Powered By Blogger

Wednesday, 3 October 2012

PAKAIAN DUNIA?


Cikarang 1 oktober 2012 jam 00.00 WIB, Jalan Kali Malang kawasan Industri pintu bagian 10-11 masih tetap menunjukan aktivitas seperti biasanya.  Nampak para wanita paruh baya, remaja sedang duduk-duduk santai di bangku yang telah disiapkan oleh pemilik lapak. Mereka berdandan sebaik baik dandanan. Pakean ketat beserta jeans mini yang mereka paksa paksakan muat agar lebih kelihatan sexy dipandang dan menggairahkan selalu mereka kenakan setiap malam. Setiap kali melintas satu, dua motor mereka akan menyapa dengan merdu ‘mari mas mampir’. Ada pula yang membuat kode-kode dengan layar Hp, asap rook, bahkan api korek gas pun mereka jadikan kode bagi pelanggan. Tak habis fikir mereka membuat kode-kode khas untuk setiap pelanggannya.
Speedo meter motor ku tetap terjaga di angka 20 km/jam. Selang 1 menit dari perjalanan pintu 10 ke pintu 11 akupun memberanikan diri untuk berhenti di salah satu lapak mereka.  Pemandangan nikmat dunia mereka hamparkan semuanya, namun yang hingga aku fikirkan sampai saat ini ada beberapa anak kecil yang secara langsung menyaksikan kenikmatan-kenikmatan tersebut. APA YANG MEREKA FIKIRKAN?
Dengan bermodalkan keberanian dan beberapa lembar uang, akhirnya aku menemukan jawaban jujur yang mereka lontarkan. Walaupun bahasanya sangat susah untuk aku susun pada saat itu, tetapi alhasil aku pulang dengan hati yang lega ternyata aku tahu di setiap hati mereka ‘Masih ada Iman dan kesetian kepada sang Maha Pencipta Alam Semesta ini’.
Beberapa diantara mereka menuturkan, karena alasan klasik kepepet masalah keuangan, punya background pengalaman yang pahit tentang asmara mereka, dan masih banyak alasan lagi yang mereka sampaikan. Sesungguhnya mereka sadar akan semua resiko dari jalan yang mereka pilih, bagaimana nasib anak-anaknya, keluarganya nanti dimasa depan, namun kenyataanya nikmat dunia sangatlah membutakan mereka untuk mengatakan TIDAK.
Ucap syukur aku panjatkan kepada Mu ya Tuhan Semesta Alam, karena Engkaulah yang selalu menjaga keimanan kami dari mulai membuka hingga menutup mata di setiap malam hari. Betapa dahsyatnya keistimewaan wanita yang Engkau pasangkan buat kami ya Tuhan Semesta Alam, dari suara mereka Engkau beri energi untuk menggoda kaum kami, belum lagi bentuk badan hingga warna kulit pun Engkau beri energi untuk menggoda kami.
Itulah kenapa, ada istilah ‘Wanita itu adalah pakaian dunia bagi kaum pria’. Semakin baik wanita itu untuk menjaga semua keistimewaan itu, semakin baik pula pria yang disampingnya. Banyak para pemimpin besar lahir karena kebesaran wanita-wanita disekitarnya. Keadilan Mu, Engkau sematkan ketika kesuksesan pria selalu di buntuti dengan kebesaran seorang wanita. Semoga Tuhan Semesta Alam selalu mencintai semua wanita yang berada di sekitar kita, Amin.

Sunday, 30 September 2012

PUTIH?


Jika Tuhan Semesta Alam mentakdirkan warna putih merupakan kesatuan dari warna-warna  monokrom maka dapat diartikan bahwa warna putih merupakan suatu kumpulan spectrum yang mempunyai panjang kelombang khas. Warna putih sering juga disebut sebagai symbol kesucian dan permulaan dari suatu kehidupan . Jika pemahaman tersebut benar, maka muncul perumpamaan seperti gambar di bawah ini, (ingat ilmu sinar dan difragsi sinar-sinar).

Jika warna-warna monokrom dianggap sebagai setiap makhluk Tuhan Semesta Alam yang mempunyai segala perbedaan, maka warna putih adalah tujuan satu satunya untuk mendapatkan kesucian yaitu Tuhan Semesta Alam. Karena jika kita padukan semua warna itu maka yang diperoleh hanyalah satu warna yaitu putih.

“Jika Setiap Makhluk Bertasbih Dengan Caranya Masing-Masing maka Angka 1/Keterpusatan serta Kesucian yaitu warna putih lah yang Diperoleh”

Tuesday, 28 August 2012

Aku ini Pecundang dan Pendusta Ulung


Aku adalah seorang pecundang yang selalu mengaku seorang pahlawan. Seorang pecundang akan mundur dan melarikan diri ketika masalah datang. Aku adalah seorang pendusta ulung, karena ikrar setia ketika masih di dalam kandungan ibu sering ku abaikan, padahal Dia telah memberikan lima kesempatan waktu dimana kita dapat bercumbu untuk melepas semua rasa kangen yang telah lama dimakan usia dan salah satu action dari ikrar setia yang kita ucapkan dahulu kala. Malasnya si pendusta sebenarnya telah diketahui oleh Sang Pencipta, oleh sebab itulah Dia memberikan beberapa keringanan bagi sang pendusta dalam hal bersuci ataupun pelaksanaannya. Keringan-keringanan itu sebenarnya salah satu kemudahan untuk meng-ECTION kan ikrar setia yang kita ucapkan.
Semakin lama sang pendusta itu hidup, semakin luntur bahkan semakin gak percaya diri ‘Apakah bener, kita telah berikrar?’ Mungkin pertanyaan tersebut tak pernah disadari oleh sang pendusta terucap dari mulutnya, namun tingkah lakunya serta pola fikirnya lah yang menggambarkan pertanyaan tersebut terucap secara jelas. Salah satu efek dari pertanyaan tersebut adalah sang pendusta akan selalu merasa tidak mampu dalam menghadapi ujian-Nya, padahal sudah jelas bahwa disetiap ujiannya pasti ada jawaban yang nantinya akan meningkatkan derajat bagi sang pendusta.
Karena sang pendusta pernah mengaku pahlawan, maka untuk menjawab pertanyaan tersebut sang pendusta berandai-andai untuk berkompetisi dengan waktu. Apajadinya jika sang pendusta mempu menghentikan waktu satu menit saja ketika sedang bercumbu dengan-Nya. Betapa nikmat sang pendusta, jikalau dia mampu untuk melakukan itu setiap lima waktu.

Thursday, 2 August 2012

Pemikiran Mahasiswa ‘GILA’?


Panas terik di Yogyakarta tanggal 27 Maret 2009 tak dapat dirasakan oleh salah seorang mahasiswa tingkat 2 Universitas Negeri di Yogyakarta. Tepat jam 10 mahasiswa tersebut membentangkan spanduk di depan rektorat. Sepanduk tersebut bertuliskan:
‘Universitas Macam Apaan ini !?,
Mahasiswa sendiri di JAJAH pemerintah Sendiri?
Kalian (akademisi) Pernahkah Sadar akan Itu?
Begitu membingungkan bukan?, setiap orang yang melihat spanduk itu terperangah keheranan melihat tingkah laku mahasiswa tersebut. Apakah mahasiswa tersebut ‘STREZ’ akibat tekanan hidup sebagai mahasiswa ataukah memang benar pertanyaan-pertanyaan tersebut patut dilontarkan kita.
Hampir 12 jam mahaiswa tersebut membentangkan spanduk tersebut di depan rektorat, alhasil adalah mahasiswa tersebut diusir oleh Satuan Keamanan Kampus. Dengan dalih ingin berdiskusi dengan Pak Rektor, Mahasiswa ini tetap bersikukuh duduk dan membentangkan spanduk tadi. Namun hal tersebut sia-sia, karena mahasiswa tersebut tak punya daya untuk melawan 5 SKK yang mengusirnya dari depan rektorat.
Dengan penuh keingin tahuan, saya yang awalnya hanya berdiam diri duduk di trotoar akhirnya menghampiri mahasiswa tadi dan menanyakan semua maksud dari tulisan yang dia tulis. Usut punya usut ternyata pemikiran mahasiswa yang satu ini cukuplah logic, karena mahasiswa ini berfikir bahwa Program Kreativitas Mahasiswa yang dibuat oleh Pemerintah (DIKTI) merupakan salah satu belenggu yang dibuat untuk memperlemah kualitas Bangsa Indonesia itu sendiri. Kenapa?
                Karena, Lewat program tersebut setiap mahasiswa di Indonesia diiming-imingi uang yang lebih dari cukup (bagi mahasiswa) untuk tetap berkreatif. ‘Loh, itu kan bagus kan?’, kata aku keheranan.
‘Ada bagus, ada enggaknya mas’, jawab mahasiswa tersebut.
‘Coba jelaskan mas?’ lanjut saya.
‘Segi bagusnya adalah Mahasiswa Indonesia akan tetap di asah daya otaknya agar tetap dan selalu berfikir kreatif akan fenomena-fenomena yang dianggapnya sesuatu hal yang baru dan patut untuk di teliti. Hal jeleknya adalah MAHASISWA Indonesia hanya akan berfokus di masalah-masalah yang baru tidak memperhatikan masalah-masalah yang lama. Misalnya kita lihat dari segi pertanian, kita pasti telah sadar dan pasti mengakui bahwa tanah kita subur TAPI KENAPA banyak hasil pertanian yang impor dari luar negeri?, kenapa dana-dana itu tidak difokuskan untuk meniliti masalah-masalah yang muncul itu?. Dari bidang teknologi juga seperti itu mas, kita hanya mampu berkreasi tapi sangat susah untuk merealitasikan menjadi produk jadi (seperti kasus mobil SMK) dan masih banyak lagi mas.’
Dengan penuh heran, aku pun hanya berkata ‘Oooo seperti itu ya?’.
‘Mari mas’, kata mahasiswa tadi yang kemudian melanjutkan perjalannya.
Memangkah benar hal tersebut tang difikirkan mahasiswa tadi?, Kita sebenarnya di kurung di sebuah kurungan yang begitu besar sehingga ita tidak mampu merasakan kehadiran kurungan tersebut. Kita hanya mampu dan mengikuti pola yang dibuat oleh si pembuat kurungan tersebut (dalam hal ini pemerintah) tanpa menyadari efek jangka pajang yang dibuat oleh si pembuat kurungan itu.
‘Semoga kita dianugrahi berfikir seperti Mahasiswa ‘GILA’ tadi yaitu berfikir diluar pengekang-pengekang yang merampas kekuasaan akan diri kita sendiri’.

Saturday, 28 July 2012

Kapan kah kita berkuasa pada diri kita?


Pernahkah kita berfikir bahwa kita sebenarnya hidup di dunia ini tidak mempunyai kuasa sedikitpun atas semua yang melekat pada diri kita. Nama diri kita pun sebenarnya hasil dari consensus dari sebuah kesepakatan antara keluarga kita dan orang lain yang mengatakan dan mengesahkan bahwa anak manusia yang baru lahir ini kemudian diberi nama ‘paijo’ (misalnya). Dalam istilah jawa biasa disebut ‘ditengeri’. Hasil kesepakatan tersebut tertuang pada akta kelahiran kita.
Untuk mempermudah pemahaman tersebut maka dapat dimisalkan, suatu kita di tanya oleh seseorang, ‘Namanya siapa?’, lalu Anda akan menjawab ‘Nama saya Paijo. Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah mana buktinya yang menunjukan bahwa nama Anda adalah Paijo?. Anda pasti akan mengarah kepada Akta kelahiran maupun KTP (kartu tanda penduduk) sebagai salah satu jawaban yang akan member bukti bahwa nama Anda adalah Paijo.
Pengakuan Andapun tidak akan berguna ketika Anda ditanya seseorang tentang kondisi badan Anda (disaat wawancara kerja misalnya), kemudian Anda mengatakan bahwa diri Anda sehat, padahal Anda belum mempunyai surat keterangan dokter yang menerangkan bahwa Anda sehat. Hal tersebut berarti bahwa Anda tidak mempunyai kuasa sedikit pun terhadap kondisi kesehatan Anda. Sedangkan Pak dokter mempunyai kuasa sepenuhnya atas kesehatan yang Anda rasakan.
Begitu juga dengan kasus, ketika Anda menyebut diri Anda adalah seorang sarjana, maka Anda  harus menunjukan bukti berupa Ijasah. Lalu pertanyaan nya adalah kapan kita berkuasa atas diri kita?
Jawabannya adalah ketika kita dapat bersahabat dengan Sang Pemegang Kuasa di Alam semesta ini.

Bagaimana menurut Anda?

Tuesday, 24 July 2012

Tuhan, Kenapa sih aku berumur Pendek?


Apakah Anda tahu berapakali kita akan merasakan ulang tahun? Pasti Anda akan menjawab ‘wallahua’alam’ (hanya Allah yang tahu). Setiap makhluk yang hidup di dunia ini memang tak kan pernah tahu kapan kita mati, tapi yang jelas sebagai manusia biasa kita disediakan waktu + 63 tahun. Walaupun terkadang dapat lebih beberapa tahun ataupun kurang dari ini.
Namun, pernahkah Anda menyadari bahwa perbedaan jumlah umur manusia jaman dahulu jauh lebih lama dibandingkan manusia jaman sekarang. Pada zaman nabi-nabi kita percaya mereka berumur ratusan hingga ribuan tahun. Pertanyaannya adalah kenapa terlampau banyak jaraknya? Apakah Tuhan Semesta Alam sentiment terhadap manusia jaman sekarang, karena kebejatannya? Ataukah ini memang skenario-Nya saja?
Sebagai manusia biasa, kita hanya mampu meraba-raba dari setiap fenomena yang ada. Salah satu rabaan dari pertanyaan-pertanya itu adalah  pernahkah kita berfikir bahwa ‘manusia jaman sekarang ini (umat nabi Muhammad SAW) sebenarnya sudah diberi fasilitas yang sangat lengkap untuk dapat lebih cepat dekat dengan Tuhan Semesta Alam’. Kita tidak perlu mencari-cari mana yang namanya Tuhan Semesta Alam, karena hakikat dari MATI adalah menyatu kembali dengan Tuhan Semesta Alam (jangan diartikan dengan pengertian yang pendek).
Fasilitas-fasilitas yang dimaksudkan misalnya kitab Al-Qur’an ataupun satu bulan istimewa di setiap tahunnya dan masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang kita miliki. Oleh sebab itulah kita secara kodrati tidak perlu menghabiskan waktu begitu lama dalam menemukan Tuhan. Manusia zaman dahulu berumur jauh lebih panjang dari kita karena mereka mencari Tuhannya sendiri tanpa adanya fasilitas-fasilitas tersebut, sehingga tidak mempunyai rambu-rambu disetiap persimpangan jalan Tuhan.
Dari pemahan tersebut maka kita akan mengarah kepada sebuah ibarat yang mengatakan bahwa Manusia zaman dahulu lebih cenderung sebagai pembuka lahan hutan, sedangkan manusia zaman sekarang sebagai penikmat jalan tapak yang telah dibuat oleh manusia zaman dahulu. Maka dari itulah, mari kita bersyukur setiap hari karena Kita telah ditakdirkan sebagai manusia yang bergelimang failitas dalam mendekatkan diri kepada Tuhan Semesta Alam.
-Edisi khusus -  

Monday, 23 July 2012

Cinta-nya Bapak tukang ng-Rebus Kacang


Cikarang, 23 July 2012. Tampak seorang pria paruh baya  dengan wajah tertunduk lesu dengan sebatang rokok yang masih menempel di antara kedua jari kanannya berjalan menuju bapak-bapak penjual  kacang rebus. “Pak, beli 5000”, kata sang pria. Dengan penuh sungguh-sungguh, Bapak sang penjual kacang tadi mempersiapkan satu bungkus kacang dengan selembar kertas bekas. “ini mas, kacangnya”, kata si tukang kacang rebus. “terimakasih, Pak”, jawab dengan lirih oleh pria tersebut.
Dengan wajah masih di tekuk tanpa senyum, pria tersebut kemudia membuka buntelan kacang yang diperolehnya dari Bapak tadi. Tanpa banyak omong, pria tersebut kemudian duduk disamping grobak penjual kacang tersebut.
“Ssssttttttt, huhhhhh”, suara hempasan asap rokok dari sang pria.
“Kenapa mas?”, Tanya sang penjual kacang kepada sang pria.
“Ndak papa pak”.
Selang beberapa detik sang pria itu pun melanjutkan perkataannya.
                “Bapak punya anak istri?”
                “Alkhamdulillah punya mas”, jawab sang penjual kacang rebus. “Memangnya kenapa mas?”
                “Iya nih pak, ternyata kata cinta jaman dulu tuh akan basi juga ya pak”
                “Maksudnya mas?”
                “Iya basi, cinta kita akan basi karena telah lama usang dimakan waktu. Dulu saja pas pacaran, kata-kata indah selalu menghiasi kata cinta. Tapi sekarang setelah menikah, semuanya jadi hambar”.
“Walah mas-mas, jangan terlalu pusing mikirin cinta. Cinta itu bagaikan kacang rebus yang mas makan”.
“Loh kok bisa?”
“Iya lah mas, kita tidak akan pernah tahu apakah ada atau tidak untuk setiap ruang dimana kacang itu ditempatkan oleh Tuhan. Kita sebagai manusia hanya mampu berharap dan bersyukur disetiap kulit kacang akan selalu ditempati sepasang kacang yang berkualitas baik”.
“Memang ada hubungannya dengan cinta ya pak?”
“ada lah mas, cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Kita tidak akan dapat menolak dimana dia akan tumbuh. Kita hanya mampu bersyukur dan mengarahkan untuk setiap cinta yang dititipkan oleh Tuhan Semesta Alam agar bermanfaat bagi sesama manusia. Jika kita memaksakan cinta itu hadir maka hal yang timbul adalah ketidak normalan bagi setiap pelakunya. Misalnya saja kacang, kalau kacang sudah ditakdirkan dalam satu kulit berisi 2-3 biji maka rasanya akan jauh lebih enak dibandingkan dengan kacang variasi genetic yang berisi lebih dari 2-3 biji. Walaupun secara kuantitas biasanya lebih banyak. Porsi cinta akan jauh lebih baik jika kita mensyukuri disetiap kedatangannya. Seperti masnya tadi beli kacang rebus saya, itu adalah cinta Tuhan Semesta Alam dalam memberikan rezeki kepada saya dan keluarga saya. Jadi intinya, mas itu jangan selalu memperpusing apa itu cinta. Jalani saja kehidupan ini dengan bersyukur maka nikmatnya cinta akan tetap terasa disepanjang jalan hidup kita, InsyaAllah.
                “Terimakasih pak”, kata pria tersebut dengan menjabat tangan sang penjual kacang rebus. Dengan wajah mulai tersenyum pria tadi meninggalkan penjua kacang rebus.

Thursday, 19 July 2012

Apakah Bener ‘Putih itu Suci?’



                Sering terdengar di telinga kita bahwa bayi yang baru lahir bak lembaran kertas putih yang masih bersih. Belum ada coretan-coretan perjalanan hidup yang membawanya ke arah kesemrawutan dalam hidup. Hal itu disebabkan oleh pena serta kertas sang bayi masih ada di kedua orang tuanya yang setiap harinya keduanya membuat garis tepi agar tulisan sang anak akan rapi, mudah terbaca oleh sang pembaca nantinya yaitu malaikat pembaca amal perbuatan. Setiap tahun bayi itu akan tumbuh, tumbuh dan tumbuh sampai akhirnya tibalah di suatu titik (ketika baligh*) dimana diberi hak untuk memegang pena serta kertasnya sendiri untuk menuliskan semua alur cerita kehidupannya.
                Ada kalanya mereka menuliskan alur hidupnya sesuai dengan garis-garis tepi yang dibuat oleh keduanya, ada kalanya mereka menulis dengan asal-asalan (ming waton nulis). Hal yang lumrah oleh bayi itu adalah tidak menyadari kalau dirinya sudah membuat rusak tulisan dengan coretan-coretan yang tidak jelas. Ketika umurnya bertambah dewasa yaitu kurang lebih 20an tahun, bayi itupun menyadari bahwa tulisan-tulisan itu telah dinodahi oleh simbol-simbol warna yang dia torehkan ke dalam lembaran kertas tadi. Pertanyaan sang bayi adalah ‘Kenapa aku harus menorehkan warna-warna itu? Padahal sebenarnya akan mengotori kertas ku!’, kata sang bayi dengan nada marah. ‘Dari manakah aku mendapatkan warna sebanyak itu, padahal Engkau amanahi aku hanya satu pena?’, lanjut sang bayi. ‘krik,krik,Zzzzzzz,’ suara jangkrik serta suara dengkuran orang tidur menemani pertanyaan-pertanyaan bayi itu.
                ‘Itu adalah simbol-simbol dari semua dosamu’, kata Sang Pembuat Pena dan Kertas. ‘Kenapa Engkau ridhoi aku untuk menghancurkan garis-garis Mu, padahal nantinya utusanmulah yang akan membaca alur ceritaku?’ lanjut bayi itu. ‘Itu memang sengaja Aku torehkan lewat ujian-ujian yang Ku berikan, agar semua warna itu kamu kombinasaikan agar tercipta spectrum putih bersih’, Jawab-Nya. Setelah mendengar penjelasn tadi sang bayi-pun langsung tersungkur sujud dan mengatakan ‘Terimakasih Tuhan, Engkau telah mengenalkan Sang Pemuat Pena dengan aku lewat semua masalah yang Engkau ciptakan’.
                Sang Raja siang pun mulai mengintip dari balik awan, sang bayipun hanya tersenyum dan bersyukur bahwa hari ini dia masih diberi nikmat untuk menyusun warna-warna kehidupan.  
Note: ketika seorang manusia sudah dapat mengenal hak dan kewajiban serta dapat membedakan hal yang baik maupun buruk.

Silahkan berbagi dengan yang lain.

Sunday, 8 July 2012

Ajining diri ono ing lati,Ajining rogo ono ing sukmo


‘Anjing’, kata seorang supir angkutan kota yang mengumpat seorang pengendara motor didepannya. Dengan mata masih melotot supir itupun masih mengumpat, ‘Ancukkkkkk, minggir mas’. Akupun hanya mampu menyaksikan kejadian itu sambil menikmati enaknya tempe goreng dan tahu goreng yang ku beli 10 menit yang lalu, sewaktu aku berjalan dipinggiran kota Bekasi. Dengan baju dan celana lusuh serta tas kecil yang berisikan air minum aku hanya mampu berfikir betapa sangat ‘BUTA’nya mata kita terhadap kebaikan orang lain. Kita lebih terbiasa mampu melihat keburukan-keburukan orang lain.
                Kata yang terbesat sesaat aku mendengar kata-kata supir tadi hanyalah ‘betapa buruk ucapan sang supir. Aku tak akan mampu mengetahui apa alasan serta isi hati dari supir tadi, ‘apakah si pak supir lagi terburu-buru untuk mencari setoran, ataukah pak supir lagi terburu-buru pulang karena anaknya lagi sakit atau apakah kata-kata itu hanyalah kata seruan kepada sang pengendara motor agar secepatnya minggir. Aku tidak akan pernah tahu, apakah di lubuk hatinya ada sebersit sifat ‘amarah’ yang sedang bergejolak. Jika aku mampu untuk membaca sifat amarah  yang terlintas di hati pak supir, berarti aku juga seharusnya mampu untuk melihat betapa besar Anjing yang memperhatikan supir tadi. Tak teramati oleh pak supir tadi bahwa di seberang jalan tadi sebenarnya ada seekor anjing yang mengaku dirinya adalah seorang manusia. Paras yang rupawan serta penampilannya bak seorang terpelajar mampu menutupi kebejatan semua kelakuannya selama ini. Anjing itu sudah terbiasa untuk menyalak kapanpun dia mau, demi menunjukan jati diri seutuhnya bahwa dirinya adalah ‘bukan ANJING’. Namun hal itu tetaplah sia-sia, ketika ribuan kata-kata terucap hanya disetarakan dengan ‘gong-gongan’ setiap kali dia menyalak tanpa merubah bentuk dari segumpal daging yang berada di lubuk hati si anjing tersebut.
                ‘Apakah akan lebih baik jika ada anjing berhati manusia ataukah manusia berhati anjing?’

Ajining diri ono ing lati,Ajining rogo ono ing sukmo.

Wednesday, 27 June 2012

Manusia kelebihan Gula!, Siapa Takut?


Siapa sih anak Indonesia yang tak kenal dengan kata ‘Gula’. Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Gula paling banyak diperdagangkan dalam bentuk kristal sukrosa padat. Gula digunakan untuk mengubah rasa menjadi manis dari suatu keadaan makanan atau minuman. Gula sederhana, seperti glukosa (yang diproduksi dari sukrosa dengan enzim atau hidrolisis asam), menyimpan energi yang akan digunakan oleh sel.
Dari penjelasan singkat tentang gula di atas, berarti kita tahu bahwa setiap sel tubuh kita memperoleh energi dari glukosa.Tubuh kita secara alami telah dianugrahi sifat-sifat manis oleh Tuhan Semesta Alam. Sifat manis inilah yang sebenarnya dapat membuat kehidupan ini menjadi bermakna dan mendamaikan semua umat manusia. Kenapa dapat seperti itu?, pasti Anda bertanya-tanya.
Hal tesebut dapat terbukti dari fakta ‘semua manusia diciptakan untuk saling berpasang-pasangan’. Dari kata-kata tersebut terselip makna yang cukup luas yaitu setiap manusia dimuka bumi ini telah diciptakan untuk menemukan pasangannya. Tak dipungkiri lagi didalam menemukan pasangannya setiap manusia pasti mendahulukan penglihatan fisik daripada sifat aslinya. Banyak diantara kita yang tidak terima akan takdir akan orang lain seperti, ‘kok orang itu mau ya, sama ceweknya/cowoknya yang jelek itu?’. Dari fakta itu kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Tuhan Semesta Alam telah menyelipkan rasa manis untuk setiap manusia. Rasa manis inilah yang nantinya akan dirasakan serta dapat difahami oleh setiap pasangan.
   Rasa manis yang tersimpan didalam tubuh kita juga sebenarnya dapat membuat bumi kita ini menjadi damai. Rasa alami yang dibawa oleh gula yaitu manis dapat dipadukan dengan kopi yang rasanya sangat pahit, coklat, jahe yang rasanya pedas maupun asam jawa yang rasanya asam. Sehingga apabila ada seseorang yang berkomentar atau berbicara se-pahit kopi, se-pedas jahe, maupun se-asam, asam jawa sebenarnya secara alamiah tubuh kita dapat mengolahnya menjadi olahan-olahan yang lebih bermanfaat bagi orang lain. Hasil olahan yang dimaksud adalah doa yang bermanfaat bagi orang-orang yang membeci kita, solusi-solusi bagus yang diberikan kepada musuh kita maupun senyuman manis yang diberikan kepada musuh kita. Hal tersebut dapat tercapai jika kita tetap berfikir positif, bersikap tenang serta pasrah kepada Tuhan Semesta Alam akan semua hal yang terjadi dengan kita.
Dari pemahaman di atas, maka kita tidak akan pernah takut kalau kita mempunyai sifat gula yang berlebih yaitu manis.

Sunday, 17 June 2012

‘Apakah Kita Harus Berguru pada Semua Hewan-Nya?’


Tuhan Semesta Alam telah mentakdirkan,
Ikan mempunyai sirip untuk berenang,
Burung mempunyai sayap untuk terbang,
Lebah mempunyai madu,
Cicak mempunyai kaki yang dapat menempel dinding,
Nyamuk mempunyai jarum di mulutnya,
Laba-laba mempuyai benang terkuat,
dan masih banyak lagi keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki oleh setiap makhluk-Nya. Mereka tetap ikhlas akan semua kemampuan-kemampuan yang dimilikinya walaupun hukum rimba (yang kuat yang menang) tetap akan berlaku hingga akhir zaman nanti.
Pertanyaannya adalah, Kenapa Kita jarang Bersyukur kepada-Nya dan selalu merasa kurang, padahal kita telah diberi sesuatu yang paling special oleh Tuhan Semesta Alam yaitu akal pikiran. Apakah ‘Keikhlasan’ Manusia harus belajar dari hewan-hewan tersebut?

Tuesday, 12 June 2012

Ternyata Tidak Selamanya Harus Uang Kok!


Kata shadaqoh atau sedekah berasal dari kata ‘shadaqa’ yang artinya benar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata infak berarti pemberian sumbangan (harta) dsb (selain zakat wajib) untuk kebaikan, sedekah, nafkah. Jika kita selalu mengacu pada pengertian Kamus Besar Bahasa Indonesia maka implementasi urutan shadaqoh akan menjadi sempit, karena pengertian tersebut akan mempersempit cangkupan penerima infak. Jika kita mau menelusuri lebih jauhlagi dari pengertian infak maka akan difahami tentang cangkupan penerima infak. Cangkupan penerima infak sebenarnya sangatlah detail. Apabila cangkupan infak tersebut terlaksana maka akan terbentuk suatu keseimbangan dalam keluarga dan masyarakat, akibatnya adalah tumbuhnya rasa saling memiliki diantara sesama manusia. Efek jangka panjangnya adalah setiap manusia akan selalu bersyukur dan merasa tercukupi. Walaupun sebenarnya perlu dilakukan cara-cara yang baik pula dalam pemberian infak tersebut.
Sesuai dengan asal katanya maka, pengertian infak akan lebih luas disaat kita berfikir bahwa infak itu merupakan suatu tindakan yang berhubungan dengan orang lain dengan berlandaskan kebenaran iman, misalnya tersenyum, membantu orang lain dan sebagainya. Jika kita sudah mulai berlatih untuk itu, maka InsyaAllah kehidupan kita akan jauh lebih tenang dan lebih banyak orang lain yang bahagia karena keberadaan kita. 

Sunday, 10 June 2012

Ketika Api Lilin Memberi Makna Kehidupan


Iman adalah (n) 1. kepercayaan (yang berkenaan  dengan agama) kepada Allah, Nabi, kitab suci;  2. ketetapan hati; keteguhan batin; ke-seimbangan batin (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Jika kata iman di bubuhi awalan ke-, maka akan menjadi keimanan. Keimanan (n) adalah keyakinan; ketetapan hati; keteguhan hati (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Pengertian di atas bersifat abstrak, sehingga sebagian dari kita tidak dapat mengukur banyak, sedikit, tebal, tipisnya iman kita. Kita hanya mampu merasakan ketenangan ketika iman kita sedang berada pada puncak tertinggi. Efek ke tubuh kita adalah kita merasa bahagia dan selalu mensyukuri apa saja yang kita miliki. Iman bersifat fluktuatif, kadang berada di atas, kadang juga berada dibawah, tergantung ketahanan kita untuk menahan hembusan cobaan dari yang punya iman yaitu Tuhan Semesta Alam.
Api lilin merupakan salah satu perumpamaaan yang tepat untuk menggambarkan betapa lemahnya keimanan kita. Kita tidak punya hak sama sekali untuk mengatur kapan api kita menyala dengan terang. Kita hanya bisa mampu untuk berdoa agar nyala api tetap bertahan walaupun itu sangat kecil kuantitasnya ketika hembusan angin dari pemilik api menerpa. Kita juga tidak mempunyai hak untuk menyalakan atau memadamkan api kecil tersebut. (Agamaku-Agamaku, Agamamu-Agamamu).
Mari tetap berdoa, agar Tuhan Semesta Alam tetap mempertahankan nyala api, walaupun sangat kecil dan kita mampu berjalan di kegelapan dan kerasnya dunia ini.

Wednesday, 2 May 2012

‘Adakah Jalur Alternatif menuju surga ya?’


Sadarkah kamu kalau bumi itu pernah menjadi tempat rehabilitasi termegah umat manusia? Dan tahukah mengapa demikian?, Jika belum tahu juga jawabnnya, maka mari berimajinasi sejenak tentang manusia pertama yang ada di dunia ini yaitu Adam as dan siti hawa. Pada mulanya keduanya bahagia tinggal di dalam surga namun suatu ketika keduanya melanggar larangan-Nya, akibat dari peristiwa itulah keduanya diturunkan ke Bumi. Keduanya diberi amanah untuk tetap beriman, saling berbagi, berbuat kebajikan serta percaya akan adanya hari akhir.
Dari penggalan cerita yang sangat pendek di atas maka ‘Apakah kita cukup kuat untuk mempunyai kesombongan kepada-Nya, padahal kita terlahir di dunia ini berawal dari kehinaan dan mempunyai silsilah kesalahan pada masa lalu?’ padahal kita masih diberi amanah dari-Nya hingga hari akhir nanti. Amanah tersebut merupakan rambu-rambu yang akan menghubungkan antara bumi dan pintu surga. Jika kita tetap menaati peraturan-peratura tersebut, harapannya adalah kita dapat kembali lagi seperti nenek moyang kita dahulu yang berawal dari surga. Namun perlu diingat juga, amanah yang pertama yaitu keiimanan. Untuk amanah yang satu ini, kita hanya mampu menjaganya, karena keimanan kita dapat diibaratkan sebagai api kecil. Kadang si api tenang, kadang juga si api hampir pada, karena tertiup angin. Pemilik api itulah yang akan selalu menjaga dengan baik si api kecil itu.
Oleh sebab itulah mari kita tetap berdoa agar si api kecil yang ada di hati kita tetap terjaga oleh-Nya, sehingga kita tetap dijalur serta patuh terhadap rambu-rambu-Nya.

Sunday, 22 April 2012

Adaptasi adalah Anti-Vir paling Mutakhir Pengusir Virus ‘Galau’


Adaptasi adalah salah satu perilaku makhluk hidup untuk mempertahan diri dari perubahan lingkungan. Proses adaptasi akan dilakukan jika ada proses penekanan atau gangguan yang mengakibatkan munculnya rasa kekhawatiran misalnya kekhawatiran untuk hidup, mencari makan dan lain sebagainya. Semua makhluk hidup di alam semesta ini ditakdirkan untuk merasakan nikmatnya proses adaptasi. Jika kita diperbolehkan untuk meraba makna dari kata ‘adaptasi’ maka ekspektasi dari kata tersebut adalah kemampuan manusia yang diberikan oleh Tuhan Semesta Alam untuk bisa berubah kebentuk yang diinginkan oleh manusia tersebut maupun lingkungan. Didalam ilmu kimia biasa disebut like dissolve like , misalnya ada campuran air dan minyak, maka jika ada larutan x (mempunyai sifat seperti minyak) maka  larutan tersebut akan mudah bercampur atau larut dengan minyak. Begitupula manusia, jika seorang manusia ingin menjadi ahli motor maka beradaptasilah kepada orang-orang yang ahli motor, jika ingin menjadi dokter maka beradaptasi lah dengan dokter, jika kita ingin menjadi kekasih-Nya, maka beradaptasilah dengan kekasih-kekasih Nya juga dan lain sebagainya. Perilaku tersebut merupakan salah satu bentuk usaha diri kita untuk meraih semua mimpi-mimpi kita, keputusan tertinggi tetap ada pada-Nya dan yang pasti juga adalah keputusan-keputusa-Nya adalah keputusan terbaik bagi semua umuat-Nya, jika kita seorang guru, maka guru adalah keputusan terbaik-Nya untuk kita. Sujud Syukur dan Ikhlas akan membuat kita mudah untuk beradaptasi, dimanapun dan kapanpun.
Bagaimana Menurut Anda?

Sunday, 8 April 2012

Apa Jadinya Kalau Kita Menghitung Mundur Umur Kita


Pernahkah Kita Menghitung Mundur Umur Kita?. Umur atau usia setiap tahunnya akan semakin bertambah, dari mulai dihitung dengan satuan hari, bulan (biasanya untuk bayi), dan tahun (satuan usia setelah melewati 1 tahun kelahiran). Bergantinya tahun sebanding dengan bertambahnya umur kita. Banyak diantara kita selalu merayakan bertambahnya umur kita setiap tahun, dari pesta yang sederhana hingga paling meriah. Namun, Apakah ada yang Berubah Setelah Perayaan Itu? . Kebahagiaan, keceriaan,harapan-harapan, doa-doa baik serta hadiah pasti didapat dalam perayaan itu. Namun, apa jadinya kalau kita menghitung terbalik/mundur umur kita, atau dengan kata lain ‘kita mengingat sisa standar umur yang manusia miliki?’. Misalnya Jika Usia Anda sekarang 23 tahun, maka yang diingat adalah ada sisa umur 40 tahun (dari standar manusia 63 tahun). Jika proses tersebut terfikirkan maka proses instropeksi diri lah yang akan menjadikan kita lebih baik lagi, serta memanfaatkan sebaik mungkin di sisa umur kita. Tidak hanya Kebahagiaan, keceriaan,harapan-harapan, doa-doa baik serta hadiah yang kita peroleh, namun pemahaman hidup kita akan semakin mantap.
Apakah Anda Punya Pandangan yang Berbeda dengan Betambahnya Umur?

Friday, 6 April 2012

Kedewasaan Tingkat Tinggi


Setiap orang pasti mempunyai makna tersendiri akan istilah ‘kedewasaan’. Ada sebagian yang menganggap kedewasaan marupakan suatu tatanan perkembangan otak dan perilaku manusia yang telah mencapai taraf pemahaman batin, sehingga berimbas pada kemampuan penalaran dan munculnya sifat kehati-hatian dalam melakukan sesuatu. Akibatnya adalah orang tersebut akan mengetahui dan menyadari akan kepentingan individu dan kepentingan orang lain. Kedua sifat tersebut akan diperlakukan sewajarnya ketika kita telah beranjak dewasa. Kita akan tahu, kapan harus memakai kedua sifat tersebut. Kedua sifat tersebut sebenarnya sudah melekat erat dengan tubuh manusia, hanya saja dominansi atau kecenderungannya tergantung dari lingkungan yang mengajarinya. Selama lingkungannya mengajari keseimbangan antara kedua sifat tersebut, maka tingkat pemahaman serta sifat kedewasaan orang tersebut akan semakin baik. Penjelasan diatas merupakan salah satu pemahaman tingkat kedewasaan yang paling sederhana.
Taukah kamu kalau ada pemahaman ‘kedewasaan tingkat tinggi?’
Pemahaman kedewasaan tingakat tinggi berawal dari pertanyaan-pertanyaan sederhana yaitu ‘Saya itu Siapa?’, ‘Untuk apa kita Hidup?’ dan ‘Untuk Apa kita Hidup?’. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dibutuhkan suatu rambu-rambu dimana rambu-rambu tersebut yang akan menuntun langkah kita untuk menuju jawaban-jawaban yang kita maksud.
Tuhan Semesta Alam telah mempermudah diri kita untuk menemukan jawaban tersebut, karena Dia telah mengutus orang-orang pilihannya (misalnya Nabi) untuk membabat hutan (istilah gelapnya zaman jahiliah/kebodohan) untuk membuatkan jalan serta pemasangkan rambu-rambunya disetiap tikungan iblis (syeitan). Godaan akan bermunculan ketika manusia berada di tikungan iblis, apakah kita akan terlena mengikutinya ataukah kita akan bertahan dijalan-Nya.
Pemahaman rambu-rambu ini biasa orang awam sebut ‘Mematuhi perintah-Nya serta Menjauhi Larangan-Nya’. Jika pelaksanaan setiap rambu-rambu tersebut dapat berjalan dengan sebaik mungkin maka kita telah mencoba untuk menjadi manusia dengan tingkat kedewasaan paling tinggi.
Sekarang apa Makna Kedewasaan Menurut Anda?

Saturday, 24 March 2012

Anjing, Babi, Jancuk, Matamu, apalagi ya?


ANJING, merupakan salah satu dari kata umpatan yang sering terdengar dari masyarakat Indonesia. Terciptanya umpatan ANJING dimungkinkan karena anjing salah satu hewan najis bagi kaum muslim, adapun kata yang lain yaitu BABI. Lalu bagaimana dengan nasib JANGKRIK dan kata-kata umpatan lain seperti MATAMU, RAIMU, ANCUK. Kata-kata itu akan dianggap sebagai salah satu umpatan ketika kontrol hati kita sedang dikendalikan oleh syetan. Sifat syeitan tersebut akan membaur dalam makna yang kita ucapkan tersebut, dampaknya adalah kemarahan serta permusuhan. Namun sebaliknya jika kita control hati kita dengan cinta, pastilah kata-kata tersebut akan bermakna indah dan menjadi pelajaran-pelajaran yang sangat berarti dalam hidup kita.
Pernahkah Anda melihat keakraban dua orang manusia ketika diantara keduanya menyebutkan kata ANJING pada saat bertemu sapa.
Orang 1                                : Anjing, sekarang bagaimana kabar mu?
Orang 2                                : Alkhamdulillah sehat.
Keduanyapun melanjutkan percakapan mereka.
Betapa indah bukan keadaan dua instan tersebut. Keduanya sudah bertahun-tahun tidak pernah bertegur sapa karena kesibukannya masing-masing. Itu tandanya tidak semua kata umpatan bermakna umpatan bahkan semuanya akan bermakna indah ketika hati kita dikontrol oleh cinta-Nya.
‘Seburuk-buruk kata akan bermakna indah ketika hati ini telah dikontrol oleh cinta-Nya, bagaimana jadinya kalau kata-kata indah yang terucapkan dari mulut kita?’

Tuesday, 14 February 2012

Untung Isinya Bukan Kemasannya


Salah satu strategi perdagang yaitu ‘buatlah kemasan produkmu semenarik mungkin’. Strategi itu dilakukan untuk menarik konsumen agar membeli produknya. Penampilan fisik dari setiap produk sangatlah mendukung pada proses pemasaran. Produk akan lebih dipilih oleh pembeli ketika bentuk dari kemasan produk sangat menarik.
UNTUNG Tuhan Semesta Alam tidak menggunakan teori itu. Tuhan Semesta Alam menggunakan teori ‘pemilihan didasarkan pada kemurnian isi (hati), bukan pada kenampakan fisiknya’. Semoga kita dapat bersyukur kepada-Nya disetiap saat. 

Pilihan terbaik dari Tuhan Semesta Alam untuk Manusia


“KESAL” merupakan salah satu kata yang digunakan untuk mengekspresikan ketidak tepatan antara kenyataan dan harapan. Hal tersebut kerap kali terjadi kepada setiap individu. Mereka menganggap bahwa setiap kejadian di dunia ini akan membahagikan dirinya ketika angan-angan yang diharapkan (doa) terkabulkan oleh-Nya.kebanyakan orang mengganggap bahwa kenampakan fisik dari terkabulnya doa merupakan standar dari realisasi doa kepada-Nya. Jika kenampakan fisiknya tidak sesuai yang diinginkan berarti mereka menganggap doanya belum terkabul, bahkan ada juga yang menganggap doanya tidak terkabul. Dari pemikiran itulah maka timbul yang namanya ‘KESAL’.
Tuhan Semesta Alam itu akan memelihara langit, bumi, dan diantaranya. Oleh sebabitulah kenapa kita harus kesal terhadap suatu keadaan. Hal tersebut tidak perlu kita lakukan karena realisasi dari keadaan sekarang merupakan keadaan terbaik dari mata Tuhan Semesta Alam.Semoga kita menjadi makhluknya-Nya yang selalu bersyukur disetiap keadaan.
‘Bahagia di atas nikmatnya bararti bersyukur’
‘Bahagia di atas penderitaan berarti sabar’

Apakah benar manusia tercipta dari perselingkuhan Malaikat dan Iblis ya?


Hingga saat ini makhluk ciptaan Tuhan Semesta Alam paling sempurna adalah manusia. Manusia masih menempati peringkat utama dari makhluk-makhluk Tuhan lainnya seperti malaikat, iblis, hewan dan lain-lain. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya karunia-Nya yang hingga saat ini terkadang dilalaikan oleh manusia untuk bersyukur. Hal yang dimaksud adalah akal pikiran dan nafsu.
Kedudukan tertinggi dari manusia adalah ketika standarnya melebihi standar malaikat. Malaikat merupakan salah satu mahluk ciptaan-Nya yang selalu sujud dan rukuk kepada-Nya. Ibarat kata kehidupan malaikat bak ikan di dalam air. Tanpa air tersebut ikat tak akan dapat hidup (Jalaluddin Rumi). Sebagai makhluk-Nya, manusia ternyata deberi kesempatan untuk berada di tingkat seperti itu. Namun sebaliknya, manusia juga dapat berada diposisi yang paling rendah, bahkan lebih rendah daripada hewan, kapan hal itu terjadi ?. Hal itu terjadi ketika koneksi antara akal pikiran dan hati kita terputus, akibatnya sifat iblis yang menguasai tubuh kita yaitu nafsu. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang disayangi Tuhan Semesta Alam, sehingga kita tak pernah tersesat dikala kabut iblis menghalangi kita disetiap rambu-rambu yang telah dipasang oleh kekasih-Nya.

Thursday, 9 February 2012

On Line-nya hati dan pikiran kita


Kata mabuk selalu dikaitkan dengan minum-minuman keras dan obat-obatan terlarang, walaupun terkadang tidak juga semua orang memandang hal tersebut. Namun, setidaknya setiap orang tidak menyadari bahwa mabuk itu merupakan suatu hal yang sangat dekat dengan kita. Semua orang pasti jarang sekali sadar akan kedatangan mabuk. Hal tersebut dikarenakan masih terbelenggunya lingkaran pikiran kita akan kata-kata mabuk. Kata mabuk akan dipandang sangat berbahaya jika pengertiannya adalah ‘akibat dari tertutupnya tali antara hati dan pikiran kita oleh sifat-sifat syetan’.
Penutupan hati kita oleh syetan, mengakibatkan mendegnya koneksi antara hati dan pikiran, sehingga apabila kita dalam keadaan mabuk, setiap perbuatan tercela akan diupayakan semaksimal mungkin padahal hal tersebut tidak dibenarkan oleh hati kita. Oleh sebab itulah, dalam keadaan sadar atau tidak sadar kita sebenarnya dekat sekali dengan hal-hal seperti mabuk. Semoga Tuhan Semesta Alam selalu menjaga koneksi hati dan pikiran kita agar selalu On Line.

Tuesday, 17 January 2012

LONCENG PAK SAWAH

Sepenggal 'NOVEL Sepucuk Surat Untuk BapakKu' karya Alfan Danny Arbianto


‘Klonteng…klonteng…klonteng…”
Pagi itu mataku terbelalak ketika suara alarem dari pak sawah sampai ketelingaku. Diakhir akhir bulan Desember mulai sering terdengar suara gaduh itu dari luar kamarku. Suara gaduh itu berasal dari alat pengusir burung pak sawah. Sekarang ini pak sawah selalu datang lebih awal daripada biasanya. Biasanya pak sawah mulai beraktifitas setelah matahari keluar dari sarangnya, namun untuk akhir-kahir ini pak sawah selalu mendahului terbitnya matahari. Tak ada alasan lain bagi pak sawah untuk tidak berangkat lebih awal kecuali untuk menyelamatkan butiran-butiran padinya dari gangguan burung pipit yang selalu bertengger di setiap batang padinya.
Dengan otak masih dengan setengah sadar, ku mulai dekati jendela kamarku yang bertambah kusam karena jarang sekali dibersihkan. Keduanya bertambah buram ketika bercak-bercak debu mulai membekas bak tetesan air hujan yang kerap menguyur keduanya. Tanpa ada ragu sedikitpun untuk membuka keduanya dengan sepenuh tenaga.
‘Greg…’
‘wussssss’
Hempasan angin serta embun pagi terasa menusuk dihidungku. Denyut nadiku seolah-olah terhenti sesaat dengan datangnya dinginnya pagi. Aroma kesegaran serta indahnya kicauan burung mulai membawaku kepada kesadaran seutuhnya. Keadaan itu kerap kali terasa karena kamarku berada dilantai dua, dengan hamparan puing-puing material bangunan perumahan serta beberapa petak sisa sawah dari proyek pembangunan perumahan sehingga secuil suasana sawah yang membentang dibelakang kamarku masih terpampang indah setiap pagi. Tak tahu sampai kapan suara gaduh dari pak sawah bertahan dan akan tergantikan dengan kegaduhan mesin-mesih kendaraan bermotor serta perabotan rumah tangga lainnya yang memicu bunyi-bunyian yang akan mengganggu kenikmatan tidurku. Untuk saat ini aku hanya mampu berharap akan kesehatan pak sawah agar tetap membangunkanku ketika esok hari datang lagi.

Dari sela-sela debu yang menempel di kedua kaca jendela kamarku terlihat dengan jelas ribuan batang padi yang mulai menguning dengan dihiasi beberapa ekor burung yang beradu cepat dengan pak sawah. Bak seorang cow boy pak sawah dengan cekatnya menarik beberapa tali yang telah terpancang rapi di gubuknya ketika beberapa burung hinggap di setiap ranting tanaman padinya. Mulut pak sawah tetap membisu seribu kata, hanya kedua bola matanya serta kedua tanggnya yang selalu aktif ketika burung-burung datang. Sembari memperhatikan butiran padinya, terkadang pak sawah tak henti-hentinya memilah milah bibit tanaman yang akan ditanaman dimusim tanam mendatang misalnya jagung, kacang-kacangan atau sejenisnya.
Lonceng buatan pak sawah sangatlah sederhana, dengan bermodalkan kaleng bekas susu dan tali plastik, pak sawah mampu menciptakan alat yang paling sederhana untuk mengagetkan para burung ketika hinggap di batang-batang padi. Beberapa peneliti di bidang pertanian menyatakan bahwa cara tersebut sebenarnya kurang efektif karena untuk beberapa kali penarikan oleh pak sawah burung akan mampu merekam ritme yang sama ketika pak sawah mengulanginya lagi. Kemungkinan-kemungkinan tersebut nampaknya sudah dipertimbangkan oleh pak sawah, karena sepanjang saya mendengarkan lonceng yang dimainkan oleh pak sawah, menghasilkan ritme yang berbeda-beda disetiap waktu yang berbeda pula. Oleh sebab itulah yang menguatkan diriku untuk tetap mendoakan pak sawah tetap sehat dan tetap setia untuk membangunkanku di setiap pagi. Hingga saat ini akupun tak pernah tahu dan tak mau tahu darimana si pak sawah mendapatkan ide cerdas itu. Aku hanya berperasangka bahwa Tuhan Semesta Alam lah yang mengajari beliau akan khidupan sawah sebenarnya dan yang pasti lagi adalah aku tetap bisa bangun pagi karena lonceng pak sawah.
Suara lonceng pak sawah dan segarnya udara pagi tak terasa membawaku ke tingkat tertinggi dari sebuah kenangan akan seorang pria hebat yang sekarang telah bertambah lemah karena lelah akan kehidupan dunia yang telah dijalaninya bertahun-tahun. Pria ini telah mengenyam manis pahitnya kehidupan mulai dari tahun 1945. Tepat 5 hari sebelum kemerdekaan Republik Indonesia anak keenam dari pasangan Bapak Karyadi dan Ibu Khotijah ini dilahirkan ke dunia dengan bantuan seorang dukun bayi. Anak keenam dari pasangan pejuang kemerdekaan itu diberi nama Muhammad Yahya Maulana Yusuf Ibrahim. Betapa panjang nama yang disematkan kepada anak keenam mereka sepanjang harapan-harapan keduanya di kehidupan mendatang. Yusuf merupakan satu-satunya anak laki-laki yang dilahirkan dari kedua pejuang 45 tersebut. Keduanya menaruh jutaan mimpi kepada yusuf. Oleh sebab itulah ayahnya rela membanting tulang bekerja sebagai petani demi anaknya menjadi seorang guru ngaji.
Usamnya daun padi yang menguning bagaikan perubahan warna rambut yusuf tua yang sekarang menjadi bapakku, dari hitam legam menjadi putih karena dimakan usia. Masih terngiang ditelingaku ketika bapakku menemaniku ke Jogjakarta untuk bersekolah di salah satu universitas tertua di Indonesia.
“dek, jangan lupa solat, belajar ya”
“InsyaAllah Pak”, jawab ku sambil tersenyum.
Percakapn itupula yang membawa aku untuk mengenang betapa gigihnya perjuangan bapakku dalam mengantarkan aku ke kota Jogjakarta. Suatu kebanggaan tersendiri bagi bapakku yang hanya guru ngaji kampungan,mengantarkan anaknya di universitas terkemuka di Indonesia. Bapakku hanyalah seorang guru ngaji di sebuah desa kecil di kabupaten Tegal. Beliau selalu mengajariku akan kesederhanaan, keramahan, kemandirian serta ketaatan dalam beragama. Pelajaran-pelajaran tersebut belaiu sampaikan kepadaku setiap hari. Beliau tak mengenal kapan dan dimana harus mengajarkan nilai-nilai tersebut kepadaku. Yang ku tahu hanyalah bapakku pengajar paling setia disepanjang hidupku.
Seperti anak desa lainnya, harta yang paling berharga dari seorang bapak zaman dahulu adalah beberapa petak sawah. Sembari mengajar pendidikan agama islam, bapaku tak enggan untuk mengurus sendiri sawah pemberian kakekku itu. Beliau selalu mengurusnya ketika waktu mengajar telah usai. Tak ayal diakhir bulan selalu saja bapak membawa hasil panen apa itu berupa jagung, ketela ataupun hanya seikat kacang tanah yang masih mentah.
Masih lekat diingatanku ketika beliau mengajakku untuk ikut menanam jagung di sawah kakek. Beliau mengajariku akan pemilihan bibit jagung yang baik untuk ditanam, kapan waktu tanam terbaik untuk tanaman jagung dan berbagai macam ilmu tanam pada waktu itu. Walaupun kala itu aku hanya sebatas mendengarkan, tapi aku percaya pengenalan-pengenalan itulah merupakan salah satu cara bapakku untuk mengajarkan aku akan kehidupan sebenarnya.
‘klonteng…klonteng…klonteng…’
Akupun tersentak dan mulai berusaha untuk keluar dari lamunanku.
‘Alkhamdulillah, gumamku yang dihiasi dengan senyuman.
Bersambung….

Aku Mengerti Karena Anda

Idealnya, setiap manusia di dunia menginginkan perjalanan hidup yang lurus sesuai dengan ketentuan Tuhan. Mereka mengharapkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Jika gambar di atas diasumsikan sebagai titik-titik kedudukan manusia. Setiap titik mewakili kejadian-kejadian yang dialami manusia, maka jika seseorang berjalan dari satu titik ke titik yang lain yang dirasakan hanyalah garis lurus.
Kemampuan untuk menyadari akan terbentuknya suatu belokan dari sebuah perjalanan hidup sangatlah kecil, karena fokus perjalan manusia hanyalah satu titik. Satu titik di depan kita adalah future (masa depan), sedangkan satu titik di belakang kita adalah kenangan. Kedua titik tersebut akan selalu nampak lurus dihadapan kita. Kita sangatlah susah untuk mengontrol bahkan menyadari keterbelokan perjalan kita untuk menuju Tuhan Semesta Alam.
Cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengontrol kehidupan kita yaitu mintalah nasihat-nasihat kebaikan dari orang disekitar kita. Orang disekitar kitalah yang sebenarnya pemerhati perjalanan hidup kita sesungguhnya. Banyak sekali cara-cara Tuhan yang dititipkan kepada orang-orang disekitar kita untuk mengingatkan kesalahan kita.Hal tersebut seringkali kita abaikan. Adapun cara yang lain adalah introspeksi diri sendiri sesering mungkin. Cara ini merupakan salah satu cara yang cukup susah dilakukan, karena setiap manusia lebih sering melakukan pembenaran terhadap kelakukannya sehingga proses introspeksi seringkali terganggu.
Dengan kita menyadari betapa pentingnya orang lain terhadap kita, maka doakanlah orang-orang disekitar kita dengan sebaik-baiknya doa.

Kegagahan Ayam Jago

Didalam perkembangannya di masyarakat ayam jago merupakan salah satu symbol/icon betapa gagahnya seorang pria dihadapan seorang wanita. Hal tersebut sering dikaitkan dengan ‘jalu’ (dalam bahasa Tegal) yang bertengger di kedua kakinya. Seekor jago kurang pas jika tidak mempunyai sepasang ‘jalu’ di kedua kakinya. Ada daya tarik tersendiri terhadap lawan jenisnya. Semakin bagus bentuk dari ‘jalu’ tersebut semakin tinggi pula kedudukan ayam jago tersebut di lingkunganya. Jika seorang pria dapat dilambangkan dengan seekor ayam jago, berarti kepinteran (lebih mengarah keahlian) dari pria itulah yang menjadi ‘jalu’ di dalam hidupnya. Jalu tersebut akan berguna dalam kehidupan ketika dominansi ‘jalu’ tersebut dirawat serta disyukuri keadaannya. Dengan adanya proses bersyukur itulah biasanya timbul kepercayaan diri akan ‘jalu’ nya tersebut untuk membaikan orang lain, terutama lawan jenisnya (istrinya kelak).

Monday, 16 January 2012

mengapa harus AKU yang diKECILKAN

Seorang lulusan kimia FMIPA saat ini masih dipandang sebelah mata. Kebanyakan masyarakat Indonesia masih mengganggap bahwa lulusan kimia FMIPA lebih cenderung berhubungan dengan pendidikan/menjadi pengajar atau bekerja di laboratorium sebuah perusahaan. Pandangan tersebut akan hilang apabila sudah dihadapkan suatu realita yang mengatakan bahwa ada banyak lulusan kimia FMIPA yang menjadi pengusaha di bidangnya. Misalnya saja Prof. Bambang Setyaji, beliau adalah salah seorang lulusan kimia FMIPA yang menjadi wirausaha minyaj kelapa dan pengembangannya dan masih banyak tokoh yang lain. Oleh sebab itulah saya percaya dengan kemampuan saya sebagai seorang calon lulusan sarjana kimia akan dapat merubah Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. Setiap negara di dunia pasti menginginkan suatu perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan itu biasanya dilihat dari beberapa sektor diantaranya perekonomian, politik, sosial dan budaya. Namun dari keempat sektor itu yang paling sering dikaji dan dianggap sebagai sector pembangunan yang paling esensial di suatu negara yaitu sektor ekonomi. Pembangunan merupakan suatu proses dan usaha untuk meningkatkan kehidupan ekonomi politik, budaya, infrastruktur masyarakat dan sebagainya agar menjadi lebih baik dari sebelumnya (Mansour Fakih). Negara Indonesia termasuk salah satu Negara yang sangat berkembang dari semua sektor pembangunan. Perkembangan tersebut terkadang tidak diimbangi dengan peningkatan kemampuan dari masyarakat Indonesia, sehingga akan berdampak pada penurunan tingkat perekonomian pada sektor real akibatnya usaha kecil mandiri akan kalah saing dengan perusahaan luar negeri, karena kita tahu bahwa Indonesia sudah menerapkan sistem pasar bebas. Dengan adanya sistem perekonomian global yang dianut oleh Indonesia berimbas pada mudahnya pihak asing untuk mendirikan suatu badan usaha. Dengan adanya hal tersebut masyarakat Indonesia dituntut untuk meningkatkan kemampuannya agar bisa bersaing dengan pihak asing yang masuk ke Indonesia. Daya konsumsi masyarakat Indonesia sangatlah tinggi jika melihat sesuatu yang baru. Hal ini berdampak pada besarnya jumlah impor kendaraan bermotor produk Jepang, sehingga menyebabkan memenurunnya kualitas lingkungan pada daerah perkotaan. Salah satunya yaitu tingkat pencemaran karbon monoksida pada udara meningkat. Usaha kecil mandiri seperti pengrajin knalpot di Indonesia masih kurang berkembang sehingga eksistensinya di dalam dunia otomotif masih dikuasai oleh pihak asing seperti Jepang, China maupun negara-negara Eropa. Namun jika dilakukan pengembangan produk knalpot maka hasilnya akan lebih baik dari pada produk luar negeri. Pengembangan produk yang dilakukan misalnya penambahan bahan converter gas emisi CO menjadi gas CO2. Hal tersebut secara tidak langsung akan menguntungkan pihak pengrajin knalpot lokal dan juga akan menurunkan tingkat pencemaran gas CO di udara. Pencemaran udara ini merupakan penyumbang dari kerusakan bumi kita dan juga sebagai salah satu penyebab kematian bagi umat manusia. (Lutgens dan Tarbuck,1982) dan (Fardiaz, 1992) menyatakan bahwa udara tidak akan pernah bersih, beberapa gas seperti sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), dan karbon monoksida (CO) selalu dibebaskan ke udara karena senantiasa ada sumber polusi alami seperti asap dari letusan gunung berapi, spora 5 dari tanaman, asap dari kebakaran hutan dan sampah, gas-gas yang dihasilkan oleh pembusukan sampah. Selain itu, partikel-partikel padatan atau cairan berukuran kecil dapat tersebar di udara oleh angin, letusan gunung berapi, atau gangguan alam lainnya, seperti erosi tanah. Sumber polusi selain alami, yaitu karena adanya aktivitas manusia (Farida, 2004). Dari hasil observasi menyatakan bahwa di Indonesia, kurang lebih 70% pencemaran udara disebabkan oleh emisi kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor mengeluarkan zat-zat berbahaya yang dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap kesehatan manusia maupun terhadap lingkungan, seperti timbal/timah hitam (Pb), suspended particulate matter (SPM), oksida nitrogen (NOx), hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO), dan oksida fotokimia (Ox). Kendaraan bermotor menyumbang hampir 100% timbal, 13-44% suspended particulate matter (SPM), 71-89% hidrokarbon, 34-73% NOx, dan hampir seluruh karbon monoksida (CO) ke udara Jakarta. Dari banyak gas penyebab pencemaran udara yang berbahaya bagi kehidupan makhluk hidup salah satunya yaitu karbon monoksida (CO). Karbon monoksida (CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan menghalangi masuknya oksigen yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi karena gas CO bersifat racun metabolisme, ikut bereaksi secara metabolisme dengan darah. Seperti halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan darah (hemoglobin) : Hemoglobin + O2 –> O2Hb (oksihemoglobin) Hemoglobin + CO –> COHb (karboksihemoglobin) Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman kalau waktu kontak hanya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap manusia selama 8 jam akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Pengaruh karbon monoksida (CO) terhadap tubuh manusia ternyata tidak sama dengan manusia yang satu dengan yang lainnya. [2] Kadar dari gas karbon monoksida sebenarnya dapat dikurangi apabila diciptakan suatu alat yang nantinya akan mengubah gas karbon monoksida (CO) menjadi gas karbon monoksida (CO2). Gas karbondioksida kebebradaannya merupakan sumber dari penyebab adanya efek rumah kaca. Kadar CO2 di alam sebenarnya dapat dikontrol kadarnya dengan adanya pohon-pohon yang dapat melakukan proses fotosintesis sendiri. Karbon aktif merupakan salah satu bahan kimia yang jika dilakukan suatu impregnasi atau pengembanan suatu logam maka akan membentuk suatu katalis yang bersifat oksidarsi terhadap suatu senyawa kimia. [3] Dapat diketahui bahwa untuk mendapatkan suatu karbon alam tidaklah susah. Karbon alam dapat terbentuk dari tempurung kelapa, sekam padi, pelepah pisang dan masih banyak yang lain. Pelepah pisang sangatlah jarang digunakan di dalam membuat karbon alam, padahal kita tahu bahwa banyak pohon pisang tumbuh di segala tempat, seperti di sawah, tanah kosong, hutan, dan sebagainya. Padahal, akan lebih bermanfaat bila batang pohon pisang dapat kita gunakan, selain buah dan daunnya, daripada pohon tersebut ditebang dan batangnya disia-siakan. Berangkat dari hal itu saya ingin mencoba mengajak para pengrajin knalpot lokal untuk memanfaatkan batang pisang sebagai karbon aktif yang dapat digunakan sebagai katalis ataupun adsorben. Pembuatan karbon aktif dari batang pisang ini belum banyak dilakukan. Sedangkan penggunaan bahan baku lainnya seperti tempurung kelapa telah banyak dilakukan dalam skala laboratorium. Aktivasi karbon dengan bahan kimia paling umum digunakan dalam skala laboraorium. Namun, penggunaan bahan–bahan kimia seperti asam nitrat, zink klorida, dan kalium hidroksida dapat menimbulkan masalah baru (Husni, dkk., 2005). Katalis merupakan salah satu bahan kimia yang dapat mempercepat proses reaksi kimia. Salah satu reaksi kimia yang menggunakan katalis yaitu perubahan gas CO menjadi CO2. Pada umumnya reaksi ini berjalan pada suhu yang cukup tinggi sehingga dibutuhkan suhu lingkungan yang tinggi pula. Untuk menjaga keefisiensian penggunaan katalis banyak dilakukan impregnasi atau penempelan katalis pada karbon aktif atau sejenisnya. Jika proses impregnasi dimungkinkan pada karbon aktif maka proses pembuatan converter gas emisi CO pada knalpot dapat dilakukan. Hal tersebut akan berimbas pada produk knalpot yang dihasilkan akan berbeda dengan knalpot yang ada dipasaran sekarang. Proses impregnasi cukup mudah dilakukan dan dipelajari oleh semua kalangan dengan jenjang pendidikan yang relative rendah, misalnya lulusan SMP atau pun SMA. Impregnasi nikel klorida pada karbon aktif dilakukan dengan cara pembasahan ( dalam hal ini digunakan dua macam pelarut yaitu aquades dan etanol ) kemudian dikeringkan pada suhu 110°C dan dikalsinasi pada 400°C selama 4 jam. selanjutnya sampel direduksi dengan gas hidrogen pada suhu 4000°C selama 4 jam. Setelah dilakukan penempelan katalis pada karbon aktif kemudian dilakukan pembentukan converter dengan menggunakan prinsip Fixed-bed Reactor. Pertikel-pertikel katalis diletakkan dalam suatu tube silindris yang dilewati oleh gas CO dari emisi kendaraan. Tube berukuran diameter 6 cm dengan panjang 10 cm diisi dengan katalis dan ditempatkan pada knalpot. Jika proses pembuatan kenalpot di atas disosialisasikan kepada semua pengusaha knalpot lokal di Indonesia maka saya berasumsi bahwa knalpot yang dihasilkan akan dapat bersaing dengan produk luar negeri. Dengan adanya peningkatan kualitas produk maka akan meningkat pula tingkat penghasilan para pengrajin knalpot lokal. Adapun efek jangka panjangnya yaitu tingkat pencemaran gas CO di Indonesia dapat dikurangi dengan penggunaan knalpot pengconverter gas CO.

Si Baik dan Si Buruk

Cipta(an) adalah salah satu bentuk hasil karya yang dihasilkan dari kreatifitas sang pembuatnya (pencipta). Subject yang berperan pembuatan karya yaitu Tuhan dan manusia. Tuhan adalah Sang Maha Pencipta, sedangkan manusia adalah pemegang amanah dari sifat pencipta yang dititipkan oleh Tuhan. Secara garis besar, tujuan dari pencipta dalam berkreatifitas ada dua yaitu untuk memperbaharui karya sebelumnya dan untuk menggantikan karya sebelumnya.Dari dua tujuan tersebut menandakan bahwa didalam pembuatan sebuah karya selalu mengutamanakn perbedaan di dalamnya. Perbedaan yag muncul dari sebuah karya memberikan suatu efek memperbaiki atau melengkapi dari karya sebelumnya. Salah satu hasil karya manusia adalah hand phone. Fenonema pembaharuan karya dapat kita lihat dari semua bentuk Hand Phone yang telah beredar. Setiap perusahaan pembuat hand phone setiap tahunnya menciptakan beberapa serie. Peningkatan serie dari tahun-ketahun selalu mengalami peningkatan keunggulan, dari yang awalnya tidak dapat digunakan untuk memotret menjadi hand phone berkamera dengan pixel yang tinggi. Salah satu hasil karya Tuhan adalah manusia. Tuhan menciptakan manusia dengan segala perbedaannya. Perabaan makna dari sebuah penciptaan manusia yang berbeda-beda adalah upaya Tuhan untuk melengkapkan manusia di dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Ada dua jenis label yang disematkan oleh Allah kepada manusia yang telah diciptakaan-Nya yaitu baik dan buruk. Kedua hal tersebut dibuat oleh Tuhan agar manusia tersebut sling berfikir dalam mengintrospeksi diri. Si buruk akan mengistrospeksi dirinya ketika melihat si baik, begitu juga sebaliknya. Dari pemahaman itu, kita sebagai manusia yang mempunyai akal seharusnya berfikir akan perbedaan yang dimiliki kita agar tercipta suatu pelengkapan terhadap manusia yang lainnya. Jika hal tersebut sudah berjalan, maka kedamaian akan muncul kapanpun dan dimanapun.

Tuesday, 10 January 2012

Belajar Berkendara dari Bapak Penarik Becak (Belajar itu tidak harus identik dengan pelajaran-pelajaran yang susah)

Suatu ketika terjadi percakapan antara bapak penarik becak dengan penumpangnya. “tuh mas liat, kok ya gak mikir ya mas” “mikir apaan Pak?”, Tanya penumpang dengan perkataan spontan. “itu tuh liat”, sambil menunjuk ke arah pemuda yang sedang melaju tepat di belakang sebuah mobil. “loh, tidak ada yang salah kan pak, dengan mas-mas yang itu?”, Tanya si penumpang tambah heran dengan perkataan si Penarik Becak tersebut. “dengerin ya mas, kalau nanti mas nya itu naik sepeda motor atau semacamnya, dan berada persis debelakang sebuah mobil, mendingan posisi mas nya itu segaris dengan posisi kedua ban dari mobil tersebut, karena jika mas nya berada di tengah-tengah, ada kemungkinan terjerembak dalam kubangan jalan. Normalnya itu pengendara mobil akan lebih memilih jalan yang tidak berlubang.” “ow iya ya pak, terimakasih atas infonya pak”. Tanpa berkata-kata lagi keduanya tetap melanjutkan perjalanan hingga sampai tujuan.

Tuesday, 3 January 2012

Hidup itu ‘ADAnya APA’

Jika ada dua buah statement tentang kehidupan yakni ‘hidup itu apa adanya’ dan ‘hidup itu adanya apa’, maka kamu akan memilih yang mana?, Beberapa orang akan memilih ‘hidup itu apa adanya’, karena dari kalimat tersebut menandakan bahwa orang tersebut ‘nrimo’ (istilah bahasa jawa) dalam bahasa Indonesia berarti ‘menerima’. Mereka menerima akan apapun itu yang diberikan oleh Tuhan, apakah itu baik maupun buruk. Sebagian orang mengartikan kata ‘hidup itu apa adanya’ adalah salah satu tanda syukur keikhlasan kita kepada Tuhan yang telah memberikan apapun itu terhadap makhluk-Nya. Namun sebaliknya, menurut beberapa orang kata-kata ‘hidup itu adanya apa’, lebih bersifat konotatif yaitu dekat dengan materialistis. Hal tersebut merupakan salah satu pandangan yang sangat sempit karena jika kita fikir ulang kata-kata ‘hidup itu apa adanya’ maka akan muncul makna ‘KEIKHLASAN dengan rasa PESIMIS yang menyertai. Kata-kata tersebut cenderung menerima apa adanya, tanpa ada perlakuan yang lebih lanjut agar perbaikan hidup tetap berjalan setiap harinya. ‘Hidup itu adanya apa’,kata-kata tersebut memberikan pengertian bahwa hidup itu harus IKHLAS dan SELALU OPTIMIS. Misalnya, ada dua orang yaitu A dan B kita ingin memberi atau menginfakan harta kita untuk keperluan orang lain, maka A (hidup itu apa adanya) akan memberikan apa adanya, dan B (hidup itu adanya apa) akan mengupayakan apapun yang dimilikinya untuk diberikan kepada orang tersebut. Memang kalau kita fikir-fikir makna kedua kalimat tersebut sangatlah berdekatan, namun kita perlu ingat pula bahwa ‘mirip itu tak sama’