‘Anjing’, kata seorang supir angkutan kota yang mengumpat seorang
pengendara motor didepannya. Dengan mata masih melotot supir itupun masih
mengumpat, ‘Ancukkkkkk, minggir mas’. Akupun hanya mampu menyaksikan kejadian
itu sambil menikmati enaknya tempe goreng dan tahu goreng yang ku beli 10 menit
yang lalu, sewaktu aku berjalan dipinggiran kota Bekasi. Dengan baju dan celana
lusuh serta tas kecil yang berisikan air minum aku hanya mampu berfikir betapa
sangat ‘BUTA’nya mata kita terhadap kebaikan orang lain. Kita lebih terbiasa
mampu melihat keburukan-keburukan orang lain.
Kata yang terbesat sesaat aku
mendengar kata-kata supir tadi hanyalah ‘betapa
buruk ucapan sang supir. Aku tak akan mampu mengetahui apa alasan serta isi
hati dari supir tadi, ‘apakah si pak supir lagi terburu-buru untuk mencari
setoran, ataukah pak supir lagi terburu-buru pulang karena anaknya lagi sakit
atau apakah kata-kata itu hanyalah kata seruan kepada sang pengendara motor
agar secepatnya minggir. Aku tidak akan pernah tahu, apakah di lubuk hatinya
ada sebersit sifat ‘amarah’ yang
sedang bergejolak. Jika aku mampu untuk membaca sifat amarah yang terlintas di
hati pak supir, berarti aku juga seharusnya mampu untuk melihat betapa besar Anjing yang memperhatikan supir tadi.
Tak teramati oleh pak supir tadi bahwa di seberang jalan tadi sebenarnya ada
seekor anjing yang mengaku dirinya
adalah seorang manusia. Paras yang
rupawan serta penampilannya bak seorang terpelajar mampu menutupi kebejatan
semua kelakuannya selama ini. Anjing itu
sudah terbiasa untuk menyalak
kapanpun dia mau, demi menunjukan jati diri seutuhnya bahwa dirinya adalah ‘bukan ANJING’. Namun hal itu tetaplah
sia-sia, ketika ribuan kata-kata terucap hanya disetarakan dengan ‘gong-gongan’
setiap kali dia menyalak tanpa merubah bentuk dari segumpal daging yang berada di lubuk hati si anjing tersebut.
‘Apakah akan lebih baik jika ada
anjing berhati manusia ataukah manusia
berhati anjing?’
Ajining
diri ono ing lati,Ajining rogo ono ing sukmo.

Tulisan sing JOss,
ReplyDeletemelu ngerevisi secuil masalah tulisan ya bos,
penulisan ono, rogo, sukmo meskipun vokale dibaca o tapi dalam hal penulisan tetep ditulis pake vokal a, jadi penulisan sing benere ana, raga, sukma,
Nuwun
o.k siap, terimakasih min masukannya, InsyaAllah bisa memperbaiki untuk kedepannya, and terimakasih juga wis maca
ReplyDelete