Sering
terdengar di telinga kita bahwa bayi yang baru lahir bak lembaran kertas putih
yang masih bersih. Belum ada coretan-coretan perjalanan hidup yang membawanya
ke arah kesemrawutan dalam hidup. Hal
itu disebabkan oleh pena serta kertas sang bayi masih ada di kedua orang tuanya yang setiap harinya keduanya membuat garis tepi agar tulisan sang anak akan rapi, mudah
terbaca oleh sang pembaca nantinya yaitu malaikat pembaca amal perbuatan. Setiap tahun bayi itu akan tumbuh,
tumbuh dan tumbuh sampai akhirnya tibalah di suatu titik (ketika baligh*)
dimana diberi hak untuk memegang pena serta kertasnya sendiri untuk
menuliskan semua alur cerita kehidupannya.
Ada
kalanya mereka menuliskan alur hidupnya sesuai dengan garis-garis tepi yang
dibuat oleh keduanya, ada kalanya mereka menulis dengan asal-asalan (ming waton nulis). Hal
yang lumrah
oleh bayi itu adalah tidak menyadari kalau dirinya sudah membuat rusak tulisan dengan coretan-coretan yang tidak jelas. Ketika umurnya bertambah dewasa yaitu kurang lebih 20an
tahun, bayi itupun menyadari bahwa tulisan-tulisan itu telah dinodahi oleh simbol-simbol
warna yang dia torehkan ke dalam lembaran kertas tadi. Pertanyaan sang bayi
adalah ‘Kenapa aku harus menorehkan
warna-warna itu? Padahal sebenarnya akan mengotori kertas ku!’, kata sang
bayi dengan nada marah. ‘Dari manakah
aku mendapatkan warna sebanyak itu, padahal Engkau amanahi aku hanya satu pena?’,
lanjut sang bayi. ‘krik,krik,Zzzzzzz,’ suara jangkrik serta suara dengkuran orang tidur menemani
pertanyaan-pertanyaan bayi itu.
‘Itu adalah simbol-simbol dari semua dosamu’,
kata Sang Pembuat Pena dan Kertas. ‘Kenapa
Engkau ridhoi aku untuk menghancurkan garis-garis Mu, padahal nantinya
utusanmulah yang akan membaca alur ceritaku?’ lanjut bayi itu. ‘Itu memang sengaja Aku torehkan lewat
ujian-ujian yang Ku berikan, agar semua warna itu kamu kombinasaikan agar
tercipta spectrum putih bersih’, Jawab-Nya. Setelah mendengar penjelasn tadi
sang bayi-pun langsung tersungkur sujud dan mengatakan ‘Terimakasih Tuhan,
Engkau telah mengenalkan Sang Pemuat Pena dengan aku lewat semua masalah yang
Engkau ciptakan’.
Sang
Raja siang pun mulai mengintip dari balik awan, sang bayipun hanya tersenyum
dan bersyukur bahwa hari ini dia masih diberi nikmat untuk menyusun warna-warna
kehidupan.
Note: ketika seorang manusia
sudah dapat mengenal hak dan kewajiban serta dapat membedakan hal yang baik
maupun buruk.
Silahkan berbagi dengan yang lain.
Silahkan berbagi dengan yang lain.

No comments:
Post a Comment