Powered By Blogger

Monday, 29 August 2011

Belajar dari Makhluk Kecil

suatu ketika ada dua baby ‘worm’ sedang jalan-jalan. kedua baby ‘worm’ itu bernama ‘joe’ and ‘jie’. Usia baby ’jie’ jauh lebih muda 60 second dari pada baby ‘joe’. Didalam perjalanannya, mereka berhenti dibawah pohon yang sangat rindang untuk berteduh dan menikmati perbekalan yang telah disiapkan oleh sang ibu sewaktu mereka meninggalkan rumah.
“Jie, jika kamu di beri kesempatan untuk menelusuri pohon ini, kemana kamu akan beristirahat untuk menikmati masa tua mu nanti?”, tanya Joe kepada Jie.
“Kalau aku, mau ke ranting yang kanan itu loh kak”, kata si Jie sambil menunjuk ranting yang dimaksud.
“kenapa jie?”
“karena, kemungkinan besar dalam semasa hidupku, aku akan menikmati buahnya sampai puas, jika aku perlu daun pun aku bisa ngambil kapanpun aku mau”, jawab Jie dengan penuh semangat.
“kalau kaka sendiri mau kemana?”, tanya jie.
“Kalau aku, aku akan tetap berusaha sampai pucuk pohon itu.”
“loh kenapa joe, umur kita kan ndak sepanjang makhluk lainnya?, sebelum sampai sana pasti kamu sudah mati.”
“tapi perlu diingat Jie, aku akan mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk menikmati semua bagian dari pohon ini walaupun kenikmatan tertertinggi hanya ada pada pucuk pohon ini dan aku tidak akan pernah tahu kapan hal itu terjadi.”
“Ooo…begitu ya Joe…”.
sambil tersenyum, keduanya mulai melanjutkan perjalannya.



‘Kehidupan dari Kata Berawalan me- dan di- ‘

Masih ingatkah pelajaran Bahasa Indonesia yang pernah disampaikan oleh Bapak/Ibu guru kita di bangku Sekolah Dasar yaitu tentang kata aktif dan pasif?. Kata Bapak/Ibu Guru, kata aktif biasanya diawali dengan awalan me-, sedangkan untuk kata pasif diawali dengan awalan di-. Betapa sederhana pengertian Bapak/Ibu guru (mari berdoa untuk Beliau,’semoga ilmu yang diajarkan kepada kita menjadi ilmu yang bermanfaat dan membaikan beliau di akherat nanti, amin).
Jika kita menyangkut pautkan pengertian kata aktif dan pasif dengan kehidupan, maka kita akan memperoleh pengertian yang lebih mendalam dari materi tersebut. Kata aktif yang berawalan me- , dapat menunjukan soul dari pelakunya untuk ‘fighting’ atau pekerja keras, optimisme akan perolehan cita-cita serta harapan-harapan terbaik dalam hidup dan masih banyak lagi. Semiasal, kata menabung, kata tersebut mengandung pengertian ‘si penabung’ mengharapkan uangnya terkumpul. mengajari, kata tersebut mengandung makna ‘si pemberi pelajaran’ menginginkan ‘orang yang diajari’ lebih pintar daripada dirinya, dan masih banyak yang lain.
Kata pasif yang berawalan di- dapat menunjukan pengertian ‘penantian-penantian’ yang dilakukan oleh pelakunya. Misalnya kata ‘diberi’. Kata ‘diberi’ berarti pelaku akan lebih suka pada proses menanti dari pada melakukan ‘pemberian’. ‘Dicintai akan mengandung makna menunggu datangnya proses ‘cinta’, dan lain-lain.
Kata kerja yang berawalan me- akan jauh lebih bermakna daripada kata kerja yang berawalan di-. Hal tersebut dikarenakan, jika kita memakai kata me- berarti secara tidak sadar kita sudah masuk dalam kata di-. Beda halnya dengan kata kerja dengan awalan di-, kata kerja awalan di- hanya mampu mendeskripsikan semua daya upaya dari suatu proses untuk dirinya sendiri.
Misalnya, Ibu Budi memberi permen kepada Toni. Ibu Budi melakukan proses ‘beri’ kepada Toni. Arti yang lain adalah Ibu Budi telah ‘diberi’ oleh Tuhan Semesta Alam untuk melakukan proses ‘beri’ kepada Toni. Toni sebagai object yang dikenai proses ‘beri’.

“Jika kita menitikberatkan pada proses membahagiakan orang lain, maka sebenartnya kita telah mengikhlaskan serta menyandarkan kebahagiaan kita kepada Tuhan Semesta Alam”

‘Proses Pencapaian Energi Aktivasi dari Sebuah Kehidupan akan Selalu di Lihat Oleh Tuhan Semesta Alam’

'Tenaga aktivasi dalam suatu reaksi diukur dari keadaan ground state (keadaan paling nyaman dari reaktan) hingga titik tertinggi dari perjalannan suatu reaksi', Untuk mencapai titik tertinggi itu, diperlukan energi yang cukup dari sistem agar reaksinya berjalan dan berakhir manjadi suatu produk. Dari proses perjalanan reaksi, peneliti lebih suka mengamati proses perjalanan energi dari titik awal hingga titik tertinggi. Hal tersebut dikarenakan para peneliti akan lebih banyak melakukan penilaian dari perjalanan energi tersebut, sehingga dapat disimpulkan ‘apakah reaksinya dapat berlangsung ataupun tidak’.
Mengacu dari konsep kimia sederhana itu, kita dapat berfikir bahwa jika seseorang berada pada titik kenyamanan yaitu ‘malas’, maka untuk keluar dari keadaan paling nyaman tersebut seseorang itu harus mencari energi untuk membawanya ke proses tertinggi dari setiap proses reaksi hidup. Energi yang dimaksud biasa disebut SEMANGAT. Semakin jauh rentang antara titik kenyamanan dengan titik puncak, maka semakin tinggi pula energi (baca: semangat) yang dibutuhkan.
Puncak dari semangat bukan suatu hal yang paling penting dari reaksi kehidupan, hal yang paling penting adalah proses pencapaian semangat dari setiap reaksi kehidupan. Hal tersebut dikarenakan proses pencapaian semangat merupakan salah satu hal yang di nilai Tuhan Semesta Alam dalam usahanya untuk keluar dari rasa malas tersebut. So, tetaplah ‘BERSEMANGAT’ didalam menjalani proses kehidupan, karena Tuhan Semesta Alam selalu memperhatikan proses pencapain semangat kita.

FASA-FASA CINTA

Sebagian orang menganggap kata cinta identik dengan hubungan antara dua insan yang terikat didalam satu ikatan sehingga terjadi suatu interaksi yang dinamakan kangen, kebahagiaan serta kesedihan. Cinta adalah ‘suatu’ hasil karya Tuhan yang sebenarnya digunakan untuk mendasari kegiatan makhluk-Nya di alam semesta ini. Ibarat pembentukan suatu senyawa didalam ilmu kimia, cinta merupakan atom-atom inti yang menyusun dari molekul yang dimaksud. Intepretasi makna ‘cinta’ akan berbentuk fasa-fasa yang dapat dilihat maupun dirasakan oleh pelakunya.
Rasa kangen, kebahagiaan, kesedihan dan kebencian merupakan beberapa fasa dari cinta. Sebagian orang tidak menyadari bahwa di dunia ini masih banyak fasa-fasa cinta. Fasa-fasa cinta tersebut selama ini sebnarnya nampak, namun karena ada pembatasan belenggu akan artian ‘cinta’ maka fasa lain dari cinta akan terasa tak nampak darinya. Beberapa fasa cinta yang lain adalah ‘membaca, menulis dan bertanya’. Ketiganya termasuk fasa cinta dari ‘penuntutan ilmu’. Rapi, sopan, bersih merupakan fasa cinta dari ‘estetika’, dan lain-lain.
“Semakin banyak intepretasi kita akan fasa cinta, semakin sering pula untuk bersyukur kepada-Nya”
Note:
Di dalam ilmu kimia dikenal tiga jenis fasa dari suatu senyawa. Fasa-fasa tersebut yaitu fasa padat, fasa cair dan fasa padat. Yang paling membedakan dari ketiga fasa tersebut adalah interaksi serta kerapatan yang dimiliki oleh antar struktur senyawa. Fasa padat mempunyai kerapatan paling tinggi dibandingkan dengan fasa cair dan gas. Fasa Cair lebih rapat daripada gas. Jika dilihat dari kenampakan fisik dari ketiganya sangatlah berbeda, namun jika dilihat dari komponen unsur pembentuknya unsur yang sama. Misalnya senyawa air (H2O). Senyawa air terbentuk dari atom H dan O. Senyawa air mempunyai fasa padat yang sering disebut ‘es’, fasa cair ‘air’, fasa gas ‘gas H2O’.

“Tuhan Semesta Alam telah Menganuhgrahkan Keadilan terhadap Daya Tarip Setiap Makhluknya”

Keadilan Tuhan Semesta Alam akan pencipataan manusia diantaranya adalah ‘membubuhi titik penarik pada setiap manusia yang diciptakannya’. Titik penarik tersebut sering diungkapkan dengan penuh perasaan namun tanpa alasan. Hal tersebut terbukti dari setiap pasangan manusia (cowok-cewek) selalu mengagumi satu sama lain dan keduanya menganggap pasangannya paling sempurna dihadapan masing-masing sehingga munculah pujian-pujian diantara keduanya.
Hal tersebut terbukti ketika seseorang merasakan ‘suatu hal ketidak pantasan dari orang lain akan pasanganya’.
‘kok bisa ya?, orang sejelek itu pasangannya cakep banget?’
Perkataan tersebut santer terdengar diantara kita. Dari fakta di atas, dapat dimengerti bahwa diantara keduanya ‘pasti’ sudah terjadi koneksi antar titik tersebut sehingga membentuk suatu hubungan yang disebut cinta.
Mengacu pada ‘Tuhan itu telah menetapkan jodoh diantara kitA’, maka dapat dimengerti pula bahwa ‘setiap insan pasti mempunyai kepantasan masing-masing di dalam pemilihan jodohnya oleh Tuhan Semesta Alam’. Maka, janganlah khawatir tentang pemantasan yang dilakukan oleh Tuhan Semesta Alam di dalam menentukan pasangan kita.

Saturday, 20 August 2011

Faktor ‘Kenyamanan’ dapat Mengubah ‘Kebiasaan’

Kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia spt kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat; Antr keseluruhan pengetahuan manusia sbg makhluk sosial yg digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yg menjadi pedoman tingkah lakunya (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kebudayaan akan berkembang seiring dengan berkembangnya zaman. Berkembangnya suatu kebudayaan akan selalu nampak selaras dengan akar budaya yang dimilikinya. Akar-akar budaya akan selalu mengikuti disetiap perkembangan kebudayaan. Jika akar-akar budaya tidak mengikuti perkembangan suatu kebudayaan maka hal tersebut merupakan salah satu indikasi bergesernya suatu kebudayaan, bukan suatu perkembangan kebudayaan.
Salah satu kebudayaan Bangsa Indonesia adalah berbudaya ‘kerakyatan’. Budaya Indonesia seringkali melibatkan orang banyak, sehingga saya katakana sebagai budaya kerakyatan. Budaya kerakyatan ini juga dapat diartikan sebagai penumpuan kepentingan rakyat dari setiap kebudayaan yang berkembang.
Pasar Tradisional adalah salah satu tempat interaksi masyarakat Indonesia dalam membentuk suatu kebudayaan. Dari tahun ke tahun, keberadaan pasar tradisional semakin tergeser oleh ‘minimarket-minimarket’yang menyediakan berbagai macam barang dagangan seperti halnya dipasar. Dilihat dari segi ‘kemajuan’ bangsa, hal tersebut suatu tanda-tanda adanya kemajuan dibidang perekonomian. Namun, jika kita lihat akar-akar dari budaya Indonesia mulai hilang seiring bertambahnya minimarket-minimarket di Indonesia.
Kenyamanan serta kemudahan merupakan salah satu alasan mereka dalam membuat minimarket. Dari adanya alasan tersebut maka masyarakat luas pun merasakan dampak yang baik dari pembuatan minimarket tersebut. Di satu sisi ada kebaikan-kebaikan yang diperoleh dari dibuatnya minimarket, namun disisi lain kita mengabaikan ‘pasar tradisional’ yang sebenanrnya dari salah satu tempat itulah budaya Indonesia terbentuk. Semoga, dikemudian hari para pemimpin kita (serta kita) memperbaiki kenyamanan ‘pasar tradisional’ agar bisa bersaing dengan pasar-pasar modern.

Mari Mulai dengan Kebaikan-Kebaikan yang Paling Sederhana

Salah satu anjuran Tuhan kepada manusia adalah berbuat ‘kebajikan’. Sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia, kata ‘kebajikan’ berasal dari kata ‘bajik’ yang mempunyai makna sesuatu yang mendatangkan kebaikan ataupun perbuatan baik. Dalam istilah ‘jawa’ kita mengenal kata ‘becik’. Kata ‘becik’ pun mempunyai arti baik. Dalam bahasa arab dikenal dengan (‘hasanun’, ‘khoir’, ‘thoyyibun’, ‘thoiyyibun’)*. Dalam kamus ‘Oxford’ kata ‘baik’ mempunyai kesetaraan dengan kata-kata seperti good, fine, kind. Dalam kaitannya dengan sifat perbuatan biasanya dipakai kata ‘kind’. kind mempunyai pengertian ‘(somebody or something) showing concern about the happiness and feelings of others in a gentle and friendly’.
Sejenak kita lepaskan diri dari kerumitan ‘estimologi’ dari kata ‘baik’. Baik adalah salah salah satu kata yang sebenarnya ‘tertumpu’ pada daya guna kita terhadap ‘kebahagiaan’ orang lain, maksudnya adalah predikat ‘baik’ akan menghampiri kita ketika perbuatan kita dapat membahagiakan orang lain. Kata ‘baik’ akan menjadi suatu sarana ‘ketenangan hati’ jika kita mampu memposisikan kata ‘baik’ diantara ‘kemanfaatan’ serta ‘Tuhan’ yang mengatur kebaikan disetiap perbuatan yang kita lakukan. Setiap perbuatan yang mengarah kepada ‘kebajikan’ akan menjurus kepada kebaikan-kebaikan yang diciptakan Tuhan untuk semua makhluk-Nya.

Sunday, 7 August 2011

Pencapaian ‘key’ di dalam menembus jalan ‘penyelesaian’

Kehampaan hidup di dunia akan terasa seiring dengan munculnya perasaan ‘tak berguna’nya dirikita didalam setiap masalah. Disetiap masalah kita dituntut untuk selalu mensiasati dan berfikir untuk mencari ‘key’ atau tanda-tanda Tuhan di dalam mengarahkan kita ke jalan ‘penyelesaian’. Pemberian ‘key’ oleh Tuhan tidak selalu disampaikan kepada manusia dengan cara-cara yang wajar dan melewati akal kesadaran kita. Proses pencapaian ‘key’ untuk setiap masalah akan selalu berbeda, sesuai dengan kapasitas serta tingkatan kita dihadapan-Nya. Semakin lama dan susah pencapaian setiap ‘key’ berarti semakin tinggi pula kedudukan diri kita.
Proses kehampaan hidup akan cenderung menghilang ketika kita mulai menyadari bahwa kita itu ‘hebat’. Hebat disetiap pencapaian ‘key’ dari suatu masalah. Perasaan tersebut akan muncul ketika pola fikir kita sudah dibalik dari mulanya kepemilikan suatu ‘keterbatasan’ menjadi kepemilikan suatu ‘kehebatan’ dari setiap pencapaian ‘key’, walaupun terkadang jika dekat dengan level kepemilikan suatu ‘kehebatan’, maka dekat pula dengan sifat sombong. Oleh sebab itulah, ucapkan syukur tiap kali Tuhan masih memberi kita nafas, karena kita tak kan pernah tahu akan waktu Tuhan didalam memberikan ‘key’ untuk setiap masalah kita.