Apakah Anda
tahu berapakali kita akan merasakan ulang
tahun? Pasti Anda akan menjawab ‘wallahua’alam’ (hanya Allah yang tahu). Setiap makhluk yang hidup di dunia ini
memang tak kan pernah tahu kapan kita mati, tapi yang jelas sebagai manusia
biasa kita disediakan waktu + 63 tahun. Walaupun terkadang dapat lebih
beberapa tahun ataupun kurang dari ini.
Namun,
pernahkah Anda menyadari bahwa perbedaan
jumlah umur manusia jaman dahulu jauh lebih lama dibandingkan manusia jaman
sekarang. Pada zaman nabi-nabi kita percaya mereka berumur ratusan hingga
ribuan tahun. Pertanyaannya adalah kenapa
terlampau banyak jaraknya? Apakah Tuhan Semesta Alam sentiment terhadap manusia jaman sekarang, karena kebejatannya? Ataukah ini memang skenario-Nya saja?
Sebagai
manusia biasa, kita hanya mampu meraba-raba dari setiap fenomena yang ada.
Salah satu rabaan dari
pertanyaan-pertanya itu adalah pernahkah kita berfikir bahwa ‘manusia jaman
sekarang ini (umat nabi Muhammad SAW) sebenarnya sudah diberi fasilitas yang
sangat lengkap untuk dapat lebih cepat dekat dengan Tuhan Semesta Alam’. Kita
tidak perlu mencari-cari mana yang namanya Tuhan Semesta Alam, karena hakikat
dari MATI adalah menyatu kembali dengan Tuhan Semesta Alam (jangan diartikan
dengan pengertian yang pendek).
Fasilitas-fasilitas
yang dimaksudkan misalnya kitab Al-Qur’an ataupun satu bulan istimewa di setiap
tahunnya dan masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang kita miliki. Oleh
sebab itulah kita secara kodrati tidak perlu menghabiskan waktu begitu lama
dalam menemukan Tuhan. Manusia zaman dahulu berumur jauh lebih panjang dari
kita karena mereka mencari Tuhannya sendiri tanpa adanya fasilitas-fasilitas
tersebut, sehingga tidak mempunyai rambu-rambu disetiap persimpangan jalan Tuhan.
Dari pemahan
tersebut maka kita akan mengarah kepada sebuah ibarat yang mengatakan bahwa Manusia zaman dahulu lebih cenderung
sebagai pembuka lahan hutan, sedangkan manusia zaman sekarang sebagai penikmat
jalan tapak yang telah dibuat oleh manusia zaman dahulu. Maka dari itulah, mari
kita bersyukur setiap hari karena Kita telah ditakdirkan sebagai manusia yang
bergelimang failitas dalam mendekatkan diri kepada Tuhan Semesta Alam.
-Edisi khusus -

No comments:
Post a Comment