Powered By Blogger

Wednesday, 3 October 2012

PAKAIAN DUNIA?


Cikarang 1 oktober 2012 jam 00.00 WIB, Jalan Kali Malang kawasan Industri pintu bagian 10-11 masih tetap menunjukan aktivitas seperti biasanya.  Nampak para wanita paruh baya, remaja sedang duduk-duduk santai di bangku yang telah disiapkan oleh pemilik lapak. Mereka berdandan sebaik baik dandanan. Pakean ketat beserta jeans mini yang mereka paksa paksakan muat agar lebih kelihatan sexy dipandang dan menggairahkan selalu mereka kenakan setiap malam. Setiap kali melintas satu, dua motor mereka akan menyapa dengan merdu ‘mari mas mampir’. Ada pula yang membuat kode-kode dengan layar Hp, asap rook, bahkan api korek gas pun mereka jadikan kode bagi pelanggan. Tak habis fikir mereka membuat kode-kode khas untuk setiap pelanggannya.
Speedo meter motor ku tetap terjaga di angka 20 km/jam. Selang 1 menit dari perjalanan pintu 10 ke pintu 11 akupun memberanikan diri untuk berhenti di salah satu lapak mereka.  Pemandangan nikmat dunia mereka hamparkan semuanya, namun yang hingga aku fikirkan sampai saat ini ada beberapa anak kecil yang secara langsung menyaksikan kenikmatan-kenikmatan tersebut. APA YANG MEREKA FIKIRKAN?
Dengan bermodalkan keberanian dan beberapa lembar uang, akhirnya aku menemukan jawaban jujur yang mereka lontarkan. Walaupun bahasanya sangat susah untuk aku susun pada saat itu, tetapi alhasil aku pulang dengan hati yang lega ternyata aku tahu di setiap hati mereka ‘Masih ada Iman dan kesetian kepada sang Maha Pencipta Alam Semesta ini’.
Beberapa diantara mereka menuturkan, karena alasan klasik kepepet masalah keuangan, punya background pengalaman yang pahit tentang asmara mereka, dan masih banyak alasan lagi yang mereka sampaikan. Sesungguhnya mereka sadar akan semua resiko dari jalan yang mereka pilih, bagaimana nasib anak-anaknya, keluarganya nanti dimasa depan, namun kenyataanya nikmat dunia sangatlah membutakan mereka untuk mengatakan TIDAK.
Ucap syukur aku panjatkan kepada Mu ya Tuhan Semesta Alam, karena Engkaulah yang selalu menjaga keimanan kami dari mulai membuka hingga menutup mata di setiap malam hari. Betapa dahsyatnya keistimewaan wanita yang Engkau pasangkan buat kami ya Tuhan Semesta Alam, dari suara mereka Engkau beri energi untuk menggoda kaum kami, belum lagi bentuk badan hingga warna kulit pun Engkau beri energi untuk menggoda kami.
Itulah kenapa, ada istilah ‘Wanita itu adalah pakaian dunia bagi kaum pria’. Semakin baik wanita itu untuk menjaga semua keistimewaan itu, semakin baik pula pria yang disampingnya. Banyak para pemimpin besar lahir karena kebesaran wanita-wanita disekitarnya. Keadilan Mu, Engkau sematkan ketika kesuksesan pria selalu di buntuti dengan kebesaran seorang wanita. Semoga Tuhan Semesta Alam selalu mencintai semua wanita yang berada di sekitar kita, Amin.

Sunday, 30 September 2012

PUTIH?


Jika Tuhan Semesta Alam mentakdirkan warna putih merupakan kesatuan dari warna-warna  monokrom maka dapat diartikan bahwa warna putih merupakan suatu kumpulan spectrum yang mempunyai panjang kelombang khas. Warna putih sering juga disebut sebagai symbol kesucian dan permulaan dari suatu kehidupan . Jika pemahaman tersebut benar, maka muncul perumpamaan seperti gambar di bawah ini, (ingat ilmu sinar dan difragsi sinar-sinar).

Jika warna-warna monokrom dianggap sebagai setiap makhluk Tuhan Semesta Alam yang mempunyai segala perbedaan, maka warna putih adalah tujuan satu satunya untuk mendapatkan kesucian yaitu Tuhan Semesta Alam. Karena jika kita padukan semua warna itu maka yang diperoleh hanyalah satu warna yaitu putih.

“Jika Setiap Makhluk Bertasbih Dengan Caranya Masing-Masing maka Angka 1/Keterpusatan serta Kesucian yaitu warna putih lah yang Diperoleh”

Tuesday, 28 August 2012

Aku ini Pecundang dan Pendusta Ulung


Aku adalah seorang pecundang yang selalu mengaku seorang pahlawan. Seorang pecundang akan mundur dan melarikan diri ketika masalah datang. Aku adalah seorang pendusta ulung, karena ikrar setia ketika masih di dalam kandungan ibu sering ku abaikan, padahal Dia telah memberikan lima kesempatan waktu dimana kita dapat bercumbu untuk melepas semua rasa kangen yang telah lama dimakan usia dan salah satu action dari ikrar setia yang kita ucapkan dahulu kala. Malasnya si pendusta sebenarnya telah diketahui oleh Sang Pencipta, oleh sebab itulah Dia memberikan beberapa keringanan bagi sang pendusta dalam hal bersuci ataupun pelaksanaannya. Keringan-keringanan itu sebenarnya salah satu kemudahan untuk meng-ECTION kan ikrar setia yang kita ucapkan.
Semakin lama sang pendusta itu hidup, semakin luntur bahkan semakin gak percaya diri ‘Apakah bener, kita telah berikrar?’ Mungkin pertanyaan tersebut tak pernah disadari oleh sang pendusta terucap dari mulutnya, namun tingkah lakunya serta pola fikirnya lah yang menggambarkan pertanyaan tersebut terucap secara jelas. Salah satu efek dari pertanyaan tersebut adalah sang pendusta akan selalu merasa tidak mampu dalam menghadapi ujian-Nya, padahal sudah jelas bahwa disetiap ujiannya pasti ada jawaban yang nantinya akan meningkatkan derajat bagi sang pendusta.
Karena sang pendusta pernah mengaku pahlawan, maka untuk menjawab pertanyaan tersebut sang pendusta berandai-andai untuk berkompetisi dengan waktu. Apajadinya jika sang pendusta mempu menghentikan waktu satu menit saja ketika sedang bercumbu dengan-Nya. Betapa nikmat sang pendusta, jikalau dia mampu untuk melakukan itu setiap lima waktu.

Thursday, 2 August 2012

Pemikiran Mahasiswa ‘GILA’?


Panas terik di Yogyakarta tanggal 27 Maret 2009 tak dapat dirasakan oleh salah seorang mahasiswa tingkat 2 Universitas Negeri di Yogyakarta. Tepat jam 10 mahasiswa tersebut membentangkan spanduk di depan rektorat. Sepanduk tersebut bertuliskan:
‘Universitas Macam Apaan ini !?,
Mahasiswa sendiri di JAJAH pemerintah Sendiri?
Kalian (akademisi) Pernahkah Sadar akan Itu?
Begitu membingungkan bukan?, setiap orang yang melihat spanduk itu terperangah keheranan melihat tingkah laku mahasiswa tersebut. Apakah mahasiswa tersebut ‘STREZ’ akibat tekanan hidup sebagai mahasiswa ataukah memang benar pertanyaan-pertanyaan tersebut patut dilontarkan kita.
Hampir 12 jam mahaiswa tersebut membentangkan spanduk tersebut di depan rektorat, alhasil adalah mahasiswa tersebut diusir oleh Satuan Keamanan Kampus. Dengan dalih ingin berdiskusi dengan Pak Rektor, Mahasiswa ini tetap bersikukuh duduk dan membentangkan spanduk tadi. Namun hal tersebut sia-sia, karena mahasiswa tersebut tak punya daya untuk melawan 5 SKK yang mengusirnya dari depan rektorat.
Dengan penuh keingin tahuan, saya yang awalnya hanya berdiam diri duduk di trotoar akhirnya menghampiri mahasiswa tadi dan menanyakan semua maksud dari tulisan yang dia tulis. Usut punya usut ternyata pemikiran mahasiswa yang satu ini cukuplah logic, karena mahasiswa ini berfikir bahwa Program Kreativitas Mahasiswa yang dibuat oleh Pemerintah (DIKTI) merupakan salah satu belenggu yang dibuat untuk memperlemah kualitas Bangsa Indonesia itu sendiri. Kenapa?
                Karena, Lewat program tersebut setiap mahasiswa di Indonesia diiming-imingi uang yang lebih dari cukup (bagi mahasiswa) untuk tetap berkreatif. ‘Loh, itu kan bagus kan?’, kata aku keheranan.
‘Ada bagus, ada enggaknya mas’, jawab mahasiswa tersebut.
‘Coba jelaskan mas?’ lanjut saya.
‘Segi bagusnya adalah Mahasiswa Indonesia akan tetap di asah daya otaknya agar tetap dan selalu berfikir kreatif akan fenomena-fenomena yang dianggapnya sesuatu hal yang baru dan patut untuk di teliti. Hal jeleknya adalah MAHASISWA Indonesia hanya akan berfokus di masalah-masalah yang baru tidak memperhatikan masalah-masalah yang lama. Misalnya kita lihat dari segi pertanian, kita pasti telah sadar dan pasti mengakui bahwa tanah kita subur TAPI KENAPA banyak hasil pertanian yang impor dari luar negeri?, kenapa dana-dana itu tidak difokuskan untuk meniliti masalah-masalah yang muncul itu?. Dari bidang teknologi juga seperti itu mas, kita hanya mampu berkreasi tapi sangat susah untuk merealitasikan menjadi produk jadi (seperti kasus mobil SMK) dan masih banyak lagi mas.’
Dengan penuh heran, aku pun hanya berkata ‘Oooo seperti itu ya?’.
‘Mari mas’, kata mahasiswa tadi yang kemudian melanjutkan perjalannya.
Memangkah benar hal tersebut tang difikirkan mahasiswa tadi?, Kita sebenarnya di kurung di sebuah kurungan yang begitu besar sehingga ita tidak mampu merasakan kehadiran kurungan tersebut. Kita hanya mampu dan mengikuti pola yang dibuat oleh si pembuat kurungan tersebut (dalam hal ini pemerintah) tanpa menyadari efek jangka pajang yang dibuat oleh si pembuat kurungan itu.
‘Semoga kita dianugrahi berfikir seperti Mahasiswa ‘GILA’ tadi yaitu berfikir diluar pengekang-pengekang yang merampas kekuasaan akan diri kita sendiri’.

Saturday, 28 July 2012

Kapan kah kita berkuasa pada diri kita?


Pernahkah kita berfikir bahwa kita sebenarnya hidup di dunia ini tidak mempunyai kuasa sedikitpun atas semua yang melekat pada diri kita. Nama diri kita pun sebenarnya hasil dari consensus dari sebuah kesepakatan antara keluarga kita dan orang lain yang mengatakan dan mengesahkan bahwa anak manusia yang baru lahir ini kemudian diberi nama ‘paijo’ (misalnya). Dalam istilah jawa biasa disebut ‘ditengeri’. Hasil kesepakatan tersebut tertuang pada akta kelahiran kita.
Untuk mempermudah pemahaman tersebut maka dapat dimisalkan, suatu kita di tanya oleh seseorang, ‘Namanya siapa?’, lalu Anda akan menjawab ‘Nama saya Paijo. Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah mana buktinya yang menunjukan bahwa nama Anda adalah Paijo?. Anda pasti akan mengarah kepada Akta kelahiran maupun KTP (kartu tanda penduduk) sebagai salah satu jawaban yang akan member bukti bahwa nama Anda adalah Paijo.
Pengakuan Andapun tidak akan berguna ketika Anda ditanya seseorang tentang kondisi badan Anda (disaat wawancara kerja misalnya), kemudian Anda mengatakan bahwa diri Anda sehat, padahal Anda belum mempunyai surat keterangan dokter yang menerangkan bahwa Anda sehat. Hal tersebut berarti bahwa Anda tidak mempunyai kuasa sedikit pun terhadap kondisi kesehatan Anda. Sedangkan Pak dokter mempunyai kuasa sepenuhnya atas kesehatan yang Anda rasakan.
Begitu juga dengan kasus, ketika Anda menyebut diri Anda adalah seorang sarjana, maka Anda  harus menunjukan bukti berupa Ijasah. Lalu pertanyaan nya adalah kapan kita berkuasa atas diri kita?
Jawabannya adalah ketika kita dapat bersahabat dengan Sang Pemegang Kuasa di Alam semesta ini.

Bagaimana menurut Anda?

Tuesday, 24 July 2012

Tuhan, Kenapa sih aku berumur Pendek?


Apakah Anda tahu berapakali kita akan merasakan ulang tahun? Pasti Anda akan menjawab ‘wallahua’alam’ (hanya Allah yang tahu). Setiap makhluk yang hidup di dunia ini memang tak kan pernah tahu kapan kita mati, tapi yang jelas sebagai manusia biasa kita disediakan waktu + 63 tahun. Walaupun terkadang dapat lebih beberapa tahun ataupun kurang dari ini.
Namun, pernahkah Anda menyadari bahwa perbedaan jumlah umur manusia jaman dahulu jauh lebih lama dibandingkan manusia jaman sekarang. Pada zaman nabi-nabi kita percaya mereka berumur ratusan hingga ribuan tahun. Pertanyaannya adalah kenapa terlampau banyak jaraknya? Apakah Tuhan Semesta Alam sentiment terhadap manusia jaman sekarang, karena kebejatannya? Ataukah ini memang skenario-Nya saja?
Sebagai manusia biasa, kita hanya mampu meraba-raba dari setiap fenomena yang ada. Salah satu rabaan dari pertanyaan-pertanya itu adalah  pernahkah kita berfikir bahwa ‘manusia jaman sekarang ini (umat nabi Muhammad SAW) sebenarnya sudah diberi fasilitas yang sangat lengkap untuk dapat lebih cepat dekat dengan Tuhan Semesta Alam’. Kita tidak perlu mencari-cari mana yang namanya Tuhan Semesta Alam, karena hakikat dari MATI adalah menyatu kembali dengan Tuhan Semesta Alam (jangan diartikan dengan pengertian yang pendek).
Fasilitas-fasilitas yang dimaksudkan misalnya kitab Al-Qur’an ataupun satu bulan istimewa di setiap tahunnya dan masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang kita miliki. Oleh sebab itulah kita secara kodrati tidak perlu menghabiskan waktu begitu lama dalam menemukan Tuhan. Manusia zaman dahulu berumur jauh lebih panjang dari kita karena mereka mencari Tuhannya sendiri tanpa adanya fasilitas-fasilitas tersebut, sehingga tidak mempunyai rambu-rambu disetiap persimpangan jalan Tuhan.
Dari pemahan tersebut maka kita akan mengarah kepada sebuah ibarat yang mengatakan bahwa Manusia zaman dahulu lebih cenderung sebagai pembuka lahan hutan, sedangkan manusia zaman sekarang sebagai penikmat jalan tapak yang telah dibuat oleh manusia zaman dahulu. Maka dari itulah, mari kita bersyukur setiap hari karena Kita telah ditakdirkan sebagai manusia yang bergelimang failitas dalam mendekatkan diri kepada Tuhan Semesta Alam.
-Edisi khusus -  

Monday, 23 July 2012

Cinta-nya Bapak tukang ng-Rebus Kacang


Cikarang, 23 July 2012. Tampak seorang pria paruh baya  dengan wajah tertunduk lesu dengan sebatang rokok yang masih menempel di antara kedua jari kanannya berjalan menuju bapak-bapak penjual  kacang rebus. “Pak, beli 5000”, kata sang pria. Dengan penuh sungguh-sungguh, Bapak sang penjual kacang tadi mempersiapkan satu bungkus kacang dengan selembar kertas bekas. “ini mas, kacangnya”, kata si tukang kacang rebus. “terimakasih, Pak”, jawab dengan lirih oleh pria tersebut.
Dengan wajah masih di tekuk tanpa senyum, pria tersebut kemudia membuka buntelan kacang yang diperolehnya dari Bapak tadi. Tanpa banyak omong, pria tersebut kemudian duduk disamping grobak penjual kacang tersebut.
“Ssssttttttt, huhhhhh”, suara hempasan asap rokok dari sang pria.
“Kenapa mas?”, Tanya sang penjual kacang kepada sang pria.
“Ndak papa pak”.
Selang beberapa detik sang pria itu pun melanjutkan perkataannya.
                “Bapak punya anak istri?”
                “Alkhamdulillah punya mas”, jawab sang penjual kacang rebus. “Memangnya kenapa mas?”
                “Iya nih pak, ternyata kata cinta jaman dulu tuh akan basi juga ya pak”
                “Maksudnya mas?”
                “Iya basi, cinta kita akan basi karena telah lama usang dimakan waktu. Dulu saja pas pacaran, kata-kata indah selalu menghiasi kata cinta. Tapi sekarang setelah menikah, semuanya jadi hambar”.
“Walah mas-mas, jangan terlalu pusing mikirin cinta. Cinta itu bagaikan kacang rebus yang mas makan”.
“Loh kok bisa?”
“Iya lah mas, kita tidak akan pernah tahu apakah ada atau tidak untuk setiap ruang dimana kacang itu ditempatkan oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya mampu berharap dan bersyukur disetiap kulit kacang akan selalu ditempati sepasang kacang yang berkualitas baik”.
“Memang ada hubungannya dengan cinta ya pak?”
“ada lah mas, cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Kita tidak akan dapat menolak dimana dia akan tumbuh. Kita hanya mampu bersyukur dan mengarahkan untuk setiap cinta yang dititipkan oleh Tuhan Semesta Alam agar bermanfaat bagi sesama manusia. Jika kita memaksakan cinta itu hadir maka hal yang timbul adalah ketidak normalan bagi setiap pelakunya. Misalnya saja kacang, kalau kacang sudah ditakdirkan dalam satu kulit berisi 2-3 biji maka rasanya akan jauh lebih enak dibandingkan dengan kacang variasi genetic yang berisi lebih dari 2-3 biji. Walaupun secara kuantitas biasanya lebih banyak. Porsi cinta akan jauh lebih baik jika kita mensyukuri disetiap kedatangannya. Seperti masnya tadi beli kacang rebus saya, itu adalah cinta Tuhan Semesta Alam dalam memberikan rezeki kepada saya dan keluarga saya. Jadi intinya, mas itu jangan selalu memperpusing apa itu cinta. Jalani saja kehidupan ini dengan bersyukur maka nikmatnya cinta akan tetap terasa disepanjang jalan hidup kita, InsyaAllah.
                “Terimakasih pak”, kata pria tersebut dengan menjabat tangan sang penjual kacang rebus. Dengan wajah mulai tersenyum pria tadi meninggalkan penjua kacang rebus.