Setiap orang menganggap bahwa menunggu itu hal yang paling menyebalkan. Tidak tahu apa alasan mereka mengucapkan hal semacam itu, mungkin sikap menunggu dianggap sebagai suatu sikap yang merugikan diri sendiri. Memang sih, terkadang sikap menunggu bikin kita menjadi emosi. Namun, perlu dipikir lagi bahwa, sikap menunggu adalah sala satu sikap yang sebenarnya diciptakan Tuhan untuk melekat disetiap manusia. Sadar ataupun tidak, kita hidup di dunia adalah hidup untuk menunggu, menunggu hasil dari pekerjaan jita, menunggu hak kita setelah kewajiban kita jalankan, sampai-sampai kita menunggu kematian. Kalau kita menyadari hal itu, pasti kita tidak akan menyesal untuk belajar yang namanya “menunggu”.
Ilmu perhitungan matematika mengajari kita untuk mengetahui definisi dari “jarak”. Jarak terbentuk dari dua titik yang dihubungkan dalam satu garis. Diantara dua titik itu adalah jarak. Jika kita ibaratkan suatu garis adalah suatu perjalanan yang ditempuh dari satu titik ketitik lain, kita akan menemukan definisi makna setiap titik yang kita temukan. Setiap titik yang kita temukan mempunyai makna dan bentuk yang berbeda jika kita memandang titik tersebut berbeda dari orang lain yang memandang. Setiap orang akan mempunyai makna yang berbeda dari setiap titik yang mereka lewati. Hal tersebut dikarenakan, kedudukan dari setiap orang dalam hidup pasti berbeda, walaupun hanya satu derajat untuk geser. Itulah mengapa, setiap orang akan mempunyai pengertian untuk setiap titik yang mereka lewati dalam hidup.
Perjalan yang ditempuh dari titik satu ke titik yang lain ditempuh dalam kurun waktu yang mengakibatkan kita untuk menunggu kesampaian titik satu ketitik yang lain. Makna yang berbeda akan muncul ketika kita melakukan suatu gaya yang dilakukan dalam kita menunggu. Pemberian suatu gaya yang berlebih akan membuat titik tersebut keluar dari jalur yang semestinya dilewati. Hal tersebut bukanlah suatu kesalahan, namun suatu konsekuensi dimana kita memilih untuk melakukan hal yang berbeda di dalam mencari suatu kebenaran. Untuk mengatasi hal tersebut Tuhan telah menyiapkan solusinya. Solusi tersebut dibuat Tuhan dalam bentuk variable pengontrol. Variabel pengontrol yang Tuhan ciptakan adalah benda-benda yang diciptakan-Nya yang bermakna disetiap keadaan. Makna dari benda-benda pengontrol itu akan muncul ketika kita mulai menyingkronkan otak yang kita miliki dengan hati nurani. Penyingkrongan antara otak dan hati nurani akan menuntun kita dalam menjalani kegiatan “menunggu” dari perjalanan titik ke titik yang lain dengan selamat, dan mencipkan suatu kata yang bermakna yaitu “garis Tuhan”.

No comments:
Post a Comment