.

Sunday, 17 June 2012

‘Apakah Kita Harus Berguru pada Semua Hewan-Nya?’


Tuhan Semesta Alam telah mentakdirkan,
Ikan mempunyai sirip untuk berenang,
Burung mempunyai sayap untuk terbang,
Lebah mempunyai madu,
Cicak mempunyai kaki yang dapat menempel dinding,
Nyamuk mempunyai jarum di mulutnya,
Laba-laba mempuyai benang terkuat,
dan masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh setiap makhluk-Nya. Mereka tetap ikhlas akan semua kemampuan-kemampuan yang dimilikinya walaupun hukum rimba (yang kuat yang menang) tetap akan berlaku hingga akhir zaman nanti.
Pertanyaannya adalah, Kenapa Kita jarang Bersyukur kepada-Nya dan selalu merasa kurang, padahal kita telah diberi sesuatu yang paling special oleh Tuhan Semesta Alam yaitu akal pikiran. Apakah ‘Keikhlasan’ Manusia harus belajar dari hewan-hewan tersebut?

Tuesday, 12 June 2012

Ternyata Tidak Selamanya Harus Uang Kok!


Kata shadaqoh atau sedekah berasal dari kata ‘shadaqa’ yang artinya benar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata infak berarti pemberian sumbangan (harta) dsb (selain zakat wajib) untuk kebaikan, sedekah, nafkah. Jika kita selalu mengacu pada pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia maka implementasi urutan shadaqoh akan menjadi sempit, karena pengertian tersebut akan mempersempit cangkupan penerima infak. Jika kita mau menelusuri lebih jauhlagi dari pengertian infak maka akan difahami tentang cangkupan penerima infak. Cangkupan penerima infak sebenarnya sangatlah detail. Apabila cangkupan infak tersebut terlaksana maka akan terbentuk suatu keseimbangan dalam keluarga dan masyarakat, akibatnya adalah tumbuhnya rasa saling memiliki diantara sesama manusia. Efek jangka panjangnya adalah setiap manusia akan selalu bersyukur dan merasa tercukupi. Walaupun sebenarnya perlu dilakukan cara-cara yang baik pula dalam pemberian infak tersebut.
Sesuai dengan asal katanya maka, pengertian infak akan lebih luas disaat kita berfikir bahwa infak itu merupakan suatu tindakan yang berhubungan dengan orang lain dengan berlandaskan kebenaran iman, misalnya tersenyum, membantu orang lain dan sebagainya. Jika kita sudah mulai berlatih untuk itu, maka InsyaAllah kehidupan kita akan jauh lebih tenang dan lebih banyak orang lain yang bahagia karena keberadaan kita. 

Sunday, 10 June 2012

Ketika Api Lilin Memberi Makna Kehidupan


Iman adalah (n) 1. kepercayaan (yang berkenaan  dengan agama) kepada Allah, Nabi, kitab suci;  2. ketetapan hati; keteguhan batin; ke-seimbangan batin (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Jika kata iman di bubuhi awalan ke-, maka akan menjadi keimanan. Keimanan (n) adalah keyakinan; ketetapan hati; keteguhan hati (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Pengertian di atas bersifat abstrak, sehingga sebagian dari kita tidak dapat mengukur banyak, sedikit, tebal, tipisnya iman kita. Kita hanya mampu merasakan ketenangan ketika iman kita sedang berada pada puncak tertinggi. Efek ke tubuh kita adalah kita merasa bahagia dan selalu mensyukuri apa saja yang kita miliki. Iman bersifat fluktuatif, kadang berada di atas, kadang juga berada dibawah, tergantung ketahanan kita untuk menahan hembusan cobaan dari yang punya iman yaitu Tuhan Semesta Alam.
Api lilin merupakan salah satu perumpamaaan yang tepat untuk menggambarkan betapa lemahnya keimanan kita. Kita tidak punya hak sama sekali untuk mengatur kapan api kita menyala dengan terang. Kita hanya bisa mampu untuk berdoa agar nyala api tetap bertahan walaupun itu sangat kecil kuantitasnya ketika hembusan angin dari pemilik api menerpa. Kita juga tidak mempunyai hak untuk menyalakan atau memadamkan api kecil tersebut. (Agamaku-Agamaku, Agamamu-Agamamu).
Mari tetap berdoa, agar Tuhan Semesta Alam tetap mempertahankan nyala api, walaupun sangat kecil dan kita mampu berjalan di kegelapan dan kerasnya dunia ini.