Powered By Blogger

Saturday, 28 July 2012

Kapan kah kita berkuasa pada diri kita?


Pernahkah kita berfikir bahwa kita sebenarnya hidup di dunia ini tidak mempunyai kuasa sedikitpun atas semua yang melekat pada diri kita. Nama diri kita pun sebenarnya hasil dari consensus dari sebuah kesepakatan antara keluarga kita dan orang lain yang mengatakan dan mengesahkan bahwa anak manusia yang baru lahir ini kemudian diberi nama ‘paijo’ (misalnya). Dalam istilah jawa biasa disebut ‘ditengeri’. Hasil kesepakatan tersebut tertuang pada akta kelahiran kita.
Untuk mempermudah pemahaman tersebut maka dapat dimisalkan, suatu kita di tanya oleh seseorang, ‘Namanya siapa?’, lalu Anda akan menjawab ‘Nama saya Paijo. Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah mana buktinya yang menunjukan bahwa nama Anda adalah Paijo?. Anda pasti akan mengarah kepada Akta kelahiran maupun KTP (kartu tanda penduduk) sebagai salah satu jawaban yang akan member bukti bahwa nama Anda adalah Paijo.
Pengakuan Andapun tidak akan berguna ketika Anda ditanya seseorang tentang kondisi badan Anda (disaat wawancara kerja misalnya), kemudian Anda mengatakan bahwa diri Anda sehat, padahal Anda belum mempunyai surat keterangan dokter yang menerangkan bahwa Anda sehat. Hal tersebut berarti bahwa Anda tidak mempunyai kuasa sedikit pun terhadap kondisi kesehatan Anda. Sedangkan Pak dokter mempunyai kuasa sepenuhnya atas kesehatan yang Anda rasakan.
Begitu juga dengan kasus, ketika Anda menyebut diri Anda adalah seorang sarjana, maka Anda  harus menunjukan bukti berupa Ijasah. Lalu pertanyaan nya adalah kapan kita berkuasa atas diri kita?
Jawabannya adalah ketika kita dapat bersahabat dengan Sang Pemegang Kuasa di Alam semesta ini.

Bagaimana menurut Anda?

Tuesday, 24 July 2012

Tuhan, Kenapa sih aku berumur Pendek?


Apakah Anda tahu berapakali kita akan merasakan ulang tahun? Pasti Anda akan menjawab ‘wallahua’alam’ (hanya Allah yang tahu). Setiap makhluk yang hidup di dunia ini memang tak kan pernah tahu kapan kita mati, tapi yang jelas sebagai manusia biasa kita disediakan waktu + 63 tahun. Walaupun terkadang dapat lebih beberapa tahun ataupun kurang dari ini.
Namun, pernahkah Anda menyadari bahwa perbedaan jumlah umur manusia jaman dahulu jauh lebih lama dibandingkan manusia jaman sekarang. Pada zaman nabi-nabi kita percaya mereka berumur ratusan hingga ribuan tahun. Pertanyaannya adalah kenapa terlampau banyak jaraknya? Apakah Tuhan Semesta Alam sentiment terhadap manusia jaman sekarang, karena kebejatannya? Ataukah ini memang skenario-Nya saja?
Sebagai manusia biasa, kita hanya mampu meraba-raba dari setiap fenomena yang ada. Salah satu rabaan dari pertanyaan-pertanya itu adalah  pernahkah kita berfikir bahwa ‘manusia jaman sekarang ini (umat nabi Muhammad SAW) sebenarnya sudah diberi fasilitas yang sangat lengkap untuk dapat lebih cepat dekat dengan Tuhan Semesta Alam’. Kita tidak perlu mencari-cari mana yang namanya Tuhan Semesta Alam, karena hakikat dari MATI adalah menyatu kembali dengan Tuhan Semesta Alam (jangan diartikan dengan pengertian yang pendek).
Fasilitas-fasilitas yang dimaksudkan misalnya kitab Al-Qur’an ataupun satu bulan istimewa di setiap tahunnya dan masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang kita miliki. Oleh sebab itulah kita secara kodrati tidak perlu menghabiskan waktu begitu lama dalam menemukan Tuhan. Manusia zaman dahulu berumur jauh lebih panjang dari kita karena mereka mencari Tuhannya sendiri tanpa adanya fasilitas-fasilitas tersebut, sehingga tidak mempunyai rambu-rambu disetiap persimpangan jalan Tuhan.
Dari pemahan tersebut maka kita akan mengarah kepada sebuah ibarat yang mengatakan bahwa Manusia zaman dahulu lebih cenderung sebagai pembuka lahan hutan, sedangkan manusia zaman sekarang sebagai penikmat jalan tapak yang telah dibuat oleh manusia zaman dahulu. Maka dari itulah, mari kita bersyukur setiap hari karena Kita telah ditakdirkan sebagai manusia yang bergelimang failitas dalam mendekatkan diri kepada Tuhan Semesta Alam.
-Edisi khusus -  

Monday, 23 July 2012

Cinta-nya Bapak tukang ng-Rebus Kacang


Cikarang, 23 July 2012. Tampak seorang pria paruh baya  dengan wajah tertunduk lesu dengan sebatang rokok yang masih menempel di antara kedua jari kanannya berjalan menuju bapak-bapak penjual  kacang rebus. “Pak, beli 5000”, kata sang pria. Dengan penuh sungguh-sungguh, Bapak sang penjual kacang tadi mempersiapkan satu bungkus kacang dengan selembar kertas bekas. “ini mas, kacangnya”, kata si tukang kacang rebus. “terimakasih, Pak”, jawab dengan lirih oleh pria tersebut.
Dengan wajah masih di tekuk tanpa senyum, pria tersebut kemudia membuka buntelan kacang yang diperolehnya dari Bapak tadi. Tanpa banyak omong, pria tersebut kemudian duduk disamping grobak penjual kacang tersebut.
“Ssssttttttt, huhhhhh”, suara hempasan asap rokok dari sang pria.
“Kenapa mas?”, Tanya sang penjual kacang kepada sang pria.
“Ndak papa pak”.
Selang beberapa detik sang pria itu pun melanjutkan perkataannya.
                “Bapak punya anak istri?”
                “Alkhamdulillah punya mas”, jawab sang penjual kacang rebus. “Memangnya kenapa mas?”
                “Iya nih pak, ternyata kata cinta jaman dulu tuh akan basi juga ya pak”
                “Maksudnya mas?”
                “Iya basi, cinta kita akan basi karena telah lama usang dimakan waktu. Dulu saja pas pacaran, kata-kata indah selalu menghiasi kata cinta. Tapi sekarang setelah menikah, semuanya jadi hambar”.
“Walah mas-mas, jangan terlalu pusing mikirin cinta. Cinta itu bagaikan kacang rebus yang mas makan”.
“Loh kok bisa?”
“Iya lah mas, kita tidak akan pernah tahu apakah ada atau tidak untuk setiap ruang dimana kacang itu ditempatkan oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya mampu berharap dan bersyukur disetiap kulit kacang akan selalu ditempati sepasang kacang yang berkualitas baik”.
“Memang ada hubungannya dengan cinta ya pak?”
“ada lah mas, cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Kita tidak akan dapat menolak dimana dia akan tumbuh. Kita hanya mampu bersyukur dan mengarahkan untuk setiap cinta yang dititipkan oleh Tuhan Semesta Alam agar bermanfaat bagi sesama manusia. Jika kita memaksakan cinta itu hadir maka hal yang timbul adalah ketidak normalan bagi setiap pelakunya. Misalnya saja kacang, kalau kacang sudah ditakdirkan dalam satu kulit berisi 2-3 biji maka rasanya akan jauh lebih enak dibandingkan dengan kacang variasi genetic yang berisi lebih dari 2-3 biji. Walaupun secara kuantitas biasanya lebih banyak. Porsi cinta akan jauh lebih baik jika kita mensyukuri disetiap kedatangannya. Seperti masnya tadi beli kacang rebus saya, itu adalah cinta Tuhan Semesta Alam dalam memberikan rezeki kepada saya dan keluarga saya. Jadi intinya, mas itu jangan selalu memperpusing apa itu cinta. Jalani saja kehidupan ini dengan bersyukur maka nikmatnya cinta akan tetap terasa disepanjang jalan hidup kita, InsyaAllah.
                “Terimakasih pak”, kata pria tersebut dengan menjabat tangan sang penjual kacang rebus. Dengan wajah mulai tersenyum pria tadi meninggalkan penjua kacang rebus.

Thursday, 19 July 2012

Apakah Bener ‘Putih itu Suci?’



                Sering terdengar di telinga kita bahwa bayi yang baru lahir bak lembaran kertas putih yang masih bersih. Belum ada coretan-coretan perjalanan hidup yang membawanya ke arah kesemrawutan dalam hidup. Hal itu disebabkan oleh pena serta kertas sang bayi masih ada di kedua orang tuanya yang setiap harinya keduanya membuat garis tepi agar tulisan sang anak akan rapi, mudah terbaca oleh sang pembaca nantinya yaitu malaikat pembaca amal perbuatan. Setiap tahun bayi itu akan tumbuh, tumbuh dan tumbuh sampai akhirnya tibalah di suatu titik (ketika baligh*) dimana diberi hak untuk memegang pena serta kertasnya sendiri untuk menuliskan semua alur cerita kehidupannya.
                Ada kalanya mereka menuliskan alur hidupnya sesuai dengan garis-garis tepi yang dibuat oleh keduanya, ada kalanya mereka menulis dengan asal-asalan (ming waton nulis). Hal yang lumrah oleh bayi itu adalah tidak menyadari kalau dirinya sudah membuat rusak tulisan dengan coretan-coretan yang tidak jelas. Ketika umurnya bertambah dewasa yaitu kurang lebih 20an tahun, bayi itupun menyadari bahwa tulisan-tulisan itu telah dinodahi oleh simbol-simbol warna yang dia torehkan ke dalam lembaran kertas tadi. Pertanyaan sang bayi adalah ‘Kenapa aku harus menorehkan warna-warna itu? Padahal sebenarnya akan mengotori kertas ku!’, kata sang bayi dengan nada marah. ‘Dari manakah aku mendapatkan warna sebanyak itu, padahal Engkau amanahi aku hanya satu pena?’, lanjut sang bayi. ‘krik,krik,Zzzzzzz,’ suara jangkrik serta suara dengkuran orang tidur menemani pertanyaan-pertanyaan bayi itu.
                ‘Itu adalah simbol-simbol dari semua dosamu’, kata Sang Pembuat Pena dan Kertas. ‘Kenapa Engkau ridhoi aku untuk menghancurkan garis-garis Mu, padahal nantinya utusanmulah yang akan membaca alur ceritaku?’ lanjut bayi itu. ‘Itu memang sengaja Aku torehkan lewat ujian-ujian yang Ku berikan, agar semua warna itu kamu kombinasaikan agar tercipta spectrum putih bersih’, Jawab-Nya. Setelah mendengar penjelasn tadi sang bayi-pun langsung tersungkur sujud dan mengatakan ‘Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengenalkan Sang Pemuat Pena dengan aku lewat semua masalah yang Engkau ciptakan’.
                Sang Raja siang pun mulai mengintip dari balik awan, sang bayipun hanya tersenyum dan bersyukur bahwa hari ini dia masih diberi nikmat untuk menyusun warna-warna kehidupan.  
Note: ketika seorang manusia sudah dapat mengenal hak dan kewajiban serta dapat membedakan hal yang baik maupun buruk.

Silahkan berbagi dengan yang lain.

Sunday, 8 July 2012

Ajining diri ono ing lati,Ajining rogo ono ing sukmo


‘Anjing’, kata seorang supir angkutan kota yang mengumpat seorang pengendara motor didepannya. Dengan mata masih melotot supir itupun masih mengumpat, ‘Ancukkkkkk, minggir mas’. Akupun hanya mampu menyaksikan kejadian itu sambil menikmati enaknya tempe goreng dan tahu goreng yang ku beli 10 menit yang lalu, sewaktu aku berjalan dipinggiran kota Bekasi. Dengan baju dan celana lusuh serta tas kecil yang berisikan air minum aku hanya mampu berfikir betapa sangat ‘BUTA’nya mata kita terhadap kebaikan orang lain. Kita lebih terbiasa mampu melihat keburukan-keburukan orang lain.
                Kata yang terbesat sesaat aku mendengar kata-kata supir tadi hanyalah ‘betapa buruk ucapan sang supir. Aku tak akan mampu mengetahui apa alasan serta isi hati dari supir tadi, ‘apakah si pak supir lagi terburu-buru untuk mencari setoran, ataukah pak supir lagi terburu-buru pulang karena anaknya lagi sakit atau apakah kata-kata itu hanyalah kata seruan kepada sang pengendara motor agar secepatnya minggir. Aku tidak akan pernah tahu, apakah di lubuk hatinya ada sebersit sifat ‘amarah’ yang sedang bergejolak. Jika aku mampu untuk membaca sifat amarah  yang terlintas di hati pak supir, berarti aku juga seharusnya mampu untuk melihat betapa besar Anjing yang memperhatikan supir tadi. Tak teramati oleh pak supir tadi bahwa di seberang jalan tadi sebenarnya ada seekor anjing yang mengaku dirinya adalah seorang manusia. Paras yang rupawan serta penampilannya bak seorang terpelajar mampu menutupi kebejatan semua kelakuannya selama ini. Anjing itu sudah terbiasa untuk menyalak kapanpun dia mau, demi menunjukan jati diri seutuhnya bahwa dirinya adalah ‘bukan ANJING’. Namun hal itu tetaplah sia-sia, ketika ribuan kata-kata terucap hanya disetarakan dengan ‘gong-gongan’ setiap kali dia menyalak tanpa merubah bentuk dari segumpal daging yang berada di lubuk hati si anjing tersebut.
                ‘Apakah akan lebih baik jika ada anjing berhati manusia ataukah manusia berhati anjing?’

Ajining diri ono ing lati,Ajining rogo ono ing sukmo.